Rss Feed
  1. Salah satu pencitraan sebuah negara kini tidak hanya dilihat dari kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kekuatan militer. Olahraga pun menjadi sebuah pencitraan manis tentang bagaimana masyarakat dunia memandang sebuah negara. Sebuah pertanyaan besar akan penyebab kondisi keterpurukkan olahraga Indonesia agaknya sering terlontar dari benak pemuda-pemuda bangsa yang berniat untuk memajukan Indonesia.


    Pada dasarnya banyak hal yang menyebabkan keterpurukan kondisi olahraga Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika di beberapa daerah, minimnya fasilitas latihan serta pendanaan masih menjadi masalah klasik yang menghantui pembinaan-pembinaan olahraga.


    Ada sebuah hal unik yang dapat kita ambil jika olahraga mampu menganalogikan sebuah karakter bangsa.

    Minimnya prestasi olahraga kita saat ini ternyata berbanding lurus dengan minimya rasa nasionalisme bangsa Indonesia.


    Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia dirasa telah berkurang akibat pengaruh globalisasi. Arus informasi yang begitu luas secara tidak langsung telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia untuk materialisme. Beberapa kasus ditunjukkan oleh beberapa punggawa Tim Nasional PSSI yang menolak masuk Pelatnas akibat bayaran yang tak sepadan. Kasus kecil lain adalah tidak hafalnya beberapa punggawa Timnas akan 5 ayat dalam Pancasila. Contoh lain adalah maraknya kasus kepindahan atlet ke provinsi lain (saat PON 2008) demi mencari bayaran tinggi.


    Minimnya rasa nasionalisme yang melekat pada insan-insan olahraga Indonesia (bukan hanya atlet tapi hingga jajaran pengurus, bahkan beberapa elite politik) mengakibatkan turunnya daya juang para atlet. Sebagian insan olahraga tidak murni lagi memperjuangkan prestasi olahraga nasional untuk nama Indonesia, melainkan juga untuk hal-hal yang lain. Tak jarang kancah olahraga kita digunakan sebagai salah satu media kampanye seperti yang terjadi pada pilkada di beberapa daerah.



    Atlet dan Kesejahteraannya


    Tak jarang seorang atlet lebih memikirkan materi dalam setiap tugasnya. Kondisi tersebut tak sepenuhnya dapat disalahkan. Turunnya rasa nasionalisme atlet untuk mengharumkan nama bangsa bisa jadi muncul akibat kekecewaan atlet terhadap perilaku bangsanya sendiri yang tidak menghargai torehan prestasi mereka.


    Peribahasa habis manis sepah dibuang pun menjadi perasaan para atlet saat ini. Dilematika antara keinginan untuk mengibarkan bendera Indonesia di atas podium dengan permasalahan perut. Dalam setiap peluh latihan mereka pun muncul kekhawatiran akan nasib masa depan mereka saat tak mampu bersinar lagi.


    Isu untuk meningkatkan kesejahteraan atlet sebenarnya sudah digemborkan oleh Adhyaksa Dault pada tahun 2005 dengan program 1000 rumah bagi atlet berprestasi. Namun tetap saja isu tentang cara menyejahteraankan atlet tetap jadi permasalahan.


    Belakangan kini telah muncul sebuah paradigma bahwa ternyata pemerintah terlalu mudah memberikan atlet kail serta pancing tanpa memberitahu cara menggunakannya. Pemerintah mengklaim bahwa atlet kita kurang mampu mengelola kekayaan yang telah mereka dapatkan semasa bersinar.


    Permasalahan di atas pada dasarnya bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga tanggung jawab kita. Pertanyaan yang muncul saat ini adalah seberapa sering kita mengapresiasi dunia olahraga negeri ini?

    Seberapa sering kita menonton pertandingan olahraga secara langsung maupun tak langsung untuk mendukung Indonesia?


    Kesadaran akan kepedulian konkret untuk mengapresiasi dunia olahraga kurang terbangun di diri kaum muda. Sangat naif jika kita tak mampu belajar dari pendahulu kita para pemuda era perjuangan yang memang belum mampu berkontribusi besar untuk mengapresiasi dunia olahraga.


    Jika kaum belum mampu belajar untuk membangun hal itu, maka kemungkinan besar kita tetap tidak akan menghargai jasa para atlet masa depan Indonesia di masa yang akan datang. Bisa saja prestasi buruk olahraga Indonesia di masa kini dan masa datang akan tetap ada. Wajar jika adik-adik kecil kita yang tengah duduk di sekolah dasar hanya bercita-cita menjadi dokter, pilot, ilmuwan, dan profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan. Dan tak diherankan jika tak satupun dari mereka ingin menjadi atlet.


    Nama besar sebuah Negara tak hanya dilihat dari pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan militer. Nama besar sebuah Negara juga akan dilihat dari prestasi olahraganya. Begitu juga dengan Indonesia. Mari berpikir secara menyeluruh. Mulai saat ini, mari kita berpikir bersama memajukan olahraga Indonesia.

    (dimuat di Harian Global 8 September 2009)
    |


  2. Mari Lindungi Anak dari Tayangan Televisi

    Minggu, 06 September 2009

    Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra dan Khairil Hanan Lubis


    Peran televisi sebagai sarana hiburan murah meriah tak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi keandalannya.

    Secara teknis, pesawat televisi sangat mudah dioperasikan sehingga anak-anak sekalipun mampu mengoperasikannya tanpa harus menempuh pelajaran khusus. Hanya dengan menekan tombol atau mengoperasikan remote control, segala jenis tayangan mulai dari yang serius sampai yang santai terhidang di depan mata.

    Semakin lama, popularitas media televisi pun semakin fantastik. Populasinya berkembang kian pesat. Setiap malam, ia muncul pada setiap rumah dan mampu menghimpun para penghuninya untuk duduk santai di depannya sambil istirahat.

    Televisi merupakan medium komunikasi massa yang paling akrab dengan masyarakat karena kemampuannya mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu. Pesan-pesan yang disampaikan televisi juga mudah diserap oleh pemirsa karena tampilannya yang berupa audiovisual. Apalagi di Indonesia, negara yang tingkat buta hurufnya masih tinggi, media televisi memegang peran besar dalam penyebaran informasi.

    Konsumen terbesar media televisi sendiri adalah anak-anak. Sebagai konsumen terbesar dan bersifat heterogen, sudah sepatutnya anak-anak mendapat perhatian serius. Apalagi ditinjau dari segi ekonomi, komunitas anak-anak bukanlah penonton pasif sehingga layak menjadi target siaran dan eksistensinya harus diperhitungkan.

    Pada umumnya anak-anak senang sekali menonton film-film yang menampilkan aksi atau film-film yang menampilkan gerakan-gerakan cepat disertai oleh efek suara yang dahsyat. Semakin cepat gerakan-gerakan yang ditampilkan film, semakin tinggi tingkat antusias anak-anak menontonnya. Itulah sebabnya mereka senang sekali menonton film-film kartun yang banyak menampilkan gerakan-gerakan spektakuler. Hal inilah yang dapat memacu perilaku agresif anak-anak (Huton at al., 1990)
    Ada dua umpan yang dilempar oleh produser agar film produksinya laku ditonton. Seksualitas dan kekerasan.

    Orang tua cenderung mencekal yang pertama, tapi jarang atau tidak sama sekali untuk yang kedua. Padahal "bahayanya" tak kalah serius.

    Film-film yang menampilkan kekerasan, hidup bebas, menebarkan ketakutan atau unrealistic programs tentu sangat berpotensi merusak karakter anak-anak, termasuk sebagian film kartun yang juga menampilkan kekerasan dan ketakutan yang dikemas dalam bentuk komedi.

    Patut dicermati bahwa anak-anak biasanya cenderung senang menonton tayangan komedi apapun bentuknya karena komedi dikemas dalam bentuk yang sangat menarik perhatian mereka. Dalam hal ini, komedi misteri biasanya ditampilkan dengan bumbu humor, sehingga efek kengeriannya berkurang. Tetapi, efek kerusakan penalaran lah yang ditimbulkan dan itu akan lebih parah. Penipuan memang seringkali datang laksana malaikat terang.

    Pada kasus lain, roh halus biasanya diposisikan sebagai makhluk gaib yang menolong manusia dari tindakan kejahatan dengan berperan sebagai peri atau bidadari yang banyak membumbui sinetron kita. Mungkin awalnya bertujuan untuk menggugah emosional orang-orang yang terpinggirkan. Bahwa masih ada 'makhluk' yang peduli dengan nasib mereka yang terpuruk karena perbuatan sesamanya. Sungguh ironis, ketika manusia tak lagi menemukan jalan keluar dalam permasalahan hidupnya, maka anak-anak akan menganggap roh halus dapat menjadi penolong alternatif yang setia dan tangguh.

    Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap pertumbuhan dan perkembangan mental anak jika tokoh-tokoh yang menjadi idola dan panutan mereka adalah makhluk-makhluk halus. Tidak lagi Bung Karno, Bung Hatta, atau tokoh-tokoh hebat negeri ini lainnya.

    Disinilah letak bahayanya tontonan sejenis ini, menuntun anak-anak kepada pemahaman yang keliru tentang kenyataan hidup. Jika persepsi keliru tersebut terus terpatri dan mengendap di dalam pikiran anak-anak, hidup mereka akan semakin jauh dari rasionalitas dan realitas hidup yang sebenarnya.

    Tidak hanya kekerasan, pornografi atau misteri, tayangan-tayangan sinetron kita juga semakin memuakkan dan tidak berkualitas. Isinya hanya manajemen konflik antar tokoh, mengumbar hedonisme, bahkan mendoktrin kita untuk menerima dengan gamblang pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

    Doktrin sinetron yang tanpa ampun tersebut pasti juga menyerang anak-anak kita yang masih dibawah umur karena jam tayangnya yang merupakan prime time sehingga jutaan anak di seluruh Indonesia, secara bersamaan disiksa moral dan mentalnya dengan pengaruh-pengaruh atau doktrin yang disebarkan sinetron yang hanya mementingkan rating. Padahal, rating hanya mementingkan profit tanpa memikirkan tanggung jawab moral kepada penonton di bawah usia. Media televisi seolah lupa salah satu fungsi media yaitu memberi edukasi.

    Hari Anak Nasional yang jatuh 23 Juli lalu tentunya bisa menjadi refleksi bagi kita semua agar mewaspadai ancaman tayangan televisi terhadap anak. Mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai moral dan agama tentu bisa menjadi jalan keluar dari masalah ini.

    Keluarga memiliki peran yang besar disamping sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai baik dan buruk kepada anak-anaknya. Orang tua harus ketat mengawasi tontonan bagi anak seperti harus selalu ada yang mendampingi anak ketika menonton televisi atau yang lebih ekstrim membatasi tayangan-tayangan tertentu saja yang boleh ditonton anak.

    Pemerintah juga tentu bisa mengubah keadaan dengan melakukan pembatasan atau dengan menghadirkan satu jenis sinetron yang edukatif, informatif dan menghibur. Terus terang, sangat dimaklumi jika kita merindukan sinetron yang baik seperti Keluarga cemara. Yang mengajarkan kepada kita kesahajaan, kesabaran, dan kebersamaan dalam keluarga. Selamat Hari Anak!

    (dimuat di Harian Global, 25 July 2009)
    |


  3. Tempat Tanpa Nama

    Sabtu, 05 September 2009

    Kaki ini ingin terus melangkah
    Pergi sejauh mungkin….
    Kaki ini mencobanya
    Dan ia bisa
    Membawa jasadku ke tempat tanpa nama.
    Tapi, dimana nyawaku???
    Dimana hatiku???
    Dan dimana rasaku???
    Aku tak pernah bisa membawa mereka pergi.
    Mereka masih disana.
    Tapi kaki ini tak mungkin lagi kembali kesana
    Karena tempat tanpa nama tak mengizinkannya membawa jasadku
    Aku hanya bisa menunggu
    Menyusul mereka menunggu jasadku ke tempat tanpa nama
    Atau menunggu tempat tanpa nama mengizinkan kaki ini membawa jasadku kembali kesana
    |


  4. Karena Aku Wanita

    Jumat, 04 September 2009

    Aku

    Siang itu kamu duduk di depanku. Aku melihat matamu. Aku kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disana. Cahaya yang selama ini membuatku ikut bersinar. Kamu sedang menceritakan sesuatu, tapi aku tak mendengarnya. Karena aku tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kau pilih untuk selalu menemanimu.
    Aku membiarkanmu terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritamu. Aku terlalu sibuk menatap wajahmu. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungmu masih sekecil dulu, bibirmu masih tipis, ada satu jerawat baru di dahimu. Jerawat itu eksotis, aku menyukainya. Tapi ada yang beda dengan matamu, sendu….sayu….layu.
    Mata itu mulai memerah, tapi aku tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mata itu. Sebentar lagi…di hitungan ke lima aku yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatimu, juga hatiku. Aku mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata aku salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganku samapai ke angka satu.
    Aku tak tau apa yang membuatmu menangis, karena aku memang tak ingin tau. Yang ada di benakku saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanmu. Aku membiarkan pundakku basah karena air matamu.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” katamu. Tatapan matamu seakan menanyakan pendapatku. Kalau aku boleh teriak dan berkata jujur, aku pasti dengan cepat menyetujui keputusanmu. Karena itu akan baik buatku. Tapi dengan terpaksa, aku berpura-pura menanyakan alasanmu.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabmu.
    Mendengar itu, terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranku. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinku ingin bertanya apa maksudmu. Tapi kuurungkan niatku untuk menanyakan itu. Aku yakin kau sudah menjelaskannya tadi. Saat aku sibuk menatap wajahmu.
    Kau memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengannya. Dia…yang membuatku selalu cemburu. Jujur…aku sangat bahagia mendengar keputusan itu, tapi aku menderita melihat raut wajahmu.
    Aku memang mencintaimu, sejak dulu… dan hanya kamu. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan aku memilih untuk mencintaimu. Sekarang, kau tak lagi bersamanya. Tapi aku tetap tak berani menyatakan perasaanku. Aku takut kecewa karena melihatmu kecewa.

    X X X
    Aku

    Namanya Della, ia sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama. Dia lemah, penakut, cengeng, dan sangat sensitif. Aku selalu melindunginya, menjaganya, dan selalu ada untuknya. Aku mencitainya sejak dulu…sejak kami masih kelas dua SMP. Sejak aku dihianati pacar pertamaku. Tapi ia tak pernah menyadari itu. Aku sering mengatakan “I Love you” begitu juga dengan nya. Tapi maksudnya berbeda dengan maksudku. Aku mencintainya lebih dari yang dia tau.


    Della

    Siang itu aku duduk di depanmu. Kau melihat mataku. Aku tahu, kau kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disini. Cahaya yang selama ini membuatmu ikut bersinar. Aku sedang menceritakan sesuatu, tapi sepertinya kau tak mendengarkanku. Karena kau tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kupilih untuk selalu menemaniku.
    Kau membiarkanku terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritaku. Kau terlalu sibuk menatap wajahku. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungku masih sekecil dulu, bibirku masih tipis, ada satu jerawat baru di dahiku. Jerawat itu eksotis, kau menyukainya. Tapi ada yang beda dengan mataku, sendu….sayu….layu. Itulah yang kurasakan ada dalam pikiranmu.
    Mataku mulai memerah, tapi kau tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mataku. Sebentar lagi…pikirmu, di hitungan ke lima kau yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatiku, juga hatimu. Kau mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata kau salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganmu sampai ke angka satu.
    Kau tak tau apa yang membuatku menangis, karena kau memang tak ingin tau. Yang ada di benakmu saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanku. Kau membiarkan pundakmu basah karena air mataku.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” kataku. Tatapan mataku seakan menanyakan pendapatmu. Kalau kau boleh teriak dan berkata jujur, kau pasti dengan cepat menyetujui keputusanku. Karena itu akan baik buatmu. Tapi dengan terpaksa, kau berpura-pura menanyakan alasanku.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabku.
    Mendengar itu, aku tahu terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranmu. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinmu pasti bertanya apa maksudku. Tapi kauurungkan niatmu untuk menanyakan itu. Kau yakin aku sudah menjelaskannya tadi. Saat kau sibuk menatap wajahku.
    Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Dia…yang membuatmu selalu cemburu. Jujurlah…kau pasti sangat bahagia mendengar keputusan ku, tapi kau menderita melihat raut wajahku.
    Kau memang mencintaiku, sejak dulu… dan hanya aku. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan kau memilih untuk mencintaiku. Sekarang, aku tak lagi bersamanya. Tapi kau tetap tak berani menyatakan perasaanmu. Kau takut kecewa karena melihatku kecewa.

    X X X

    Aku

    Sejak kau tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku mulai melihat cahaya itu dimatamu. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kurasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Kau menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya kau lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Kau hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutmu. Aku diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawaban yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Kau hanya tersenyum manis mendengar jawabanku. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan aku selalu ada untuk kamu.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali aku merangkulmu, mengacak rambutmu, dan mencubit pipimu.
    Della…seandainya kamu tahu apa yang kurasakan. Seandainya kita bisa bersama. Tapi takdir akan selalu menentang kita. Aku tak siap kehilanganmu, karena kenyataan ini akan menjadi tamparan berat buatmu. Biarlah aku pada rasaku sendiri dan aku cukup bahagia dengan keadaan seperti ini.
    X X X

    Della

    Sejak aku tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku yakin kau mulai melihat cahaya itu dimataku. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kita rasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Aku menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya aku lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Aku hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Kau diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawabmu. Aku tersenyum manis mendengar jawabanmu. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan kau selalu ada untukku.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali kau merangkulku, mengacak rambutku, dan mencubit pipiku.
    Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak dulu, jauh sebelum kau merasakannya. Tapi aku tak mau melawan takdir, kita pasti akan kalah. Aku pun memutuskan untuk mengikuti takdir. Mencoba untuk mencintai orang lain. Dan aku selalu gagal untuk mencintai mereka. Aku tidak bisa mencintai mereka. Karena aku mencintaimu.
    X X X

    Aku

    Pukul 6 pagi kau kerumahku. Membangunkanku dari tidur yang baru kumulai pukul 5 pagi. Berat rasanya untuk membuka mata yang baru saja terpejam. Berkali-kali kau teriak, mengguncang-guncang badanku hingga memukulku dengan bantal. Aku sadar, tapi aku malas membuka mata. Kau pun menyerah dan memilih ikut merebahkan badan disampingku. Dalam hati aku tersenyum.
    Sejenak aku tak mendengar suara. Namun tiba-tiba kau memelukku dari belakang. Aku diam saja. Menikmati kehangatan itu. Semakin lama pelukanmu semakit erat. Jujur, aku sedikit sesak, tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap lekuk tubuhmu yang menyatu denganku. Aku merasa sangat hangat.
    Perlahan, kau menciumi leherku, pipiku, hingga bibirku. Aku terkejut, tapi tetap diam. Di satu sisi aku bertanya-tanya ada apa denganmu? Tapi di sisi lain, aku menikmati itu. “Aku mencintaimu,” bisikmu di telingaku. Sontak aku membuka mata dan bangkit dari tidurku. Dengan wajah kaget aku masih memandangmu heran. “Maafkan aku, tapi aku memang mencintaimu, aku mencintaimu seperti ibu mencintai ayah,” sambungmu. Aku masih diam. Belum bisa berkata apa-apa.
    “Aku enggak pernah bisa mencintai orang lain, aku cuma mau kamu,” ujarmu dengan air mata yang berlinang. Aku memelukmu, tak mau melihatmu menangis lagi. Jika aku bisa, aku akan selalu ada untuk kamu. Jika aku bisa, aku pasti terus jaga kamu. Jika aku bisa, aku mau jadi suamimu. Aku mau mencintaimu seperti Ibu mencintai Ayah, atau seperti Ayah mencintai Ibu. Tapi sayang…aku enggak bisa, dan tidak akan pernah bisa. Karena aku juga wanita, sama seperti kamu.
    |


  5. Tulisan ini berawal dari beberapa artikel yang penulis baca tentang minimnya jumlah produksi buku di Indonesia. Tak jarang, hal tersebut selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah jumlah produksi buku di Indonesia hanya bergantung pada minat baca masyarakat?


    Penulis jadi teringat akan ucapan seorang senior yang menyatakan bahwa orang yang gemar menulis, pastilah sering membaca. Tetapi, orang yang gemar membaca belum tentu bisa menulis.


    Masyarakat yang gemar menulis secara otomatis akan sering membaca dan pasti akan membutuhkan buku lebih banyak. Tak hanya membutuhkan, bahkan menghasilkan. Logikanya, untuk menulis satu buku, paling tidak seorang penulis membutuhkan lima buku referensi, pembanding, atau bahan bacaan.


    Mohammad Diponegoro menyatakan bahwa tugas penting seorang pengarang atau penulis adalah membaca. Kegiatan itu diperlukan untuk membuka diri terhadap cakrawala dan pikiran baru.


    Selama ini masyakat Indonesia dalam bidang perbukuan lebih banyak berperan sebagai konsumen saja. Hanya menjadi pembaca. Padahal, untuk meningkatkan minat baca, masyarakat Indonesia juga harus didorong untuk memiliki keterampilan menulis.


    Menurut catatan terakhir, Indonesia yang penduduknya 250 juta jiwa hanya menerbitkan 8000 buku. Jumlah yang cukup memalukan jika dibandingkan dengan Vietnam yang mampu menerbitkan 15.000 buku dengan jumlah penduduk yang hanya 80 juta jiwa.


    Angka tersebut jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jepang. Setiap tahunnya, Jepang mampu menerbitkan 60.000 judul buku, sementara Inggris jauh lebih besar lagi, mencapai 110.155 judul buku per tahun. Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku, belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan).


    Perbedaan jumlah produksi buku yang sangat jauh tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan budaya orang Indonesia dan Negara lain. Masyarakat di luar negeri sudah memasuki budaya menulis, sedangkan di Indonesia masih sibuk dengan budaya membaca.


    Saat ini, masih sangat sulit mencari penulis di Indonesia. Padahal, seharusnya menulis buku bisa dilakukan oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan dosen. Namun, tak banyak dari kalangan tersebut yang mau menulis. Alasanya cukup sederhana, "tak punya banyak waktu".


    Hambatan lain yang menyebabkan kalangan dosen enggan menulis adalah minimnya imbalan menulis yang diterima penulis. Kegiatan atau kebiasaan menulis tidak menjadi bagian kegiatan dosen di perguruan tinggi. Kalaupun ada, hanya beberapa saja. Sementara di luar negeri, kegiatan menulis sudah menjadi bagian dari kegiatan seorang dosen sehari-hari.


    Karena sedikitnya orang Indonesia yang mau menulis, sampai saat ini penerbit di Indonesia masih banyak melakukan proses jemput bola untuk mendapatkan stok tulisan yang akan diterbitkan menjadi buku. Karena tersedianya sebuah tulisan untuk penerbit sangat penting dalam menjaga kelangsungan produksi buku di perusahaannya.


    Untuk memenuhi kebutuhan produksi, penerbit harus berburu buku-buku terjemahan dengan memasang agen pencari penulis buku atau literary agent di luar negeri. Di Indonesia, profesi literary agent sendiri masih langka.


    Literary agent menghubungkan antara penulis dan penerbit. Atas usahanya, mereka mendapatkan komisi sekitar dua hingga 2,5 persen dari nilai jual tulisan pada penerbit.


    Selama ini, parameter yang digunakan untuk mengukur minat/budaya baca adalah jumlah tiras seluruh surat kabar per kapita penduduk dan jumlah judul buku baru yang diterbitkan. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan UNESCO Statistical Year Book 1993 yang dilansir Tiras 10 Mei 1996 berjudul Indonesiaku Kurang Buku menunjukkan tiga kenyataan. Pertama, 84 persen penduduk kita melek huruf padahal rata-rata Negara berkembang hanya 69 persen.


    Kedua, jumlah tiras seluruh surat kabar hanya 2,8 persen dari jumlah penduduk. Indeks minimal UNESCO sekitar 10 persen sementara di negara industri mencapai 30 persen.


    Ketiga, jumlah buku baru yang diterbitkan 0,0009 persen dari total penduduk yang artinya 9 judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. Negara maju 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187).


    Dari data statisitik di atas dapat kita temui sebuah kenyataan, melek huruf ternyata tidak selalu mempunyai korelasi yang positif terhadap tingkat perkembangan jumlah buku dan media baca lainnya. Menanggapi kenyataan ini, Ignas Kleden (dalam alfons, 1999; 9) membedakan melek huruf menjadi tiga kategori.

    Pertama, mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca tetapi secara fungsional dan secara budaya sebetulnya buta-huruf. Kedua, mereka yang tergolong membaca dan menulis adalah sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi sangat kurang sekali menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi melalui tulisan.



    Menulis Butuh Latihan


    Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk menjadi penulis, seseorang harus memiliki bakat khusus. Namun, banyak penulis yang tida sepakat akan anggapan tersebut. Menurut William Faulkner, penulis Amerika, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen yang terkait dengan faktor bakat.


    Sedangkan menurut Putu Wijaya, salah satu penulis ternama Indonesia, faktor bakat berpengaruh tak lebih dari 5 persen. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.


    Pada dasarnya, menulis bukanlah hal yang sulit. Setiap orang, terlebih yang pernah mengenyam pendidikan, pastilah pernah bahkan sering menulis. Mungkin awalnya hanya menyalin catatan dari guru atau dosen, menulis catatan harian, selanjutnya akan mengarang, menulis opini, hingga membuat sebuah buku.


    "Menulis itu ibarat ngomong, orang ngomong adalah orang yang tengah mengatur kata-kata., ekspresi, dan melihat efek. Kata-kata disetel sedemikian rupa agar cocok dengan lawan bicara. Ekspresi dikemas begitu rupa supaya orang tahu kita tengah bersusah payah menampakkan keseriusan. Setiap habis kita ngomong. Kita suka melihat apa efeknya. Jika orang melengos, kita merasa gagal. Berbeda dengan lawan bicara yang langsung mengiba-iba meminta kita terus ngomong. Ini artinya, tiap kata yang keluar dari mulut kita, berkenan. Ekspresi kita saat membawakan kata-kata, pas dengan greget yang dia mau." Itulah yang diungkapkan Septiawan Santana K dalam bukunya yang berjudul Menulis Itu Ibarat Ngomong.


    Walaupun menulis itu ibarat ngomong, tetap butuh latihan untuk membuat orang ingin terus membaca tulisan kita. Budaya menulis belum begitu digalakkan di Indonesia. Namun tak ada salahnya jika kita mulai membudayakan menulis mulai dari diri sendiri.

    dimuat di Harian Global (3 Agustus 2009)
    |