Rss Feed
  1. Pada Suatu Pagi

    Sabtu, 25 Agustus 2012


    Sudah kuputuskan untuk menolak memberi tahu apapun tentang aku. Karena betapapun jelas aku deskripsikan, kau tak akan bisa paham. Kau tak merasakan, karena kau bukan aku.

    Ada memori yang pernah kita bagi, ada kenangan yang pernah kita ceritakan, ada rasa yang pernah kita utarakan. Tapi kali ini, aku memilih diam. Menyimpan rasa di tempat paling aman. Menahan setiap kata yang bisa saja keluar tanpa sengaja.

    Kalau boleh jujur, aku ingin sekali kau bisa ikut merasa, agar aku punya teman cerita, agar tawa kita segera menggantikan air mata—seperti biasanya. Tapi barangkali aku memang harus menangis sendiri, tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri. Lalu belagak sok berani, sok mandiri, sok bisa hidup sendiri.


    I miss our quality time
    |


  2. Cuplikan Novel #2

    Selasa, 14 Agustus 2012

    “Kenapa kamu pengen banget mati, Bay?”

    “Aku penasaran Mbak, mati itu kayak gimana,” katanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

    “Kamu enggak perlu penasaran kali, Bay. Semua orang kan pasti bakal ngerasain mati.”

    “Tapi aku memang enggak pengen hidup lama, Mbak.”

    “Lha kenapa?”
    |


  3. Cuplikan Novel #1

    Senin, 13 Agustus 2012


    Pagi tadi aku mengirim pesan kepadanya, aku bilang aku sedang sangat merindukannya. Dia pasti bahagia membaca pesanku. Dia pasti berpikir aku sangat mencintainya. Aku berbohong.

    Dalam hidupku, tak pernah aku merindukan sesuatu selain kematian. Bahkan wanita itu. Wanita yang sangat mencintaiku. Juga Ibuku, apalagi ayahku. Tak pernah aku rindukan mereka seperti aku merindukan kematian.
    Bagaimana caranya mengatakan kepada kematian kalau aku sangat merindukannya dan ingin ia segera datang? Aku tau ia pasti datang, tapi aku bosan menunggunya tanpa kepastian.

    (Bab 2 | Tentang Kematian | catatan harian)
    |


  4. Dialog Batin

    Jumat, 10 Agustus 2012






    Sudahlah, tindakanmu sudah benar. Tak ada lagi yang perlu kau bicarakan. Ia bahkan tak pernah merasa bersalah dengan tindakannya.


    Kau tau? Kau tak seharusnya seperti ini. Bicaralah padanya. Perbaikilah apa-apa yang telah kalian rusak.

    Kau sudah pernah berusaha memperbaikinya, bukan? Tapi hasilnya? Kau malah menyimpan rasa sakit yang tak pernah mereka ketahui.


    |


  5. Begitulah Kita

    Kamis, 09 Agustus 2012


    Tak ada yang lebih menyesakkan dari suatu keadaan ketika aku melihatmu tapi tak bisa menyapamu. Berada di tempat yang sama, tapi saling bisu. Padahal dulu kita selalu berpelukan tiap bertemu.

    Ada apa dengan kita?

    Entah, aku pun tak tau. Awalnya, diamku adalah usaha untuk tidak menjadi palsu. Tak mau berpura-pura tak ada apa-apa, karena sebenarnya memang ada apa-apa. Tak mau pura-pura sehat dalam kondisi yang sekarat. Tak mau pura-pura bahagia dalam suasana hati yang lara. Aku hanya ingin menjadi aku yang seperti apa seharusnya aku. Aku yang marah kalau disakiti. Aku yang menjadi diam kalau tingkat kemarahanku sudah tinggi.

    Kau menyakiti, aku marah, kemudian diam. Lalu kau juga diam.
    Begitulah kita.
    |


  6. Apa Kau Begitu Bahagia Sekarang?

    Rabu, 08 Agustus 2012

    Ini Agustus. Kau masih ingat pertemuan kita di Agustus beberapa tahun lalu? Saat kita masih sangat baru. Masih lugu. Dan kita belum saling tau. Ah, aku tak yakin kau masih mengingatnya, seperti aku. Barangkali kau sudah menghapusnya atau bisa jadi ingatan itu terhapus dengan sendirinya. Karena aku, tak lagi sepenting dulu.

    Apa kabarmu? Ingin sekali aku bertanya begitu jika melihatmu. Lalu kita menghabiskan waktu berdua dan saling cerita tentang kita, tanpa ada rasa sakit apa-apa.

    |


  7. Kepada Juli

    Jumat, 03 Agustus 2012



    Baru tiga hari tak melihatmu, aku sudah rindu. Dan kerinduan itu semakin menjadi ketika aku menyadari ada 334 hari yang harus aku lewati sendiri hingga kau kembali nanti.

    Juli, aku ingin minta maaf. Pengabaianku terhadap pertemuan kita tak pernah aku rencanakan, dan sebenarnya aku tak pernah bermaksud demikian. Ada sangat banyak pekerjaan yang membuat aku dan kau seperti tak bertemu, padahal seharusnya kita saling melepas rindu.


    |


  8. Semasa hidupnya, ia seorang dermawan. Banyak uang ia sumbangkan untuk pembangunan Kota Medan kala itu. Ia pun menghargai perbedaan. Tak pernah ia membeda-bedakan ras, bangsa, suku, agama ataupun asal-usul. Itu sebabnya ia dikenang. Meski sudah lebih dari satu abad setelah kepergiannya. Nama dan kisah hidupnya akan menjadi cerita turun temurun di kota ini.

    Tahun 1875, seorang pemuda dari Desa Moy Hian di Daratan Cina datang ke Tanah Deli. Pemuda 18 tahun itu bernama Tjong A Fie. Ia hanya punya sepuluh perak uang manchu. Uang-uang itu terjahit di ikat pinggangnya. Sebagai pendatang asing yang miskin, ia coba mengadu nasib ke pesisir Timur Sumatera. Menyusul kakaknya, Tjong Yong Hian yang sudah limah tahun merantau di Tanah Deli.


    |