Rss Feed

  1. Beberapa waktu lalu yang aku lupa entah kapan, kau pernah memarahiku sebab tak menghabiskan makanan. Hanya dengan berdasarkan itu, aku ambil kesimpulan kalau kau adalah orang-orang yang selalu selesaikan apa-apa yang sudah kau mulai. Ya, aku akui, untuk beberapa hal, aku cenderung terlalu cepat mengambil kesimpulan.

    Suatu hari, kau memulai sesuatu yang (kau pikir) seharusnya tak pernah kau mulai. Agar tidak berjalan terlalu jauh dengan sesuatu yang tidak seharusnya itu, kau ‘menyelesaikannya’. Iya, barangkali kau pikir kau sudah menyelesaikannya, padahal kau hanya sedang berlari, menghindar sebisanya, tak melihat sesuatu itu, tak mendengar apapun dari sesuatu itu, juga mengalihkan pikiranmu dari sesuatu itu pada sesuatu yang lain. Kau membuat jarak yang terlalu jauh untuk bisa diretas olehmu juga sesuatu itu.

    Kau berlari sangat jauh dan sesuatu itu sudah berhenti mengejarmu. Tapi kau dan sesuatu itu terus berjalan, ke arah yang kalian tak lagi saling tahu. Meski kau sudah membuang sesuatu itu sejauh mungkin, kau lupa kalau kau belum benar-benar melupakannya.

    Kau bisa saja berhenti memikirkannya saat kau sama sekali tak melihatnya atau mendengar sesuatu dari sesuatu itu, tapi apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba ia muncul di hadapanmu? Apa kau tetap akan berlari saat ia tersenyum, mengulurkan tangan dan kemudian menanyakan kabarmu?

    Kau tahu? Membuat jarak tak akan berhasil menyelesaikan apa-apa yang belum benar-benar selesai. Dan sepertinya, seuatu itu sedang sangat merindukanmu.

    (Malam terakhir di Brisbane)


    |


  2. It was Home

    Rabu, 29 Mei 2013




    Entah apa yang membuat manusia, pada satu titik ingin kembali ke masa lalu. Padahal jika mengingat kembali ke masa kecil, betapa ia ingin cepat menjadi orang dewasa. 

    Enam tahun lalu adalah momentum ketika keinginannya menjadi orang dewasa begitu kuat. Ia ingin hidup mandiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, ia bosan dengan ‘aturan rumah’ yang pada titik itu, menurutnya terlalu mengekang. Harus begini, tak boleh begitu, dengan alasan yang terkadang tak masuk akal. 

    Kini, ia bebas menetukan hidupnya sendiri. Tak ada ibu yang tiap pulang sekolah memeriksa buku-buku hingga ia selalu merobek kertas tiap nilainya jelek. Tak ada Abah yang marah-marah jika ia pulang malam, walaupun karena alasan belajar di rumah seorang kawan. Tak ada adik yang selalu merengek ingin mengekor ke mana ia pergi, tak peduli ia sedang ingin bicara serius dengan pacar. Mereka tak ada. Mereka berada di tempat yang jauh hingga tak punya kuasa dan daya untuk bertindak seperti biasanya.

    Ia sering merasa abahnya, ibunya, adiknya adalah orang-orang paling menyebalkan. Mood-nya sering berubah jadi jelek tiap ada mereka. Ia lalu berpikir, mengingat-ingat masa lalu. Benarkah begitu?

    Kemudian terbayang wajah abah yang mencucikan sepedanya hingga mengkilap. Terbayang dekapan ibu saat ia menggigil kedinginan, dan adik yang rela sisihkan uang jajan untuk belikan dia kado sederhana.

    Lalu ia merindukan mereka. Ia rindu dimarahi, ia rindu menerima sms yang menyuruhnya segera pulang. Ia rindu teriakan ibu yang menyuruhnya segera makan. Ia rindu kamarnya yang dipenuhi poster, yang selalu dipandanginya, terkadang diajak bicara. Seolah Aston Kutcher, Eminem, Daniel Radcliff, hingga Ariel Peterpan peduli dan memperhatikannya yang sedang tak bisa tidur. Ia rindu suara abah yang menyebalkan tiap tahu kalau sudah jam enam tapi ia belum sholat Subuh. Ia rindu adik yang sering teriak di telinganya untuk bangunkan dia dari tidur siang yang indah. Ia merindukan rumah. Rumah yang sekarang hanya menjadi tempatnya singgah. 

    It wasn’t paradise, but it was home.



    |


  3. Kepada Siang

    Minggu, 17 Februari 2013




    Entah apa yang membuatku tiba-tiba ingin menulis sesuatu untuk kau baca. Tapi apapun sesuatu itu, kau baca sajalah! Pun jika kau tak punya waktu untuk membalas, baca sajalah!

    Siang, kau tau kan kalau aku tak pernah menyukaimu? Aku selalu benci jika kau datang, dan aku selalu ingin kau cepat-cepat digantikan malam. Kau ingin tau mengapa? Karena kau hanya memberi terik, rasa lapar, haus, debu, polusi. Kau tak seperti pagi yang menyuguhkan kesegaran, atau malam yang membawa gagasan. 

    Siang, surat ini kutulis saat aku sedang bersama malam. Malam yang tak ada orang dan kelihatan suram. Tapi Siang, saat ini tak sedikitpun kurasakan kelam.  Malam selalu memberiku kebahagiaan, kebebasan, kemerdekaan. Aku bebas lakukan apapun yang kusuka, seperti menulis surat untukmu ini.

    Tak seperti kau, bukan? Kau selalu memaksaku melakukan ini itu. Aku pun hanya bisa menuruti maumu, entah mengapa. Seakan aku bukan manusia merdeka. Tapi ya sudahlah, bukan itu yang sebenarnya ingin aku sampaikan padam malam ini.

    Siang, akhir-akhir ini aku semakin takut pada orang-orang yang kupikir baik. Beberapa dari mereka yang kukira baik, ternyata tidak. Mereka hanya kelihatan baik. Tapi siang, mereka sebenarnya jahat. Mereka tak benar-benar baik padaku. Aku tak paham apa yang sebabkan mereka begitu.

    Aku mengadu padamu, sebab aku ingin tau gagasanmu tentang seperti apa seharusnya aku menghadapi orang-orang palsu. Jika kau ada waktu, balaslah suratku.

    Aku tak ingin jadi palsu, tapi tetap ingin mereka jadi temanku, bagaimana menurutmu? Apakah mungkin bisa begitu?

    Barangkali seperti aku yang tak menyukaimu, lalu aku katakan, namun kita masih tetap bisa berteman.
    |


  4. Tulisan yang mengendap 1

    Selasa, 12 Februari 2013



    Aku pikir, aku tak akan pernah bisa membencimu. Tapi kenyataan yang baru aku sadari kemarin cukup untuk membuatku bahkan malas untuk mengingatmu. Kau tahu? Aku bukanlah orang yang akan mempersoalkan perasaan. Aku cukup paham bagaimana perasaan seseorang bisa berubah begitu saja, aku mengerti betapa cinta tak bisa diterka. Yang aku tak pernah bisa paham adalah, kebohongan yang kau ciptakan begitu lama. 

    Kenyataan kalau kau mencintai orang lain, aku bisa terima. Yang menyakitkan adalah fakta bahwa kau tak pernah katakan itu padaku, hingga aku tahu karena ‘membaca’ sesuatu. Kau bahkan tak pernah tahu kalau aku tahu semua kebohonganmu. Tapi aku akan terus membiarkannya begitu. Setidaknya, dengan begini, aku sudah punya alasan untuk bersyukur akan kepergianmu.

    12 November 2012 | 4:36:58 PM
    |


  5. Thought

    Rabu, 30 Januari 2013



    Akan aku apakan hidup yang barangkali tidak lama?




    Di malam-malam sebelum tidur, saat lampu kamar sudah dimatikan, playlist ‘Go to Bed’ sudah diputar, tapi mata belum terpejam, otak masih berpikir, dan kuping masih mendengar,  aku seringkali menatap langit-langit kamar, lalu berpikir tentang sesuatu.

    Aku. Akan jadi apa aku? Akan aku apakan hidupku? Apa aku mampu jadi sesuatu dengan berbuat sesuatu? Apa sisa hidupku cukup untuk mewujudkan mimpi satu demi satu? Dan apakah mimpiku hanya mimpi-mimpi egois sebagai invidu? 

    Aku menggarisbawahi frase mimpi-mimpi egois sebagai individu. Belakangan, frase itu cukup menghantui. Aku takut, mimpiku hanya mimpi yang individualis. Karena jika sudah begitu, yang akan aku pikirkan hanyalah hidupku, pencapaianku, kebahagiaanku. Di titik ini, aku merasa, manusia tak sepantasnya begitu. Atau barangkali sudah sifat dasar manusia itu begitu?



    |


  6. Mencari dan mengolah Nira. Foto-foto: Andika Bakti.

    Jika dari Berastagi hendak ke Danau Lau Kawar, kita akan melewati sebuah kuta bernama Torong. Kuta adalah bahasa Karo yang sepadan dengan desa bagi Indonesia/Jawa. Torong masih di kawasan Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di sini ada deretan lapo tuak yang terletak di kedua sisi jalan. Lapo sendiri merupakan bahasa Batak yang berarti kedai. Dan lapo tuak adalah sebutan bagi kedai yang menu utamanya adalah tuak.


    |


  7. Berdamai dengan Kenyataan

    Sabtu, 05 Januari 2013

    Tak ada yang perlu disesali dari sebuah peristiwa bernama kehilangan. Karena ia dirancang oleh Tuhan bukan tanpa alasan. Saya termasuk orang yang cukup sering merasakan ‘kehilangan’ sesuatu yang saya butuh dan sayang. Momen-momen kehilangan, bagi saya hanya menyesakkan di awal, kemudian, seiring waktu, ia berlalu. Saya masih percaya, orang-orang yang pernah kehilangan, pada akhirnya akan baik-baik saja.

    Saya akan ceritakan, bagaimana pada akhirnya saya berdamai dengan rasa kehilangan. Termasuk ketika pada akhirnya saya dihadapi kenyataan bahwa siap atau tidak, saya harus kehilangan kamu. Bahwa terima atau menolak, saya harus terbiasa dengan ketiadaanmu. Dari pada berlarut dengan penolakan yang tak merubah keadaan, atau menangisi hati yang mendadak sepi, berdamai adalah cara saya untuk mengobati hati.

    Saya belajar banyak dari pengalaman kehilangan sembilan handphone saya. Kehilangan dengan cara yang beda-beda dan rasa sakit yang juga tak sama. Pertama sekali kehilangan handphone, saat kelas 2 SMA, dengan cara dicuri seorang yang saya kenal. Saya sedih sejadi-jadinya. Selain sedih karena kehilangan handphone di masa liburan yang membuat saya harus kehilangan kontak dengan pacar, saya juga sedih merasa dihianati. Saya menangis di kamar, mengutuki keadaan.

    Beruntung, saya punya ayah jagoan. Ia selalu menanamkan nilai-nilai bahwa apapun yang kita miliki di dunia ini, hanya titipan. Itu sebabnya, apa yang menjadi milik kita bisa hilang kapan saja. Bisa jadi Tuhan ingin mengingatkan kita untuk merawat benda kesayangan, atau bisa saja benda kesayangan tak baik buat kita. Tuhan lebih tau.

    Berpijak pada nilai-nilai itu lah, saya mencoba berdamai. Belajar mengikhlaskan. Sulit memang. Apalagi untuk kasus kehilangan handphone yang pertama. Saya bahkan sempat dendam pada si pencuri. Tapi Ayah meyakinkan saya kalau meratapi kehilangan tak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, ayah meminta saya untuk membiasakan diri hidup tanpa handphone sampai ayah punya uang untuk belikan saya yang baru. “Dulu kita juga tak pakai HP!” katanya.

    Sejak saat itu hingga saya menulis ini, ada delapan momen kehilangan handphone lagi yang saya hadapi. Rasanya, tak seperih kehilangan yang pertama.

    Begitu juga saat saya kehilangan kamu. Kalau kamu masih ingat, di pembicaraan terakhir kita pada sebuah pagi yang gerimis. Tak pernah sedkitpun saya menunjukkan reaksi (eksplisit atau implisit) untuk mempertahankan hubungan kita. Atau untuk melarangmu ‘pergi’.

    Barangkali kamu sempat merasa tak berharga, atau menganggap keputusanmu untuk ‘pergi’ adalah keputusan tepat, karena toh saya tak keberatan sama sekali. Tapi ya beginilah saya.

    Pagi itu, saya sudah tahu tentang sesuatu yang kamu pikir saya belum tau. Saya paham kalau saya harus kehilangan sosokmu, dan saya cukup paham kenapa saya harus berusaha memahami kondisi itu. Saya putuskan untuk memudahkan jalanmu. Saya hanya mencoba berdamai dengan keadaan dan meyakinkan diri saya kalau Tuhan memang tak inginkan kamu dan saya menjadi kita.

    Saya memang tak pernah menangis setelah berakhirnya kita. Tapi bukan berarti saya tak sedih. Saya tak perlu jelaskan apa yang saya rasakan saat itu. Kamu tentu tau.

    Sampai saat ini, saat ketika saya tak lagi berani untuk bilang rindu, saat di mana jika saya mengirim pesan atau menyapamu akan diartikan sebagai ‘mengganggu’, saya tak pernah menyesali bahwa kita pernah bertemu dan saling rindu.

    Terlepas dari semua kelakuanmu, atau beberapa kebohonganmu, saya tak pungkiri kalau kamu ajarkan saya banyak hal. Tentang hidup, tentang cinta, tentang menghianati dan dihianati, tentang kesetiaan juga tentang harapan.

    Bagi saya, kehilangan, baik itu karena kelalaian ataupun ‘korban pencurian’ hanyalah sebuah proses dalam belajar untuk mengikhlaskan.



    juga ada di sini
    |