Rss Feed
  1. Kepada Siang

    Minggu, 17 Februari 2013




    Entah apa yang membuatku tiba-tiba ingin menulis sesuatu untuk kau baca. Tapi apapun sesuatu itu, kau baca sajalah! Pun jika kau tak punya waktu untuk membalas, baca sajalah!

    Siang, kau tau kan kalau aku tak pernah menyukaimu? Aku selalu benci jika kau datang, dan aku selalu ingin kau cepat-cepat digantikan malam. Kau ingin tau mengapa? Karena kau hanya memberi terik, rasa lapar, haus, debu, polusi. Kau tak seperti pagi yang menyuguhkan kesegaran, atau malam yang membawa gagasan. 

    Siang, surat ini kutulis saat aku sedang bersama malam. Malam yang tak ada orang dan kelihatan suram. Tapi Siang, saat ini tak sedikitpun kurasakan kelam.  Malam selalu memberiku kebahagiaan, kebebasan, kemerdekaan. Aku bebas lakukan apapun yang kusuka, seperti menulis surat untukmu ini.

    Tak seperti kau, bukan? Kau selalu memaksaku melakukan ini itu. Aku pun hanya bisa menuruti maumu, entah mengapa. Seakan aku bukan manusia merdeka. Tapi ya sudahlah, bukan itu yang sebenarnya ingin aku sampaikan padam malam ini.

    Siang, akhir-akhir ini aku semakin takut pada orang-orang yang kupikir baik. Beberapa dari mereka yang kukira baik, ternyata tidak. Mereka hanya kelihatan baik. Tapi siang, mereka sebenarnya jahat. Mereka tak benar-benar baik padaku. Aku tak paham apa yang sebabkan mereka begitu.

    Aku mengadu padamu, sebab aku ingin tau gagasanmu tentang seperti apa seharusnya aku menghadapi orang-orang palsu. Jika kau ada waktu, balaslah suratku.

    Aku tak ingin jadi palsu, tapi tetap ingin mereka jadi temanku, bagaimana menurutmu? Apakah mungkin bisa begitu?

    Barangkali seperti aku yang tak menyukaimu, lalu aku katakan, namun kita masih tetap bisa berteman.
    |


  2. Tulisan yang mengendap 1

    Selasa, 12 Februari 2013



    Aku pikir, aku tak akan pernah bisa membencimu. Tapi kenyataan yang baru aku sadari kemarin cukup untuk membuatku bahkan malas untuk mengingatmu. Kau tahu? Aku bukanlah orang yang akan mempersoalkan perasaan. Aku cukup paham bagaimana perasaan seseorang bisa berubah begitu saja, aku mengerti betapa cinta tak bisa diterka. Yang aku tak pernah bisa paham adalah, kebohongan yang kau ciptakan begitu lama. 

    Kenyataan kalau kau mencintai orang lain, aku bisa terima. Yang menyakitkan adalah fakta bahwa kau tak pernah katakan itu padaku, hingga aku tahu karena ‘membaca’ sesuatu. Kau bahkan tak pernah tahu kalau aku tahu semua kebohonganmu. Tapi aku akan terus membiarkannya begitu. Setidaknya, dengan begini, aku sudah punya alasan untuk bersyukur akan kepergianmu.

    12 November 2012 | 4:36:58 PM
    |