Rss Feed
  1. 25 di Jakarta

    Senin, 03 November 2014

    Ini foto nemu di Google Images

    Judul ini aku pilih tanpa keistimewaan apa-apa. Sesederhana karena sedang merayakan usia yang ke-25 di Jakarta. Di tulisan ini, aku akan lebih banyak cerita tentang Jakarta, bukan tentang 25.
    Iya, Jakarta. Sebuah kota yang aku tak pernah membayangkan—karena memang bayang-bayangnya saja enggan aku simpan di pikiran—akan menjadi kota tempat aku melewati beberapa tahun ke depan. (Aku sendiri tak tahu pasti akan berapa tahun, bisa 5, 10, atau mungkin selamanya, entahlah).
    Kota yang sumpek, kejam, busuk. Kota yang ketimpangan jelas terpampang dan kunikmati dalam tiap-tiap aku menyusuri jalanan. Sekarang, aku di sini.
    Aku masih ingat, saat pertama kali naik commuter line, melihat orang-orang berdesakan, berlarian, mendorong-dorong, memotong antrian. Aku melihat orang-orang yang egois, sedikit sadis. Aku hanya berjalan pelan, memperhatikan, sedikit menertawakan. Sempat aku menyalahkan manusia-manusia yang seakan kehilangan kemanusiaan.
    Lalu ketika aku naik Transjakarta yang penuh sesak. Merasa marah melihat orang-orang tua yang tak diberi tenpat duduk oleh orang-orang muda yang pura-pura tidur. Padahal jelas tertulis ‘priority seat’ di bangku yang mereka duduki.
    Aku juga sudah dua kali adu debat dengan pencopet yang gagal mencopet barang milikku. Orang-orang di sekitarku tak peduli, seakan itu bukan urusan mereka, sebab bukan mereka yang dicopet. Masa Bodoh.
    Ya, begitulah Jakarta dan segenap hiruk pikuknya. Lantas salah siapa? Salah apa?
    Aku pikir tak tepat jika menyalahkan manusia-manusia yang mendadak menjadi egois dan sadis, sebab busuknya Jakarta adalah kesalahan yang telah diciptakan sejak lama oleh penguasa, dan dilanjutkan secara terstruktur dan sistematis.
    Kota ini dijadikan pusat segala-gala, pemerintahan, perekonomian, bisnis, hiburan, pendidikan. Maka salahkah manusia-manusia dari segala penjuru berkumpul di sini?
    Semua orang dikejar waktu, semua orang kelelahan dengan rute panjang yang harus dilewati untuk sampai ke tempat kerja. Maka saat ini aku mulai berpikir, manusiawi ketika semuanya terlihat terburu-buru, individualis, dan sedikit egois. (Meski tak semuanya begitu, beberapa kali aku juga melihat mbak-mbak dengan ramah memberi kursi di bus pada seorang ibu)
    Ada pepatah sederhana yang bunyinya di mana ada gula, di situ ada semut. Ini semacam di mana ada pasar malam, di situ ada penjual kembang gula (Ah, aku mendadak ingin kembang gula).
    Bagaimana caranya kau bisa mengusir semut—tanpa membunuhnya—jika kau tumpuk gula di lantai dapur? Coba kalau gulanya disebar di halaman belakang rumah, ruang tamu, kamar tidur, ruang TV, pasti semutnya menyebar, mereka tak akan berkumpul di satu titik.
    Mengatasi banjir dan kemacetan di Jakarta, Ahok—atau siapapun gubernurnya kelak—mungkin akan ‘berdara-darah’ sebab manusia yang datang ke kota ini akan terus bertambah. Kebutuhan akan rumah akan terus meningkat. Jalanan akan terus padat. Sampah akan terus berlimpah.
    Aku salah satu contohnya. Aku menambah kepadatan kota ini. Juga teman-temanku yang juga dari Medan. Pagi tadi, teman dari Riau juga akhirnya meninggalkan kota yang ia cintai. Minggu depan, sahabatku juga akan hijrah ke kota ini.
    Kami semacam tak punya pilihan. Aku yang memang ingin menjadi wartawan akan sulit ‘berkembang’ jika bertahan di Medan. Pun teman-temanku, pun para imigran yang lain, mas-mas pengusaha pecel lele, mbak-mbak terapis di spa-spa, atau mahasiswa dari berbagai penjuru negeri.
    Jakarta bukan hanya rusak secara fisik, tetapi juga secara kultural. Orang-orang Betawi, pemilik Negeri Batavia ini semakin tersingkir dari tanahnya sendiri. Aku sendiri pesimis kota ini akan terbebas sepenuhnya dari macet dan banjir. Kita terlalu sibuk membenahi permukaan, hingga lupa pada akar persoalan.

    Kepada para penguasa, jika memang ingin menyelamatkan Jakarta, berhentilah menjadikannya pusat segala-gala!
    |