Rss Feed
    Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme. Tampilkan semua postingan
  1. Mencari dan mengolah Nira. Foto-foto: Andika Bakti.

    Jika dari Berastagi hendak ke Danau Lau Kawar, kita akan melewati sebuah kuta bernama Torong. Kuta adalah bahasa Karo yang sepadan dengan desa bagi Indonesia/Jawa. Torong masih di kawasan Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di sini ada deretan lapo tuak yang terletak di kedua sisi jalan. Lapo sendiri merupakan bahasa Batak yang berarti kedai. Dan lapo tuak adalah sebutan bagi kedai yang menu utamanya adalah tuak.



  2. “Hanya satu permintaanku, jadikanlah hidupmu sebagai pelukis.”Kalimat itu diucapkan seorang gadis kepada Sayang Petrus Bangun ketika ia masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kalimat yang membuat ia yakin untuk menjadi pelukis. Kalimat yang hingga sekarang masih ia kenang dengan manis.

    10 Oktober 1952. Seorang bayi laki-laki lahir di Desa Batusanggehen, Sibolangit, Deli Serdang.. Bayi itu tak seperti bayi pada umumnya. Ia lahir tanpa kedua lengan. Bayi itu terus tumbuh menjadi remaja. Ia sekolah di sekolah umum, bukan di sekolah berkebutuhan khusus. Ia habiskan masa sekolah dasarnya di desa kelahirannya.




  3. Judul Buku : Kepada Seniman Universal (Kulmpulan Esai Sastra A.S. Dharta)
    Editor : Budi Setiyono
    Tahun Terbit : 2010
    Penerbit : Ultimus
    Tebal Buku : xxx + 246 Halaman


    “Kalau hanya mempersoalkan masalah perseorangan, tidak ada sangkut paut dengan masalah manusia banyak, maka ‘pikiran dalam’ itu hanya dalam dan dianggap berguna oleh beberapa gelintir orang. Dan ini adalah individualisme” –A.S. Dharta–

    A.S. Dharta adalah salah satu nama pena dari Endang Rodji. Ia menjadi sekretaris jendelral pertama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950. Ia sudah memutuskan kodratnya: sastrawan turun dari ke-akuannya, berdiri di pihak yang tertindas, menghunus pedang-kata menghadang kaum penindas. Sastrawan mesti berani terus menerompetkan kebenaran. Sastrawan menegakkan tenaga raksasa di hati massa, menempa keyakinan granit di kalbu patriot, memelopori massa ke arah cita yang tinggi murni.

    Dharta memulai kritiknya terhadap angkatan 45 melalui sebuah esai berjudul Angkatan 45 Sudah Mampus. Esai tersebut cukup menggemparkan dan menimbulkan polemik di antara sastrawan Indonesia. Kritik-kritik lain terus dilontarkan melaui esai-esainya yang lain juga melalui sajak.

    Bagi Dharta, sebutan angkatan 45 tidak sesuai dengan makna angkatan 45 itu sendiri. Angkatan 45 bukan nama dari suatu angkatan yang menyerah, nama dari suatu angkatan yang perwira, nama dari suatu angkatan yang setiap hasil pekerjaannya bersumber pada prinsip revolusi nasional.

    Fakta yang terjadi, sajak-sajak Chairil Anwar—sastrawan yang dianggap pelopor angkatan 45—pun kebanyakan bukanlah sajak angkatan 45 menurut isi, kecuali “Kenanglah Kami” yang isi atau bentuknya benar-benar bernapaskan angkatan 45. Menurut Dharta, seorang sastrawan tak perlu disibukkan dengan sebutan angkatan ini itu. Biarlah ia besar dengan nama dan karyanya sendiri.

    Dalam esai-esainya juga tergambar bagaimana seorang Dharta sangat menentang sastra atau seni yang individualis. Individualis yang dimaksud adalah karya sastra atau seni yang hanya menonjolkan sisi kehidupan pribadi, tak berdampak bagi masyarakat.
    Buku ini adalah kumpulan esai-esai sastra dari seorang A.S Dharta. Budi Setiyono (Buset) membagi sajak-sajak tersebut ke dalam lima bagian. Bagian pertama—Menuju Realisme Sosialis—berisi esai-esai Dharta tentang kritik terhadap angkatan 45.

    Bagian ke dua—Kehidupan Kultural—memaparkan pendapat Dharta tentang kebudayaan dan sastra di negeri ini. Tulisan-tulisan yang menjawab kritik dan menilai karya sastra dirangkum dalam bagian Menilai dan Menjawab Kritik.

    Esai-esai Dharta tentang kesusatraan dunia disatukan dalam bagian Kesusastraan Dunia. Pada bagian terakhir, tulisan-tulisan Dharta tentang Lekra memberi penjelasan kepada pembaca, seperti apa kinerja Lekra.

    Nama A.S Dharta memang tak begitu dikenal masyarakat bangsa ini. Tak seperti Khairil Anwar, HB Jassin, Sanusi Pane, dan nama-nama sastrawan lain yang kerap kita dengar sejak di sekolah dasar. Dharta memang tak pernah muncul di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin karena ia dianggap dekat dengan komunis.

    Sebelum membaca buku ini, ada baiknya memahami sejarah kesusastraan Indonesia sejak tahun 1945. Karena jika tidak, pembaca akan sedikit kebingungan dan sulit memahami esai-esai yang ditulis Dharta karena editor tak memberi penjelasan di tiap akhir esai Dharta.

    Juga dimuat di www.suarausu-online.com

  4. Belajar dari Tan Malaka

    Sabtu, 02 Juli 2011

    Pendidikan adalah membangun proses berpikir, membudayakan dialektika, dan menghaluskan perasaan –Tan Malaka–

    Bayangkan apa jadinya peradaban manusia tanpa adanya pendidikan. Pendidikan yang saya maksud tak hanya pendidikan formal, tapi juga pendidikan nonformal. Pada dasarnya, manusia memang harus dididik.

    Indonesia memiliki lembaga pendidikan formal. Bukan cuma Indonesia, seluruh negara di dunia ini pastilah punya lembaga pendidikan formal. Tujuannya apa? Untuk menciptakan manusia-manusia yang bermutu.

    Pertanyaannya adalah sudahkah lembaga pendidikan di Indonesia benar-benar membangun proses berpikir, membudayakan dialektika, dan menghaluskan perasaan? Barangkali boleh saya bilang ‘tidak’.

    Menurut Tan Malaka, proses pembelajaran itu harus menyenangkan. Meminimalkan proses ceramah, dan tidak sekedar mendistribusikan pengetahuan. Namun proses pembelajaran semestinya memproduksi pengetahuan. Bagaimana Indonesia bisa memproduksi pengetahuan kalau peserta didik hanya dijadikan mesin penghafal?

    Guru atau dosen hanya menjadi mesin distribusi, mentransfer pengetahuan yang sudah ada kepada seluruh peserta didik. Kemudian, pengetahuan yang sudah didistribusikan tersebut haruslah dihafal oleh peserta didik. Di akhir semester, digelar ujian. Peserta didik harus menuliskan kembali pengetahuan yang sudah dihafalnya.

    Seluruh pemikiran ilmuwan Barat dilahap bulat-bulat. Tanpa filter, tanpa kritisi, tanpa proses dialektika. Ya bagaimana bisa mengkritisi, kalau budaya yang diciptakan sekolah dan perguruan tinggi hanyalah budaya menghafal?

    Di kampus atau sekolah, guru dan dosen bertindak seperti diktator. Semua aturan dalam proses belajar mengajar diatur secara sepihak. Contoh sederhana, peserta didik dilarang makan selama proses belajar mengajar, dilarang datang terlambat, dilarang mengeluarkan baju, dilarang pakai sendal, dilarang memanjangkan rambut, dilarang ini, dilarang itu.

    Tak ada kesepakatan sebelumnya, aturan itu dibuat begitu saja, dan pastinya larangan itu tak berlaku bagi si dosen atau guru itu sendiri. Tak apa jika mereka datang terlambat, tak apa jika mereka makan di kelas, pakai sandal, mengangkat telepon, dan sebagainya. Pokoknya ya begitu. Tak boleh protes, tak boleh dikritisi. Peserta didik pun ikut saja aturan-aturan sepihak itu. Alasannya hanya satu, agar mendapat nilai bagus.

    Tan Malaka meyakini, peserta didik haruslah diberi kepercayaan dan kemerdekaan untuk mengatur segala urusannya di sekolah sesuai aturan yang disepakati bersama. Apa yang diyakini Tan Malaka itu, tak pernah saya rasakan hingga saat ini saya duduk di perguruan tinggi. Saya tak pernah diajarkan untuk berpikir merdeka dan merdeka dalam berpikir.

    Saya jadi ingat sebuah pertemuan dengan Butet Manurung—perempuan yang merelakan waktunya untuk memberi pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam di Jambi—Februari tahun lalu. “Anak rimba itu lebih kritis daripada anak kota,” papar Butet.

    Butet menceritakan mereka selalu menanyakan segala hal. Termasuk pertanyaan “Untuk apa kami belajar perkalian? Kami kan sudah bisa penjumlahan.” Butet lalu menjelaskan tentang konsep perkalian, tapi tetap saja anak-anak itu tidak mau belajar perkalian. Alasan mereka cukup logis, “Kami sudah bisa penjumlahan, kalau banyak, ya kami jumlahkan saja.” Butet pun memutuskan untuk tak mengajarkan perkalian.

    Sampai suatu hari, anak-anak itu merasa kesulitan menghitung ketika berbelanja di Pasar—karena jumlah item belanjaan yang banyak. Mereka ingat penjelasan Butet tentang perkalian, lantas mereka setuju untuk diajarkan perkalian oleh Butet.

    Bandingkan pemikiran mereka dengan pemikiran anak-anak Kota. Pernahkah anak-anak kota itu bertanya mengapa harus pakai seragam sekolah? Mengapa harus datang tepat waktu? Mengapa harus belajar ini itu? Bisa saya pastikan tak pernah. Karena lembaga pendidikan di negeri ini tak memberi ruang untuk dikritisi. Tidak membudayakan pemikiran kritis sejak dini.

    Menurut Tan Malaka, guru haruslah bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Bukan diktator. Apa yang dilakukan Butet Manurung, agaknya sudah mencerminkan guru seperti dimaksud Tan Malaka.

    Dalam hal menghaluskan perasaan, Tan Malaka berpendapat perasaaan siswa harus diasah untuk memiliki keberpihakan pada kaum tertindas. Siswa juga harus dididik untuk memiliki penghargaan yang sama pada pekerjaan kasar dan kerja otak. Selain itu, siswa harus didorong untuk memiliki keberanian berbicara.

    Tahun 2005, telah dilakukan perubahan acuan dasar penyelenggaraan dan satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah No 19/2005 Pasal 19 menyebutkan bahwa “Satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”.

    Namun pada praktiknya, belumlah sesuai dengan acuan tersebut. Di sekolah, guru masih mendominasi pembelajaran melalui ceramah. Maklum saja, pengalaman belajar guru-guru itu memang ceramah. Guru juga masih melanggar prinsip guru sebagai fasilitator dan motivator. Dominasi guru dalam pembelajaran membuat peserta didik hanya menjadi objek dalam belajar.

    Yang saya paparkan hanyalah masalah dalam proses pembelajaran. Ada banyak lagi masalah dalam pendidikan di negeri ini sebenarnya. Perlu adanya pembenahan besar-besaran pada konsep pendidikan kita, pada praktik pembelajaran di kelas. Bagaimana caranya? Saya serahkan kepada petinggi-petinggi negeri ini yang pastilah memiliki ilmu jauh lebih banyak dari saya. Tak cukup hanya dengan perubahan undang-undang. Mereka harus memikirkan dampak pada tataran praktik di kelas.

  5. Facebook Wujudkan Individualisme

    Sabtu, 17 Oktober 2009

    Feri dan Dani adalah rekan kerja di sebuah perusahaan advertising. Dalam perusahaan tersebut, Feri dan Dani dituntut untuk sering berdiskusi karena mereka adalah tim kreatif. Interaksi di antara mereka memang sering terjadi, diskusi tentang pekerjaan hingga kehidupan pribadi pun kerap dilakukan. Namun sayang, interaksi yang dilakukan tidak melalui tatap muka, melainkan melalui sebuah situs jejaring sosial bernama FACEBOOK. Feri merasa pembicaraan tatap muka dengan Dani tidak pernah berjalan lancar, dikarenakan kesibukan Dani dengan handphone canggihnya yang membuat Dani selalu online kapanpun dan dimanapun. Jadi, menurut Feri pembicaran melalui situs pertemanan tersebut lebih efektif.


    Cerita di atas hanyalah ilustrasi yang dialami banyak orang saat ini dan mungkin Anda salah satunya. Kecenderungan seseorang menggunakan facebook sebagai media komunikasi membuat interaksi tatap muka nyas dengan orang lain tidak baik. Dari ilustrasi di atas kita dapat simpulkan bahwa Dani lebih sering konsentrasi dengan handphone canggihnya yang selalu digunakan mengakses internet khususnya facebook. Sehingga, dalam pertemuan-pertemuan langsung dengan orang lain, Dani lebih memperhatikan handphone nya daripada orang yang sedang berbicara dengannya.


    Tak salah jika dikatakan bahwa facebook menciptakan manusia-manusia individualis. Manusia-manusia yang merasa bahwa facebook sudah cukup untuk menjalin komunikasi meskipun tanpa tatap muka.


    Keberadaan facebook memang telah mengubah perilaku komunikasi masyarakat. Hal ini sesuai dengan teori cultural studies yang salah satu cirinya adalah menempatkan teori kritis sebagai analisa. Pengertian teori kritis disini mencakup metode metadisiplin (beberapa ilmu alat yang dipertemukan, seperti semiotika, filologi, hermenetika, dan sebagainya) dan post-disciplinary (mengabaikan ilmu alat ketika analisa dirasakan telah mencapai upaya membangun teori baru). cultural studies akan menggiring kita kepada pemahaman bahwa setiap era (age), lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam.


    Cultural studies memberikan pemahaman bahwa setiap era itu mempunyai "kebudayaan" yang berbeda pula. Coba kita lihat dari kenyataan, dahulu handphone adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tapi sekarang kita lihat hampir seluruh masyarakat dunia menggunakan handphone, begitu juga dengan facebook. Mengapa dikatakan mengubah shift perilaku manusia? karena, di zaman ini, facebook seperti sebuah kebutuhan bahkan banyak yang sangat kecanduan.


    Manusia pengguna facebook mempunyai tambahan kesibukan sendiri untuk membuka facebook di era kini (now age). Sesuai sama theory cultural studies, bahwa setiap era itu mempunyai libido yang berbeda. Mungkin di masa yang akan datang, kebudayaannya akan berubah sesuai dengan perkembangan jaman.



    Hubungan Komunikasi Tatap Muka dan Moral


    Berdasarkan sebuah riset yang dilansir di Proceedings of the National Academy of Sciences Online Early Edition, emosi sangat erat kaitannya dengan kemampuan moral untuk mencerna berita serta sejumlah kejadian di dunia nyata.


    Aktivitas lain seperti membaca buku dan menemui teman-teman, bisa menonjolkan sisi moral manusia. Para ahli memperingatkan masalah ini bisa menyebarluas atau 'menulari' manusia lainnya. Terutama anak-anak yang otaknya masih berkembang.


    "Jika suatu hal berjalan dengan terlalu cepat, maka Anda tak akan mengalami sebuah emosi yang terkait dengan kondisi psikologi seseorang dan tak akan ada implikasinya ke moral seseorang," tutur dosen University of Southern California yang juga salah satu periset, Mary Helen.


    Studi tim Helen ini mempelajari respons manusia terhadap kisah-kisah nyata dalam kehidupan yang membutuhkan kasih manusia dalam menghadapi rasa sakit fisik dan sosial.


    Menurut sosiolog senior dari universitas yang sama, Manuel Castells, implikasi ini terlihat berbeda pada manusia yang berada dalam lingkungan digital. Ia mengkhawatirkan televisi atau permainan virtual yang arus informasinya mengalir begitu cepat.


    "Dalam sebuah kultur media, dimana kekerasan dan penderitaan tak ada usainya entah itu dalam fiksi maupun infotainment, ketidakpedulian pun terus meningkat," tutur Castells.


    Media digital bisa menyebabkan manusia makin jauh dari cara tradisional belajar nilai kemanusiaan. Atau cara interaksi sosial secara face-to-face. "Padahal pengalaman sosial membentuk interaksi antara tubuh dan fikiran yang membentuk masyarakat dengan moral yang kuat," katanya.


    Dunia elektronik yang ditawarkan internet memang menyimpan potensi keterhanyutan. Semakin kita akrab dengan dunia yang satu ini, semakin besar kemungkinan kita tercebur dan terhanyut di dalamnya. Semakin dekat kita, semakin susah kita untuk membedakan mana realitas maya, mana realitas sesungguhnya, karena realitas maya seringkali tampak lebih realistis dari realitas itu sendiri.


    Facebook sebagai fenomena komunikasi sosial dinilai sangat demokratis dikarenakan sangat horizontal. Namun, kalau tidak ada edukasi dan peringatan, facebook bisa menjadi virus yang melemahkan produktivitas dan menimbulkan individualisme dan ini kurang baik dalam konsep nation character building kita. Jadi facebook perlu didorong menjadi jaringan komunilasi sosial yang efektif dan produktif.
    (dimuat di Harian Global, 17 Oktober 2009)

  6. Salah satu pencitraan sebuah negara kini tidak hanya dilihat dari kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kekuatan militer. Olahraga pun menjadi sebuah pencitraan manis tentang bagaimana masyarakat dunia memandang sebuah negara. Sebuah pertanyaan besar akan penyebab kondisi keterpurukkan olahraga Indonesia agaknya sering terlontar dari benak pemuda-pemuda bangsa yang berniat untuk memajukan Indonesia.


    Pada dasarnya banyak hal yang menyebabkan keterpurukan kondisi olahraga Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika di beberapa daerah, minimnya fasilitas latihan serta pendanaan masih menjadi masalah klasik yang menghantui pembinaan-pembinaan olahraga.


    Ada sebuah hal unik yang dapat kita ambil jika olahraga mampu menganalogikan sebuah karakter bangsa.

    Minimnya prestasi olahraga kita saat ini ternyata berbanding lurus dengan minimya rasa nasionalisme bangsa Indonesia.


    Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia dirasa telah berkurang akibat pengaruh globalisasi. Arus informasi yang begitu luas secara tidak langsung telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia untuk materialisme. Beberapa kasus ditunjukkan oleh beberapa punggawa Tim Nasional PSSI yang menolak masuk Pelatnas akibat bayaran yang tak sepadan. Kasus kecil lain adalah tidak hafalnya beberapa punggawa Timnas akan 5 ayat dalam Pancasila. Contoh lain adalah maraknya kasus kepindahan atlet ke provinsi lain (saat PON 2008) demi mencari bayaran tinggi.


    Minimnya rasa nasionalisme yang melekat pada insan-insan olahraga Indonesia (bukan hanya atlet tapi hingga jajaran pengurus, bahkan beberapa elite politik) mengakibatkan turunnya daya juang para atlet. Sebagian insan olahraga tidak murni lagi memperjuangkan prestasi olahraga nasional untuk nama Indonesia, melainkan juga untuk hal-hal yang lain. Tak jarang kancah olahraga kita digunakan sebagai salah satu media kampanye seperti yang terjadi pada pilkada di beberapa daerah.



    Atlet dan Kesejahteraannya


    Tak jarang seorang atlet lebih memikirkan materi dalam setiap tugasnya. Kondisi tersebut tak sepenuhnya dapat disalahkan. Turunnya rasa nasionalisme atlet untuk mengharumkan nama bangsa bisa jadi muncul akibat kekecewaan atlet terhadap perilaku bangsanya sendiri yang tidak menghargai torehan prestasi mereka.


    Peribahasa habis manis sepah dibuang pun menjadi perasaan para atlet saat ini. Dilematika antara keinginan untuk mengibarkan bendera Indonesia di atas podium dengan permasalahan perut. Dalam setiap peluh latihan mereka pun muncul kekhawatiran akan nasib masa depan mereka saat tak mampu bersinar lagi.


    Isu untuk meningkatkan kesejahteraan atlet sebenarnya sudah digemborkan oleh Adhyaksa Dault pada tahun 2005 dengan program 1000 rumah bagi atlet berprestasi. Namun tetap saja isu tentang cara menyejahteraankan atlet tetap jadi permasalahan.


    Belakangan kini telah muncul sebuah paradigma bahwa ternyata pemerintah terlalu mudah memberikan atlet kail serta pancing tanpa memberitahu cara menggunakannya. Pemerintah mengklaim bahwa atlet kita kurang mampu mengelola kekayaan yang telah mereka dapatkan semasa bersinar.


    Permasalahan di atas pada dasarnya bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga tanggung jawab kita. Pertanyaan yang muncul saat ini adalah seberapa sering kita mengapresiasi dunia olahraga negeri ini?

    Seberapa sering kita menonton pertandingan olahraga secara langsung maupun tak langsung untuk mendukung Indonesia?


    Kesadaran akan kepedulian konkret untuk mengapresiasi dunia olahraga kurang terbangun di diri kaum muda. Sangat naif jika kita tak mampu belajar dari pendahulu kita para pemuda era perjuangan yang memang belum mampu berkontribusi besar untuk mengapresiasi dunia olahraga.


    Jika kaum belum mampu belajar untuk membangun hal itu, maka kemungkinan besar kita tetap tidak akan menghargai jasa para atlet masa depan Indonesia di masa yang akan datang. Bisa saja prestasi buruk olahraga Indonesia di masa kini dan masa datang akan tetap ada. Wajar jika adik-adik kecil kita yang tengah duduk di sekolah dasar hanya bercita-cita menjadi dokter, pilot, ilmuwan, dan profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan. Dan tak diherankan jika tak satupun dari mereka ingin menjadi atlet.


    Nama besar sebuah Negara tak hanya dilihat dari pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan militer. Nama besar sebuah Negara juga akan dilihat dari prestasi olahraganya. Begitu juga dengan Indonesia. Mari berpikir secara menyeluruh. Mulai saat ini, mari kita berpikir bersama memajukan olahraga Indonesia.

    (dimuat di Harian Global 8 September 2009)

  7. Mari Lindungi Anak dari Tayangan Televisi

    Minggu, 06 September 2009

    Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra dan Khairil Hanan Lubis


    Peran televisi sebagai sarana hiburan murah meriah tak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi keandalannya.

    Secara teknis, pesawat televisi sangat mudah dioperasikan sehingga anak-anak sekalipun mampu mengoperasikannya tanpa harus menempuh pelajaran khusus. Hanya dengan menekan tombol atau mengoperasikan remote control, segala jenis tayangan mulai dari yang serius sampai yang santai terhidang di depan mata.

    Semakin lama, popularitas media televisi pun semakin fantastik. Populasinya berkembang kian pesat. Setiap malam, ia muncul pada setiap rumah dan mampu menghimpun para penghuninya untuk duduk santai di depannya sambil istirahat.

    Televisi merupakan medium komunikasi massa yang paling akrab dengan masyarakat karena kemampuannya mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu. Pesan-pesan yang disampaikan televisi juga mudah diserap oleh pemirsa karena tampilannya yang berupa audiovisual. Apalagi di Indonesia, negara yang tingkat buta hurufnya masih tinggi, media televisi memegang peran besar dalam penyebaran informasi.

    Konsumen terbesar media televisi sendiri adalah anak-anak. Sebagai konsumen terbesar dan bersifat heterogen, sudah sepatutnya anak-anak mendapat perhatian serius. Apalagi ditinjau dari segi ekonomi, komunitas anak-anak bukanlah penonton pasif sehingga layak menjadi target siaran dan eksistensinya harus diperhitungkan.

    Pada umumnya anak-anak senang sekali menonton film-film yang menampilkan aksi atau film-film yang menampilkan gerakan-gerakan cepat disertai oleh efek suara yang dahsyat. Semakin cepat gerakan-gerakan yang ditampilkan film, semakin tinggi tingkat antusias anak-anak menontonnya. Itulah sebabnya mereka senang sekali menonton film-film kartun yang banyak menampilkan gerakan-gerakan spektakuler. Hal inilah yang dapat memacu perilaku agresif anak-anak (Huton at al., 1990)
    Ada dua umpan yang dilempar oleh produser agar film produksinya laku ditonton. Seksualitas dan kekerasan.

    Orang tua cenderung mencekal yang pertama, tapi jarang atau tidak sama sekali untuk yang kedua. Padahal "bahayanya" tak kalah serius.

    Film-film yang menampilkan kekerasan, hidup bebas, menebarkan ketakutan atau unrealistic programs tentu sangat berpotensi merusak karakter anak-anak, termasuk sebagian film kartun yang juga menampilkan kekerasan dan ketakutan yang dikemas dalam bentuk komedi.

    Patut dicermati bahwa anak-anak biasanya cenderung senang menonton tayangan komedi apapun bentuknya karena komedi dikemas dalam bentuk yang sangat menarik perhatian mereka. Dalam hal ini, komedi misteri biasanya ditampilkan dengan bumbu humor, sehingga efek kengeriannya berkurang. Tetapi, efek kerusakan penalaran lah yang ditimbulkan dan itu akan lebih parah. Penipuan memang seringkali datang laksana malaikat terang.

    Pada kasus lain, roh halus biasanya diposisikan sebagai makhluk gaib yang menolong manusia dari tindakan kejahatan dengan berperan sebagai peri atau bidadari yang banyak membumbui sinetron kita. Mungkin awalnya bertujuan untuk menggugah emosional orang-orang yang terpinggirkan. Bahwa masih ada 'makhluk' yang peduli dengan nasib mereka yang terpuruk karena perbuatan sesamanya. Sungguh ironis, ketika manusia tak lagi menemukan jalan keluar dalam permasalahan hidupnya, maka anak-anak akan menganggap roh halus dapat menjadi penolong alternatif yang setia dan tangguh.

    Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap pertumbuhan dan perkembangan mental anak jika tokoh-tokoh yang menjadi idola dan panutan mereka adalah makhluk-makhluk halus. Tidak lagi Bung Karno, Bung Hatta, atau tokoh-tokoh hebat negeri ini lainnya.

    Disinilah letak bahayanya tontonan sejenis ini, menuntun anak-anak kepada pemahaman yang keliru tentang kenyataan hidup. Jika persepsi keliru tersebut terus terpatri dan mengendap di dalam pikiran anak-anak, hidup mereka akan semakin jauh dari rasionalitas dan realitas hidup yang sebenarnya.

    Tidak hanya kekerasan, pornografi atau misteri, tayangan-tayangan sinetron kita juga semakin memuakkan dan tidak berkualitas. Isinya hanya manajemen konflik antar tokoh, mengumbar hedonisme, bahkan mendoktrin kita untuk menerima dengan gamblang pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

    Doktrin sinetron yang tanpa ampun tersebut pasti juga menyerang anak-anak kita yang masih dibawah umur karena jam tayangnya yang merupakan prime time sehingga jutaan anak di seluruh Indonesia, secara bersamaan disiksa moral dan mentalnya dengan pengaruh-pengaruh atau doktrin yang disebarkan sinetron yang hanya mementingkan rating. Padahal, rating hanya mementingkan profit tanpa memikirkan tanggung jawab moral kepada penonton di bawah usia. Media televisi seolah lupa salah satu fungsi media yaitu memberi edukasi.

    Hari Anak Nasional yang jatuh 23 Juli lalu tentunya bisa menjadi refleksi bagi kita semua agar mewaspadai ancaman tayangan televisi terhadap anak. Mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai moral dan agama tentu bisa menjadi jalan keluar dari masalah ini.

    Keluarga memiliki peran yang besar disamping sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai baik dan buruk kepada anak-anaknya. Orang tua harus ketat mengawasi tontonan bagi anak seperti harus selalu ada yang mendampingi anak ketika menonton televisi atau yang lebih ekstrim membatasi tayangan-tayangan tertentu saja yang boleh ditonton anak.

    Pemerintah juga tentu bisa mengubah keadaan dengan melakukan pembatasan atau dengan menghadirkan satu jenis sinetron yang edukatif, informatif dan menghibur. Terus terang, sangat dimaklumi jika kita merindukan sinetron yang baik seperti Keluarga cemara. Yang mengajarkan kepada kita kesahajaan, kesabaran, dan kebersamaan dalam keluarga. Selamat Hari Anak!

    (dimuat di Harian Global, 25 July 2009)

  8. Budayakan Menulis

    Jumat, 04 September 2009

    Tulisan ini berawal dari beberapa artikel yang penulis baca tentang minimnya jumlah produksi buku di Indonesia. Tak jarang, hal tersebut selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah jumlah produksi buku di Indonesia hanya bergantung pada minat baca masyarakat?


    Penulis jadi teringat akan ucapan seorang senior yang menyatakan bahwa orang yang gemar menulis, pastilah sering membaca. Tetapi, orang yang gemar membaca belum tentu bisa menulis.


    Masyarakat yang gemar menulis secara otomatis akan sering membaca dan pasti akan membutuhkan buku lebih banyak. Tak hanya membutuhkan, bahkan menghasilkan. Logikanya, untuk menulis satu buku, paling tidak seorang penulis membutuhkan lima buku referensi, pembanding, atau bahan bacaan.


    Mohammad Diponegoro menyatakan bahwa tugas penting seorang pengarang atau penulis adalah membaca. Kegiatan itu diperlukan untuk membuka diri terhadap cakrawala dan pikiran baru.


    Selama ini masyakat Indonesia dalam bidang perbukuan lebih banyak berperan sebagai konsumen saja. Hanya menjadi pembaca. Padahal, untuk meningkatkan minat baca, masyarakat Indonesia juga harus didorong untuk memiliki keterampilan menulis.


    Menurut catatan terakhir, Indonesia yang penduduknya 250 juta jiwa hanya menerbitkan 8000 buku. Jumlah yang cukup memalukan jika dibandingkan dengan Vietnam yang mampu menerbitkan 15.000 buku dengan jumlah penduduk yang hanya 80 juta jiwa.


    Angka tersebut jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jepang. Setiap tahunnya, Jepang mampu menerbitkan 60.000 judul buku, sementara Inggris jauh lebih besar lagi, mencapai 110.155 judul buku per tahun. Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku, belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan).


    Perbedaan jumlah produksi buku yang sangat jauh tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan budaya orang Indonesia dan Negara lain. Masyarakat di luar negeri sudah memasuki budaya menulis, sedangkan di Indonesia masih sibuk dengan budaya membaca.


    Saat ini, masih sangat sulit mencari penulis di Indonesia. Padahal, seharusnya menulis buku bisa dilakukan oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan dosen. Namun, tak banyak dari kalangan tersebut yang mau menulis. Alasanya cukup sederhana, "tak punya banyak waktu".


    Hambatan lain yang menyebabkan kalangan dosen enggan menulis adalah minimnya imbalan menulis yang diterima penulis. Kegiatan atau kebiasaan menulis tidak menjadi bagian kegiatan dosen di perguruan tinggi. Kalaupun ada, hanya beberapa saja. Sementara di luar negeri, kegiatan menulis sudah menjadi bagian dari kegiatan seorang dosen sehari-hari.


    Karena sedikitnya orang Indonesia yang mau menulis, sampai saat ini penerbit di Indonesia masih banyak melakukan proses jemput bola untuk mendapatkan stok tulisan yang akan diterbitkan menjadi buku. Karena tersedianya sebuah tulisan untuk penerbit sangat penting dalam menjaga kelangsungan produksi buku di perusahaannya.


    Untuk memenuhi kebutuhan produksi, penerbit harus berburu buku-buku terjemahan dengan memasang agen pencari penulis buku atau literary agent di luar negeri. Di Indonesia, profesi literary agent sendiri masih langka.


    Literary agent menghubungkan antara penulis dan penerbit. Atas usahanya, mereka mendapatkan komisi sekitar dua hingga 2,5 persen dari nilai jual tulisan pada penerbit.


    Selama ini, parameter yang digunakan untuk mengukur minat/budaya baca adalah jumlah tiras seluruh surat kabar per kapita penduduk dan jumlah judul buku baru yang diterbitkan. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan UNESCO Statistical Year Book 1993 yang dilansir Tiras 10 Mei 1996 berjudul Indonesiaku Kurang Buku menunjukkan tiga kenyataan. Pertama, 84 persen penduduk kita melek huruf padahal rata-rata Negara berkembang hanya 69 persen.


    Kedua, jumlah tiras seluruh surat kabar hanya 2,8 persen dari jumlah penduduk. Indeks minimal UNESCO sekitar 10 persen sementara di negara industri mencapai 30 persen.


    Ketiga, jumlah buku baru yang diterbitkan 0,0009 persen dari total penduduk yang artinya 9 judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. Negara maju 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187).


    Dari data statisitik di atas dapat kita temui sebuah kenyataan, melek huruf ternyata tidak selalu mempunyai korelasi yang positif terhadap tingkat perkembangan jumlah buku dan media baca lainnya. Menanggapi kenyataan ini, Ignas Kleden (dalam alfons, 1999; 9) membedakan melek huruf menjadi tiga kategori.

    Pertama, mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca tetapi secara fungsional dan secara budaya sebetulnya buta-huruf. Kedua, mereka yang tergolong membaca dan menulis adalah sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi sangat kurang sekali menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi melalui tulisan.



    Menulis Butuh Latihan


    Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk menjadi penulis, seseorang harus memiliki bakat khusus. Namun, banyak penulis yang tida sepakat akan anggapan tersebut. Menurut William Faulkner, penulis Amerika, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen yang terkait dengan faktor bakat.


    Sedangkan menurut Putu Wijaya, salah satu penulis ternama Indonesia, faktor bakat berpengaruh tak lebih dari 5 persen. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.


    Pada dasarnya, menulis bukanlah hal yang sulit. Setiap orang, terlebih yang pernah mengenyam pendidikan, pastilah pernah bahkan sering menulis. Mungkin awalnya hanya menyalin catatan dari guru atau dosen, menulis catatan harian, selanjutnya akan mengarang, menulis opini, hingga membuat sebuah buku.


    "Menulis itu ibarat ngomong, orang ngomong adalah orang yang tengah mengatur kata-kata., ekspresi, dan melihat efek. Kata-kata disetel sedemikian rupa agar cocok dengan lawan bicara. Ekspresi dikemas begitu rupa supaya orang tahu kita tengah bersusah payah menampakkan keseriusan. Setiap habis kita ngomong. Kita suka melihat apa efeknya. Jika orang melengos, kita merasa gagal. Berbeda dengan lawan bicara yang langsung mengiba-iba meminta kita terus ngomong. Ini artinya, tiap kata yang keluar dari mulut kita, berkenan. Ekspresi kita saat membawakan kata-kata, pas dengan greget yang dia mau." Itulah yang diungkapkan Septiawan Santana K dalam bukunya yang berjudul Menulis Itu Ibarat Ngomong.


    Walaupun menulis itu ibarat ngomong, tetap butuh latihan untuk membuat orang ingin terus membaca tulisan kita. Budaya menulis belum begitu digalakkan di Indonesia. Namun tak ada salahnya jika kita mulai membudayakan menulis mulai dari diri sendiri.

    dimuat di Harian Global (3 Agustus 2009)