Semasa hidupnya, ia seorang dermawan. Banyak uang ia sumbangkan untuk pembangunan Kota Medan kala itu. Ia pun menghargai perbedaan. Tak pernah ia membeda-bedakan ras, bangsa, suku, agama ataupun asal-usul. Itu sebabnya ia dikenang. Meski sudah lebih dari satu abad setelah kepergiannya. Nama dan kisah hidupnya akan menjadi cerita turun temurun di kota ini.
-
Tjong A Fie yang ‘Tak Pernah Mati’
Kamis, 02 Agustus 2012
Tahun 1875, seorang pemuda dari Desa Moy Hian di Daratan Cina datang ke Tanah Deli. Pemuda 18 tahun itu bernama Tjong A Fie. Ia hanya punya sepuluh perak uang manchu. Uang-uang itu terjahit di ikat pinggangnya. Sebagai pendatang asing yang miskin, ia coba mengadu nasib ke pesisir Timur Sumatera. Menyusul kakaknya, Tjong Yong Hian yang sudah limah tahun merantau di Tanah Deli.
Posted by Wan Ulfa Nur Zuhra at 10.46 | Labels: Sosok, Unforgotten | 2 comments | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Raja Inal Siregar: Marsipature Hutana Be!
Kamis, 28 Juni 2012
Mari membangun kampung halaman sendiri! Begitulah seruan dari Raja Inal Siregar di tahun pertama ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Sebuah konsep yang dulu sempat populer dan kini masih diingat.
Senin, 5 September 2005, Hotmaria Siregar yang saat itu berusia 37 tahun sedang mengendarai mobilnya menyusuri padatnya jalanan Kota Jakarta untuk menjemput anaknya dari play group. Dari radio di dalam mobilnya, ia dengar berita tentang jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang membawa Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Rizal Nurdin dan mantan Gubernur Sumut. Pesawat itu gagal lepas landas dari Bandara Polonia ketika ingin menuju Jakarta.
Posted by Wan Ulfa Nur Zuhra at 19.13 | Labels: Sosok, Unforgotten | 2 comments | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

