Rss Feed
    Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
  1. Cuplikan Novel #2

    Selasa, 14 Agustus 2012

    “Kenapa kamu pengen banget mati, Bay?”

    “Aku penasaran Mbak, mati itu kayak gimana,” katanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

    “Kamu enggak perlu penasaran kali, Bay. Semua orang kan pasti bakal ngerasain mati.”

    “Tapi aku memang enggak pengen hidup lama, Mbak.”

    “Lha kenapa?”

  2. Cuplikan Novel #1

    Senin, 13 Agustus 2012


    Pagi tadi aku mengirim pesan kepadanya, aku bilang aku sedang sangat merindukannya. Dia pasti bahagia membaca pesanku. Dia pasti berpikir aku sangat mencintainya. Aku berbohong.

    Dalam hidupku, tak pernah aku merindukan sesuatu selain kematian. Bahkan wanita itu. Wanita yang sangat mencintaiku. Juga Ibuku, apalagi ayahku. Tak pernah aku rindukan mereka seperti aku merindukan kematian.
    Bagaimana caranya mengatakan kepada kematian kalau aku sangat merindukannya dan ingin ia segera datang? Aku tau ia pasti datang, tapi aku bosan menunggunya tanpa kepastian.

    (Bab 2 | Tentang Kematian | catatan harian)

  3. Dialog Batin

    Jumat, 10 Agustus 2012






    Sudahlah, tindakanmu sudah benar. Tak ada lagi yang perlu kau bicarakan. Ia bahkan tak pernah merasa bersalah dengan tindakannya.


    Kau tau? Kau tak seharusnya seperti ini. Bicaralah padanya. Perbaikilah apa-apa yang telah kalian rusak.

    Kau sudah pernah berusaha memperbaikinya, bukan? Tapi hasilnya? Kau malah menyimpan rasa sakit yang tak pernah mereka ketahui.



  4. Kepada Juli

    Jumat, 03 Agustus 2012



    Baru tiga hari tak melihatmu, aku sudah rindu. Dan kerinduan itu semakin menjadi ketika aku menyadari ada 334 hari yang harus aku lewati sendiri hingga kau kembali nanti.

    Juli, aku ingin minta maaf. Pengabaianku terhadap pertemuan kita tak pernah aku rencanakan, dan sebenarnya aku tak pernah bermaksud demikian. Ada sangat banyak pekerjaan yang membuat aku dan kau seperti tak bertemu, padahal seharusnya kita saling melepas rindu.



  5. Bulan Ke Dua

    Senin, 11 Juni 2012



    Bulan ke dua itu, kelegaan dan kehilangan mengatur jadwal untuk bisa datang berdua.
    Masih di bulan ke dua itu, pertemuan dan perpisahan berkunjung di waktu bersamaan.

    Lalu ada perjalanan.
    Dalam perjalanan, apa yang sudah berpisah, bertemu lagi, lalu berpisah lagi, lalu tak akan bertemu lagi.



  6. Tentang Merawat Harapan Part #2

    Selasa, 05 Juni 2012




    Aku mengenal Harapan dua tahun lalu, ketika aku dan Harapan sama-sama dikhianati kenyataan. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Kepadaku ia ceritakan segala sesuatu. Aku dan Harapan bergantian menjadi telinga. 

    Sejak saat itu, aku putuskan untuk merawat Harapan. Menjaganya bersama semua benda yang aku simpan di rumah. Sesekali Harapan ke luar rumah. Berjalan sendirian atau terkadang berlari bersama teman lamanya. Tapi ia tak pernah lupa pulang. Harapan selalu membukakan pintu untukku. Harapan tak pernah absen membangunkanku dari tidur. Ia juga yang mengantarku ke tempat tidur. 



  7. Aku Tau

    Kamis, 05 Januari 2012


    Aku tau.
    Aku tau tentang sesuatu.
    Sesuatu yang aku pikir kau pikir aku tak tau.
    Aku tau kau tak tau kalau aku tau kau tau aku tau tentang sesuatu itu.
    Kau pura-pura tidak tau.
    Aku memang pura-pura tidak tau kalau kau pura-pura tidak tau.
    Tapi aku tau.
    Aku tau kau pura-pura tidak tau bahwa aku tau tentang sesuatu itu.
    Aku tau kepura-puraanmu.
    Kau tak tau kepura-puraanku.
    Kelak, kita akan sampai pada suatu titik ketika aku, kau tak lagi sama-sama tau.

    (Untuk kalian yang sedang menyimpan sesuatu, Perpustakaan, 27 Mei 2011. 11.07 WIB)

  8. Tentang Sebuah Pagi

    Sabtu, 02 Juli 2011

    Senyap.
    Tak ada suara.
    Hanya ada air mata.

  9. Tak Seperti April Lalu

    Kamis, 30 Juni 2011

    Angin yang sama seperti April lalu
    Sama-sama dingin
    Sama-sama ngilu
    Beruntung aku masih bisa mendengar suara yang sama seperti April lalu
    Sama-sama berat
    Sama-sama hangat
    Tapi sayang, sore ini tidak sama seperti sore April lalu
    Tidak sama cerah
    Tidak sama indah
    (Sembari menunggu pesawat yang terlambat berangkat, Soekarno-Hatta, 31 Juli 2010)

  10. Aku Tidak Merindukanmu

    Sabtu, 30 Oktober 2010

    Aku tidak merindukanmu,
    Hanya ingin melihat lengkungan senyum itu,
    Ingin mendengar ceritamu,
    Ingin duduk diam menemanimu mengerjakan tugas-tugas itu,
    Ingin kau marahi karena makananku tak habis lagi,
    Ingin memukul kepalamu,
    Ingin kau suruh segera pulang, karena kau tak punya teman berbincang
    Ingin berjalan seiring di tengah keramaian,
    Tidak, aku tidak merindukanmu,

    (suatu siang yang hangat, 8 Agustus 2010. 14.48)

  11. Buntu!

    Minggu, 17 Oktober 2010

    Kata orang,
    waktu paling tepat untuk menulis adalah ketika hati sedang gelisah
    Dalam kegelisahannya di Pulau Buru, Pram menghasilkan tetralogi yang telah dan masih menyentak dunia.
    Pun masih dalam sebuah kegelisahan, Chairil Anwar mampu merangkai puisi-puisi indah.
    Saat ini aku gelisah.
    Tapi aku tak punya ide untuk ditulis.
    Buntu.
    Kata orang,
    Ketika tak tahu apa yang ingin ditulis, tulislah ketidaktahuan itu
    Aku tulis itu
    “Aku tidak tahu ingin menulis apa”
    Tapi kalimatku berhenti di situ
    Tidak mau mengalir seperti apa yang orang-orang janjikan
    Aku tidak tahu apa-apa, tidak tahu ingin menulis apa, tidak tahu harus menulis apa jika aku tidak tahu ingin menulis apa
    Aku tidak menulis apa-apa.
    Buntu!
    (suatu malam ketika aku tak tahu harus menulis apa, Medan, 27 Agustus 2010. 23.04 WIB)

  12. Aku Jatuh Cinta Pada Hujan

    Minggu, 03 Januari 2010

    Aku Jatuh Cinta pada Hujan...
    Hari ini, hujan membangunkanku dari tidur. Hujan juga yang mengantarkanku tidur malam tadi. Entah kenapa, aku selalu jatuh cinta pada hujan, bahkan ketika aku 'kehujanan'-yah..suatu kondisi dimana hujan turun di saat yang menurutku tidak tepat. Tapi aku selalu menikmatinya. Membiarkannya membuatku basah.
    Aku ingin mandi hujan. ..

  13. Tempat Tanpa Nama

    Sabtu, 05 September 2009

    Kaki ini ingin terus melangkah
    Pergi sejauh mungkin….
    Kaki ini mencobanya
    Dan ia bisa
    Membawa jasadku ke tempat tanpa nama.
    Tapi, dimana nyawaku???
    Dimana hatiku???
    Dan dimana rasaku???
    Aku tak pernah bisa membawa mereka pergi.
    Mereka masih disana.
    Tapi kaki ini tak mungkin lagi kembali kesana
    Karena tempat tanpa nama tak mengizinkannya membawa jasadku
    Aku hanya bisa menunggu
    Menyusul mereka menunggu jasadku ke tempat tanpa nama
    Atau menunggu tempat tanpa nama mengizinkan kaki ini membawa jasadku kembali kesana

  14. Karena Aku Wanita

    Jumat, 04 September 2009

    Aku

    Siang itu kamu duduk di depanku. Aku melihat matamu. Aku kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disana. Cahaya yang selama ini membuatku ikut bersinar. Kamu sedang menceritakan sesuatu, tapi aku tak mendengarnya. Karena aku tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kau pilih untuk selalu menemanimu.
    Aku membiarkanmu terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritamu. Aku terlalu sibuk menatap wajahmu. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungmu masih sekecil dulu, bibirmu masih tipis, ada satu jerawat baru di dahimu. Jerawat itu eksotis, aku menyukainya. Tapi ada yang beda dengan matamu, sendu….sayu….layu.
    Mata itu mulai memerah, tapi aku tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mata itu. Sebentar lagi…di hitungan ke lima aku yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatimu, juga hatiku. Aku mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata aku salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganku samapai ke angka satu.
    Aku tak tau apa yang membuatmu menangis, karena aku memang tak ingin tau. Yang ada di benakku saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanmu. Aku membiarkan pundakku basah karena air matamu.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” katamu. Tatapan matamu seakan menanyakan pendapatku. Kalau aku boleh teriak dan berkata jujur, aku pasti dengan cepat menyetujui keputusanmu. Karena itu akan baik buatku. Tapi dengan terpaksa, aku berpura-pura menanyakan alasanmu.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabmu.
    Mendengar itu, terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranku. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinku ingin bertanya apa maksudmu. Tapi kuurungkan niatku untuk menanyakan itu. Aku yakin kau sudah menjelaskannya tadi. Saat aku sibuk menatap wajahmu.
    Kau memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengannya. Dia…yang membuatku selalu cemburu. Jujur…aku sangat bahagia mendengar keputusan itu, tapi aku menderita melihat raut wajahmu.
    Aku memang mencintaimu, sejak dulu… dan hanya kamu. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan aku memilih untuk mencintaimu. Sekarang, kau tak lagi bersamanya. Tapi aku tetap tak berani menyatakan perasaanku. Aku takut kecewa karena melihatmu kecewa.

    X X X
    Aku

    Namanya Della, ia sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama. Dia lemah, penakut, cengeng, dan sangat sensitif. Aku selalu melindunginya, menjaganya, dan selalu ada untuknya. Aku mencitainya sejak dulu…sejak kami masih kelas dua SMP. Sejak aku dihianati pacar pertamaku. Tapi ia tak pernah menyadari itu. Aku sering mengatakan “I Love you” begitu juga dengan nya. Tapi maksudnya berbeda dengan maksudku. Aku mencintainya lebih dari yang dia tau.


    Della

    Siang itu aku duduk di depanmu. Kau melihat mataku. Aku tahu, kau kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disini. Cahaya yang selama ini membuatmu ikut bersinar. Aku sedang menceritakan sesuatu, tapi sepertinya kau tak mendengarkanku. Karena kau tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kupilih untuk selalu menemaniku.
    Kau membiarkanku terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritaku. Kau terlalu sibuk menatap wajahku. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungku masih sekecil dulu, bibirku masih tipis, ada satu jerawat baru di dahiku. Jerawat itu eksotis, kau menyukainya. Tapi ada yang beda dengan mataku, sendu….sayu….layu. Itulah yang kurasakan ada dalam pikiranmu.
    Mataku mulai memerah, tapi kau tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mataku. Sebentar lagi…pikirmu, di hitungan ke lima kau yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatiku, juga hatimu. Kau mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata kau salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganmu sampai ke angka satu.
    Kau tak tau apa yang membuatku menangis, karena kau memang tak ingin tau. Yang ada di benakmu saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanku. Kau membiarkan pundakmu basah karena air mataku.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” kataku. Tatapan mataku seakan menanyakan pendapatmu. Kalau kau boleh teriak dan berkata jujur, kau pasti dengan cepat menyetujui keputusanku. Karena itu akan baik buatmu. Tapi dengan terpaksa, kau berpura-pura menanyakan alasanku.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabku.
    Mendengar itu, aku tahu terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranmu. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinmu pasti bertanya apa maksudku. Tapi kauurungkan niatmu untuk menanyakan itu. Kau yakin aku sudah menjelaskannya tadi. Saat kau sibuk menatap wajahku.
    Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Dia…yang membuatmu selalu cemburu. Jujurlah…kau pasti sangat bahagia mendengar keputusan ku, tapi kau menderita melihat raut wajahku.
    Kau memang mencintaiku, sejak dulu… dan hanya aku. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan kau memilih untuk mencintaiku. Sekarang, aku tak lagi bersamanya. Tapi kau tetap tak berani menyatakan perasaanmu. Kau takut kecewa karena melihatku kecewa.

    X X X

    Aku

    Sejak kau tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku mulai melihat cahaya itu dimatamu. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kurasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Kau menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya kau lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Kau hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutmu. Aku diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawaban yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Kau hanya tersenyum manis mendengar jawabanku. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan aku selalu ada untuk kamu.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali aku merangkulmu, mengacak rambutmu, dan mencubit pipimu.
    Della…seandainya kamu tahu apa yang kurasakan. Seandainya kita bisa bersama. Tapi takdir akan selalu menentang kita. Aku tak siap kehilanganmu, karena kenyataan ini akan menjadi tamparan berat buatmu. Biarlah aku pada rasaku sendiri dan aku cukup bahagia dengan keadaan seperti ini.
    X X X

    Della

    Sejak aku tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku yakin kau mulai melihat cahaya itu dimataku. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kita rasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Aku menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya aku lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Aku hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Kau diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawabmu. Aku tersenyum manis mendengar jawabanmu. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan kau selalu ada untukku.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali kau merangkulku, mengacak rambutku, dan mencubit pipiku.
    Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak dulu, jauh sebelum kau merasakannya. Tapi aku tak mau melawan takdir, kita pasti akan kalah. Aku pun memutuskan untuk mengikuti takdir. Mencoba untuk mencintai orang lain. Dan aku selalu gagal untuk mencintai mereka. Aku tidak bisa mencintai mereka. Karena aku mencintaimu.
    X X X

    Aku

    Pukul 6 pagi kau kerumahku. Membangunkanku dari tidur yang baru kumulai pukul 5 pagi. Berat rasanya untuk membuka mata yang baru saja terpejam. Berkali-kali kau teriak, mengguncang-guncang badanku hingga memukulku dengan bantal. Aku sadar, tapi aku malas membuka mata. Kau pun menyerah dan memilih ikut merebahkan badan disampingku. Dalam hati aku tersenyum.
    Sejenak aku tak mendengar suara. Namun tiba-tiba kau memelukku dari belakang. Aku diam saja. Menikmati kehangatan itu. Semakin lama pelukanmu semakit erat. Jujur, aku sedikit sesak, tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap lekuk tubuhmu yang menyatu denganku. Aku merasa sangat hangat.
    Perlahan, kau menciumi leherku, pipiku, hingga bibirku. Aku terkejut, tapi tetap diam. Di satu sisi aku bertanya-tanya ada apa denganmu? Tapi di sisi lain, aku menikmati itu. “Aku mencintaimu,” bisikmu di telingaku. Sontak aku membuka mata dan bangkit dari tidurku. Dengan wajah kaget aku masih memandangmu heran. “Maafkan aku, tapi aku memang mencintaimu, aku mencintaimu seperti ibu mencintai ayah,” sambungmu. Aku masih diam. Belum bisa berkata apa-apa.
    “Aku enggak pernah bisa mencintai orang lain, aku cuma mau kamu,” ujarmu dengan air mata yang berlinang. Aku memelukmu, tak mau melihatmu menangis lagi. Jika aku bisa, aku akan selalu ada untuk kamu. Jika aku bisa, aku pasti terus jaga kamu. Jika aku bisa, aku mau jadi suamimu. Aku mau mencintaimu seperti Ibu mencintai Ayah, atau seperti Ayah mencintai Ibu. Tapi sayang…aku enggak bisa, dan tidak akan pernah bisa. Karena aku juga wanita, sama seperti kamu.