Rss Feed

  1. Judul Buku : Kepada Seniman Universal (Kulmpulan Esai Sastra A.S. Dharta)
    Editor : Budi Setiyono
    Tahun Terbit : 2010
    Penerbit : Ultimus
    Tebal Buku : xxx + 246 Halaman


    “Kalau hanya mempersoalkan masalah perseorangan, tidak ada sangkut paut dengan masalah manusia banyak, maka ‘pikiran dalam’ itu hanya dalam dan dianggap berguna oleh beberapa gelintir orang. Dan ini adalah individualisme” –A.S. Dharta–

    A.S. Dharta adalah salah satu nama pena dari Endang Rodji. Ia menjadi sekretaris jendelral pertama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950. Ia sudah memutuskan kodratnya: sastrawan turun dari ke-akuannya, berdiri di pihak yang tertindas, menghunus pedang-kata menghadang kaum penindas. Sastrawan mesti berani terus menerompetkan kebenaran. Sastrawan menegakkan tenaga raksasa di hati massa, menempa keyakinan granit di kalbu patriot, memelopori massa ke arah cita yang tinggi murni.

    Dharta memulai kritiknya terhadap angkatan 45 melalui sebuah esai berjudul Angkatan 45 Sudah Mampus. Esai tersebut cukup menggemparkan dan menimbulkan polemik di antara sastrawan Indonesia. Kritik-kritik lain terus dilontarkan melaui esai-esainya yang lain juga melalui sajak.

    Bagi Dharta, sebutan angkatan 45 tidak sesuai dengan makna angkatan 45 itu sendiri. Angkatan 45 bukan nama dari suatu angkatan yang menyerah, nama dari suatu angkatan yang perwira, nama dari suatu angkatan yang setiap hasil pekerjaannya bersumber pada prinsip revolusi nasional.

    Fakta yang terjadi, sajak-sajak Chairil Anwar—sastrawan yang dianggap pelopor angkatan 45—pun kebanyakan bukanlah sajak angkatan 45 menurut isi, kecuali “Kenanglah Kami” yang isi atau bentuknya benar-benar bernapaskan angkatan 45. Menurut Dharta, seorang sastrawan tak perlu disibukkan dengan sebutan angkatan ini itu. Biarlah ia besar dengan nama dan karyanya sendiri.

    Dalam esai-esainya juga tergambar bagaimana seorang Dharta sangat menentang sastra atau seni yang individualis. Individualis yang dimaksud adalah karya sastra atau seni yang hanya menonjolkan sisi kehidupan pribadi, tak berdampak bagi masyarakat.
    Buku ini adalah kumpulan esai-esai sastra dari seorang A.S Dharta. Budi Setiyono (Buset) membagi sajak-sajak tersebut ke dalam lima bagian. Bagian pertama—Menuju Realisme Sosialis—berisi esai-esai Dharta tentang kritik terhadap angkatan 45.

    Bagian ke dua—Kehidupan Kultural—memaparkan pendapat Dharta tentang kebudayaan dan sastra di negeri ini. Tulisan-tulisan yang menjawab kritik dan menilai karya sastra dirangkum dalam bagian Menilai dan Menjawab Kritik.

    Esai-esai Dharta tentang kesusatraan dunia disatukan dalam bagian Kesusastraan Dunia. Pada bagian terakhir, tulisan-tulisan Dharta tentang Lekra memberi penjelasan kepada pembaca, seperti apa kinerja Lekra.

    Nama A.S Dharta memang tak begitu dikenal masyarakat bangsa ini. Tak seperti Khairil Anwar, HB Jassin, Sanusi Pane, dan nama-nama sastrawan lain yang kerap kita dengar sejak di sekolah dasar. Dharta memang tak pernah muncul di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin karena ia dianggap dekat dengan komunis.

    Sebelum membaca buku ini, ada baiknya memahami sejarah kesusastraan Indonesia sejak tahun 1945. Karena jika tidak, pembaca akan sedikit kebingungan dan sulit memahami esai-esai yang ditulis Dharta karena editor tak memberi penjelasan di tiap akhir esai Dharta.

    Juga dimuat di www.suarausu-online.com

  2. Tentang Merawat Harapan

    Senin, 14 November 2011


    “Yang harus kita lakukan hanyalah merawat harapan”

    Itu isi pesan singkatmu waktu itu. Mungkin kau pun sudah lupa pernah menuliskannya untukku.

    Kalimat itu aku tulis di selembar kertas dan aku tempel tepat di samping tempat tidur di kamar kosku dulu. Alasannya sederhana, untuk mengingatkan diri sendiri agar terus merawat harapan. Aku membacanya tiap akan dan bangun tidur.

    Pertama kali mendengar kalimat itu, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana cara merawat harapan? Apakah ia seperti merawat tanaman? Atau merawat hewan peliharaan? Merawat orang sakit barangkali?

    Atau mungkin ia lebih mirip merawat rumah? Kendaraan? Elektronik?

    Harapan adalah sumber masalah, tanpa harapan, tak akan ada masalah—jika masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Apakah merawat harapan berarti merawat sumber masalah?

    Jelas tidak, jika kenyataan sesuai dengan harapan yang dirawat.

    Bagaimana jika kenyataan memaksa kita untuk merawat harapan dalam jangka waktu yang tak tentu? Ketika kita merawat harapan, kita tentu tak ingin terus merawatnya. Kita tentu ingin suatu saat menghadapi kenyataan yang sesuai dengan harapan. Kata harapan dihapus dan diganti dengan kenyataan.

    Merawat harapan mungkin seperti bermimpi dan terus tidur. Kita tak diberi waktu untuk bangun, bangkit, dan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Merawat harapan berarti membiarkannya terus menjadi harapan. Berlapis-lapis harapan. Benarkah begitu?

    Entahlah, aku pun bingung mendefinisikannya. Seperti kita, yang belum dan mungkin tak akan pernah terdefinisi.

  3. Belajar dari Tan Malaka

    Sabtu, 02 Juli 2011

    Pendidikan adalah membangun proses berpikir, membudayakan dialektika, dan menghaluskan perasaan –Tan Malaka–

    Bayangkan apa jadinya peradaban manusia tanpa adanya pendidikan. Pendidikan yang saya maksud tak hanya pendidikan formal, tapi juga pendidikan nonformal. Pada dasarnya, manusia memang harus dididik.

    Indonesia memiliki lembaga pendidikan formal. Bukan cuma Indonesia, seluruh negara di dunia ini pastilah punya lembaga pendidikan formal. Tujuannya apa? Untuk menciptakan manusia-manusia yang bermutu.

    Pertanyaannya adalah sudahkah lembaga pendidikan di Indonesia benar-benar membangun proses berpikir, membudayakan dialektika, dan menghaluskan perasaan? Barangkali boleh saya bilang ‘tidak’.

    Menurut Tan Malaka, proses pembelajaran itu harus menyenangkan. Meminimalkan proses ceramah, dan tidak sekedar mendistribusikan pengetahuan. Namun proses pembelajaran semestinya memproduksi pengetahuan. Bagaimana Indonesia bisa memproduksi pengetahuan kalau peserta didik hanya dijadikan mesin penghafal?

    Guru atau dosen hanya menjadi mesin distribusi, mentransfer pengetahuan yang sudah ada kepada seluruh peserta didik. Kemudian, pengetahuan yang sudah didistribusikan tersebut haruslah dihafal oleh peserta didik. Di akhir semester, digelar ujian. Peserta didik harus menuliskan kembali pengetahuan yang sudah dihafalnya.

    Seluruh pemikiran ilmuwan Barat dilahap bulat-bulat. Tanpa filter, tanpa kritisi, tanpa proses dialektika. Ya bagaimana bisa mengkritisi, kalau budaya yang diciptakan sekolah dan perguruan tinggi hanyalah budaya menghafal?

    Di kampus atau sekolah, guru dan dosen bertindak seperti diktator. Semua aturan dalam proses belajar mengajar diatur secara sepihak. Contoh sederhana, peserta didik dilarang makan selama proses belajar mengajar, dilarang datang terlambat, dilarang mengeluarkan baju, dilarang pakai sendal, dilarang memanjangkan rambut, dilarang ini, dilarang itu.

    Tak ada kesepakatan sebelumnya, aturan itu dibuat begitu saja, dan pastinya larangan itu tak berlaku bagi si dosen atau guru itu sendiri. Tak apa jika mereka datang terlambat, tak apa jika mereka makan di kelas, pakai sandal, mengangkat telepon, dan sebagainya. Pokoknya ya begitu. Tak boleh protes, tak boleh dikritisi. Peserta didik pun ikut saja aturan-aturan sepihak itu. Alasannya hanya satu, agar mendapat nilai bagus.

    Tan Malaka meyakini, peserta didik haruslah diberi kepercayaan dan kemerdekaan untuk mengatur segala urusannya di sekolah sesuai aturan yang disepakati bersama. Apa yang diyakini Tan Malaka itu, tak pernah saya rasakan hingga saat ini saya duduk di perguruan tinggi. Saya tak pernah diajarkan untuk berpikir merdeka dan merdeka dalam berpikir.

    Saya jadi ingat sebuah pertemuan dengan Butet Manurung—perempuan yang merelakan waktunya untuk memberi pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam di Jambi—Februari tahun lalu. “Anak rimba itu lebih kritis daripada anak kota,” papar Butet.

    Butet menceritakan mereka selalu menanyakan segala hal. Termasuk pertanyaan “Untuk apa kami belajar perkalian? Kami kan sudah bisa penjumlahan.” Butet lalu menjelaskan tentang konsep perkalian, tapi tetap saja anak-anak itu tidak mau belajar perkalian. Alasan mereka cukup logis, “Kami sudah bisa penjumlahan, kalau banyak, ya kami jumlahkan saja.” Butet pun memutuskan untuk tak mengajarkan perkalian.

    Sampai suatu hari, anak-anak itu merasa kesulitan menghitung ketika berbelanja di Pasar—karena jumlah item belanjaan yang banyak. Mereka ingat penjelasan Butet tentang perkalian, lantas mereka setuju untuk diajarkan perkalian oleh Butet.

    Bandingkan pemikiran mereka dengan pemikiran anak-anak Kota. Pernahkah anak-anak kota itu bertanya mengapa harus pakai seragam sekolah? Mengapa harus datang tepat waktu? Mengapa harus belajar ini itu? Bisa saya pastikan tak pernah. Karena lembaga pendidikan di negeri ini tak memberi ruang untuk dikritisi. Tidak membudayakan pemikiran kritis sejak dini.

    Menurut Tan Malaka, guru haruslah bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Bukan diktator. Apa yang dilakukan Butet Manurung, agaknya sudah mencerminkan guru seperti dimaksud Tan Malaka.

    Dalam hal menghaluskan perasaan, Tan Malaka berpendapat perasaaan siswa harus diasah untuk memiliki keberpihakan pada kaum tertindas. Siswa juga harus dididik untuk memiliki penghargaan yang sama pada pekerjaan kasar dan kerja otak. Selain itu, siswa harus didorong untuk memiliki keberanian berbicara.

    Tahun 2005, telah dilakukan perubahan acuan dasar penyelenggaraan dan satuan pendidikan. Peraturan Pemerintah No 19/2005 Pasal 19 menyebutkan bahwa “Satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik”.

    Namun pada praktiknya, belumlah sesuai dengan acuan tersebut. Di sekolah, guru masih mendominasi pembelajaran melalui ceramah. Maklum saja, pengalaman belajar guru-guru itu memang ceramah. Guru juga masih melanggar prinsip guru sebagai fasilitator dan motivator. Dominasi guru dalam pembelajaran membuat peserta didik hanya menjadi objek dalam belajar.

    Yang saya paparkan hanyalah masalah dalam proses pembelajaran. Ada banyak lagi masalah dalam pendidikan di negeri ini sebenarnya. Perlu adanya pembenahan besar-besaran pada konsep pendidikan kita, pada praktik pembelajaran di kelas. Bagaimana caranya? Saya serahkan kepada petinggi-petinggi negeri ini yang pastilah memiliki ilmu jauh lebih banyak dari saya. Tak cukup hanya dengan perubahan undang-undang. Mereka harus memikirkan dampak pada tataran praktik di kelas.

  4. Senyap.
    Tak ada suara.
    Hanya ada air mata.

  5. Tak Seperti April Lalu

    Kamis, 30 Juni 2011

    Angin yang sama seperti April lalu
    Sama-sama dingin
    Sama-sama ngilu
    Beruntung aku masih bisa mendengar suara yang sama seperti April lalu
    Sama-sama berat
    Sama-sama hangat
    Tapi sayang, sore ini tidak sama seperti sore April lalu
    Tidak sama cerah
    Tidak sama indah
    (Sembari menunggu pesawat yang terlambat berangkat, Soekarno-Hatta, 31 Juli 2010)

  6. Aku Tidak Merindukanmu

    Sabtu, 30 Oktober 2010

    Aku tidak merindukanmu,
    Hanya ingin melihat lengkungan senyum itu,
    Ingin mendengar ceritamu,
    Ingin duduk diam menemanimu mengerjakan tugas-tugas itu,
    Ingin kau marahi karena makananku tak habis lagi,
    Ingin memukul kepalamu,
    Ingin kau suruh segera pulang, karena kau tak punya teman berbincang
    Ingin berjalan seiring di tengah keramaian,
    Tidak, aku tidak merindukanmu,

    (suatu siang yang hangat, 8 Agustus 2010. 14.48)

  7. Buntu!

    Minggu, 17 Oktober 2010

    Kata orang,
    waktu paling tepat untuk menulis adalah ketika hati sedang gelisah
    Dalam kegelisahannya di Pulau Buru, Pram menghasilkan tetralogi yang telah dan masih menyentak dunia.
    Pun masih dalam sebuah kegelisahan, Chairil Anwar mampu merangkai puisi-puisi indah.
    Saat ini aku gelisah.
    Tapi aku tak punya ide untuk ditulis.
    Buntu.
    Kata orang,
    Ketika tak tahu apa yang ingin ditulis, tulislah ketidaktahuan itu
    Aku tulis itu
    “Aku tidak tahu ingin menulis apa”
    Tapi kalimatku berhenti di situ
    Tidak mau mengalir seperti apa yang orang-orang janjikan
    Aku tidak tahu apa-apa, tidak tahu ingin menulis apa, tidak tahu harus menulis apa jika aku tidak tahu ingin menulis apa
    Aku tidak menulis apa-apa.
    Buntu!
    (suatu malam ketika aku tak tahu harus menulis apa, Medan, 27 Agustus 2010. 23.04 WIB)

  8. Aku Jatuh Cinta Pada Hujan

    Minggu, 03 Januari 2010

    Aku Jatuh Cinta pada Hujan...
    Hari ini, hujan membangunkanku dari tidur. Hujan juga yang mengantarkanku tidur malam tadi. Entah kenapa, aku selalu jatuh cinta pada hujan, bahkan ketika aku 'kehujanan'-yah..suatu kondisi dimana hujan turun di saat yang menurutku tidak tepat. Tapi aku selalu menikmatinya. Membiarkannya membuatku basah.
    Aku ingin mandi hujan. ..

  9. Facebook Wujudkan Individualisme

    Sabtu, 17 Oktober 2009

    Feri dan Dani adalah rekan kerja di sebuah perusahaan advertising. Dalam perusahaan tersebut, Feri dan Dani dituntut untuk sering berdiskusi karena mereka adalah tim kreatif. Interaksi di antara mereka memang sering terjadi, diskusi tentang pekerjaan hingga kehidupan pribadi pun kerap dilakukan. Namun sayang, interaksi yang dilakukan tidak melalui tatap muka, melainkan melalui sebuah situs jejaring sosial bernama FACEBOOK. Feri merasa pembicaraan tatap muka dengan Dani tidak pernah berjalan lancar, dikarenakan kesibukan Dani dengan handphone canggihnya yang membuat Dani selalu online kapanpun dan dimanapun. Jadi, menurut Feri pembicaran melalui situs pertemanan tersebut lebih efektif.


    Cerita di atas hanyalah ilustrasi yang dialami banyak orang saat ini dan mungkin Anda salah satunya. Kecenderungan seseorang menggunakan facebook sebagai media komunikasi membuat interaksi tatap muka nyas dengan orang lain tidak baik. Dari ilustrasi di atas kita dapat simpulkan bahwa Dani lebih sering konsentrasi dengan handphone canggihnya yang selalu digunakan mengakses internet khususnya facebook. Sehingga, dalam pertemuan-pertemuan langsung dengan orang lain, Dani lebih memperhatikan handphone nya daripada orang yang sedang berbicara dengannya.


    Tak salah jika dikatakan bahwa facebook menciptakan manusia-manusia individualis. Manusia-manusia yang merasa bahwa facebook sudah cukup untuk menjalin komunikasi meskipun tanpa tatap muka.


    Keberadaan facebook memang telah mengubah perilaku komunikasi masyarakat. Hal ini sesuai dengan teori cultural studies yang salah satu cirinya adalah menempatkan teori kritis sebagai analisa. Pengertian teori kritis disini mencakup metode metadisiplin (beberapa ilmu alat yang dipertemukan, seperti semiotika, filologi, hermenetika, dan sebagainya) dan post-disciplinary (mengabaikan ilmu alat ketika analisa dirasakan telah mencapai upaya membangun teori baru). cultural studies akan menggiring kita kepada pemahaman bahwa setiap era (age), lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam.


    Cultural studies memberikan pemahaman bahwa setiap era itu mempunyai "kebudayaan" yang berbeda pula. Coba kita lihat dari kenyataan, dahulu handphone adalah alat komunikasi yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tapi sekarang kita lihat hampir seluruh masyarakat dunia menggunakan handphone, begitu juga dengan facebook. Mengapa dikatakan mengubah shift perilaku manusia? karena, di zaman ini, facebook seperti sebuah kebutuhan bahkan banyak yang sangat kecanduan.


    Manusia pengguna facebook mempunyai tambahan kesibukan sendiri untuk membuka facebook di era kini (now age). Sesuai sama theory cultural studies, bahwa setiap era itu mempunyai libido yang berbeda. Mungkin di masa yang akan datang, kebudayaannya akan berubah sesuai dengan perkembangan jaman.



    Hubungan Komunikasi Tatap Muka dan Moral


    Berdasarkan sebuah riset yang dilansir di Proceedings of the National Academy of Sciences Online Early Edition, emosi sangat erat kaitannya dengan kemampuan moral untuk mencerna berita serta sejumlah kejadian di dunia nyata.


    Aktivitas lain seperti membaca buku dan menemui teman-teman, bisa menonjolkan sisi moral manusia. Para ahli memperingatkan masalah ini bisa menyebarluas atau 'menulari' manusia lainnya. Terutama anak-anak yang otaknya masih berkembang.


    "Jika suatu hal berjalan dengan terlalu cepat, maka Anda tak akan mengalami sebuah emosi yang terkait dengan kondisi psikologi seseorang dan tak akan ada implikasinya ke moral seseorang," tutur dosen University of Southern California yang juga salah satu periset, Mary Helen.


    Studi tim Helen ini mempelajari respons manusia terhadap kisah-kisah nyata dalam kehidupan yang membutuhkan kasih manusia dalam menghadapi rasa sakit fisik dan sosial.


    Menurut sosiolog senior dari universitas yang sama, Manuel Castells, implikasi ini terlihat berbeda pada manusia yang berada dalam lingkungan digital. Ia mengkhawatirkan televisi atau permainan virtual yang arus informasinya mengalir begitu cepat.


    "Dalam sebuah kultur media, dimana kekerasan dan penderitaan tak ada usainya entah itu dalam fiksi maupun infotainment, ketidakpedulian pun terus meningkat," tutur Castells.


    Media digital bisa menyebabkan manusia makin jauh dari cara tradisional belajar nilai kemanusiaan. Atau cara interaksi sosial secara face-to-face. "Padahal pengalaman sosial membentuk interaksi antara tubuh dan fikiran yang membentuk masyarakat dengan moral yang kuat," katanya.


    Dunia elektronik yang ditawarkan internet memang menyimpan potensi keterhanyutan. Semakin kita akrab dengan dunia yang satu ini, semakin besar kemungkinan kita tercebur dan terhanyut di dalamnya. Semakin dekat kita, semakin susah kita untuk membedakan mana realitas maya, mana realitas sesungguhnya, karena realitas maya seringkali tampak lebih realistis dari realitas itu sendiri.


    Facebook sebagai fenomena komunikasi sosial dinilai sangat demokratis dikarenakan sangat horizontal. Namun, kalau tidak ada edukasi dan peringatan, facebook bisa menjadi virus yang melemahkan produktivitas dan menimbulkan individualisme dan ini kurang baik dalam konsep nation character building kita. Jadi facebook perlu didorong menjadi jaringan komunilasi sosial yang efektif dan produktif.
    (dimuat di Harian Global, 17 Oktober 2009)

  10. Salah satu pencitraan sebuah negara kini tidak hanya dilihat dari kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kekuatan militer. Olahraga pun menjadi sebuah pencitraan manis tentang bagaimana masyarakat dunia memandang sebuah negara. Sebuah pertanyaan besar akan penyebab kondisi keterpurukkan olahraga Indonesia agaknya sering terlontar dari benak pemuda-pemuda bangsa yang berniat untuk memajukan Indonesia.


    Pada dasarnya banyak hal yang menyebabkan keterpurukan kondisi olahraga Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika di beberapa daerah, minimnya fasilitas latihan serta pendanaan masih menjadi masalah klasik yang menghantui pembinaan-pembinaan olahraga.


    Ada sebuah hal unik yang dapat kita ambil jika olahraga mampu menganalogikan sebuah karakter bangsa.

    Minimnya prestasi olahraga kita saat ini ternyata berbanding lurus dengan minimya rasa nasionalisme bangsa Indonesia.


    Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia dirasa telah berkurang akibat pengaruh globalisasi. Arus informasi yang begitu luas secara tidak langsung telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia untuk materialisme. Beberapa kasus ditunjukkan oleh beberapa punggawa Tim Nasional PSSI yang menolak masuk Pelatnas akibat bayaran yang tak sepadan. Kasus kecil lain adalah tidak hafalnya beberapa punggawa Timnas akan 5 ayat dalam Pancasila. Contoh lain adalah maraknya kasus kepindahan atlet ke provinsi lain (saat PON 2008) demi mencari bayaran tinggi.


    Minimnya rasa nasionalisme yang melekat pada insan-insan olahraga Indonesia (bukan hanya atlet tapi hingga jajaran pengurus, bahkan beberapa elite politik) mengakibatkan turunnya daya juang para atlet. Sebagian insan olahraga tidak murni lagi memperjuangkan prestasi olahraga nasional untuk nama Indonesia, melainkan juga untuk hal-hal yang lain. Tak jarang kancah olahraga kita digunakan sebagai salah satu media kampanye seperti yang terjadi pada pilkada di beberapa daerah.



    Atlet dan Kesejahteraannya


    Tak jarang seorang atlet lebih memikirkan materi dalam setiap tugasnya. Kondisi tersebut tak sepenuhnya dapat disalahkan. Turunnya rasa nasionalisme atlet untuk mengharumkan nama bangsa bisa jadi muncul akibat kekecewaan atlet terhadap perilaku bangsanya sendiri yang tidak menghargai torehan prestasi mereka.


    Peribahasa habis manis sepah dibuang pun menjadi perasaan para atlet saat ini. Dilematika antara keinginan untuk mengibarkan bendera Indonesia di atas podium dengan permasalahan perut. Dalam setiap peluh latihan mereka pun muncul kekhawatiran akan nasib masa depan mereka saat tak mampu bersinar lagi.


    Isu untuk meningkatkan kesejahteraan atlet sebenarnya sudah digemborkan oleh Adhyaksa Dault pada tahun 2005 dengan program 1000 rumah bagi atlet berprestasi. Namun tetap saja isu tentang cara menyejahteraankan atlet tetap jadi permasalahan.


    Belakangan kini telah muncul sebuah paradigma bahwa ternyata pemerintah terlalu mudah memberikan atlet kail serta pancing tanpa memberitahu cara menggunakannya. Pemerintah mengklaim bahwa atlet kita kurang mampu mengelola kekayaan yang telah mereka dapatkan semasa bersinar.


    Permasalahan di atas pada dasarnya bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga tanggung jawab kita. Pertanyaan yang muncul saat ini adalah seberapa sering kita mengapresiasi dunia olahraga negeri ini?

    Seberapa sering kita menonton pertandingan olahraga secara langsung maupun tak langsung untuk mendukung Indonesia?


    Kesadaran akan kepedulian konkret untuk mengapresiasi dunia olahraga kurang terbangun di diri kaum muda. Sangat naif jika kita tak mampu belajar dari pendahulu kita para pemuda era perjuangan yang memang belum mampu berkontribusi besar untuk mengapresiasi dunia olahraga.


    Jika kaum belum mampu belajar untuk membangun hal itu, maka kemungkinan besar kita tetap tidak akan menghargai jasa para atlet masa depan Indonesia di masa yang akan datang. Bisa saja prestasi buruk olahraga Indonesia di masa kini dan masa datang akan tetap ada. Wajar jika adik-adik kecil kita yang tengah duduk di sekolah dasar hanya bercita-cita menjadi dokter, pilot, ilmuwan, dan profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan. Dan tak diherankan jika tak satupun dari mereka ingin menjadi atlet.


    Nama besar sebuah Negara tak hanya dilihat dari pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan militer. Nama besar sebuah Negara juga akan dilihat dari prestasi olahraganya. Begitu juga dengan Indonesia. Mari berpikir secara menyeluruh. Mulai saat ini, mari kita berpikir bersama memajukan olahraga Indonesia.

    (dimuat di Harian Global 8 September 2009)