Rss Feed
  1. Mencari dan mengolah Nira. Foto-foto: Andika Bakti.

    Jika dari Berastagi hendak ke Danau Lau Kawar, kita akan melewati sebuah kuta bernama Torong. Kuta adalah bahasa Karo yang sepadan dengan desa bagi Indonesia/Jawa. Torong masih di kawasan Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di sini ada deretan lapo tuak yang terletak di kedua sisi jalan. Lapo sendiri merupakan bahasa Batak yang berarti kedai. Dan lapo tuak adalah sebutan bagi kedai yang menu utamanya adalah tuak.



  2. Berdamai dengan Kenyataan

    Sabtu, 05 Januari 2013

    Tak ada yang perlu disesali dari sebuah peristiwa bernama kehilangan. Karena ia dirancang oleh Tuhan bukan tanpa alasan. Saya termasuk orang yang cukup sering merasakan ‘kehilangan’ sesuatu yang saya butuh dan sayang. Momen-momen kehilangan, bagi saya hanya menyesakkan di awal, kemudian, seiring waktu, ia berlalu. Saya masih percaya, orang-orang yang pernah kehilangan, pada akhirnya akan baik-baik saja.

    Saya akan ceritakan, bagaimana pada akhirnya saya berdamai dengan rasa kehilangan. Termasuk ketika pada akhirnya saya dihadapi kenyataan bahwa siap atau tidak, saya harus kehilangan kamu. Bahwa terima atau menolak, saya harus terbiasa dengan ketiadaanmu. Dari pada berlarut dengan penolakan yang tak merubah keadaan, atau menangisi hati yang mendadak sepi, berdamai adalah cara saya untuk mengobati hati.

    Saya belajar banyak dari pengalaman kehilangan sembilan handphone saya. Kehilangan dengan cara yang beda-beda dan rasa sakit yang juga tak sama. Pertama sekali kehilangan handphone, saat kelas 2 SMA, dengan cara dicuri seorang yang saya kenal. Saya sedih sejadi-jadinya. Selain sedih karena kehilangan handphone di masa liburan yang membuat saya harus kehilangan kontak dengan pacar, saya juga sedih merasa dihianati. Saya menangis di kamar, mengutuki keadaan.

    Beruntung, saya punya ayah jagoan. Ia selalu menanamkan nilai-nilai bahwa apapun yang kita miliki di dunia ini, hanya titipan. Itu sebabnya, apa yang menjadi milik kita bisa hilang kapan saja. Bisa jadi Tuhan ingin mengingatkan kita untuk merawat benda kesayangan, atau bisa saja benda kesayangan tak baik buat kita. Tuhan lebih tau.

    Berpijak pada nilai-nilai itu lah, saya mencoba berdamai. Belajar mengikhlaskan. Sulit memang. Apalagi untuk kasus kehilangan handphone yang pertama. Saya bahkan sempat dendam pada si pencuri. Tapi Ayah meyakinkan saya kalau meratapi kehilangan tak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, ayah meminta saya untuk membiasakan diri hidup tanpa handphone sampai ayah punya uang untuk belikan saya yang baru. “Dulu kita juga tak pakai HP!” katanya.

    Sejak saat itu hingga saya menulis ini, ada delapan momen kehilangan handphone lagi yang saya hadapi. Rasanya, tak seperih kehilangan yang pertama.

    Begitu juga saat saya kehilangan kamu. Kalau kamu masih ingat, di pembicaraan terakhir kita pada sebuah pagi yang gerimis. Tak pernah sedkitpun saya menunjukkan reaksi (eksplisit atau implisit) untuk mempertahankan hubungan kita. Atau untuk melarangmu ‘pergi’.

    Barangkali kamu sempat merasa tak berharga, atau menganggap keputusanmu untuk ‘pergi’ adalah keputusan tepat, karena toh saya tak keberatan sama sekali. Tapi ya beginilah saya.

    Pagi itu, saya sudah tahu tentang sesuatu yang kamu pikir saya belum tau. Saya paham kalau saya harus kehilangan sosokmu, dan saya cukup paham kenapa saya harus berusaha memahami kondisi itu. Saya putuskan untuk memudahkan jalanmu. Saya hanya mencoba berdamai dengan keadaan dan meyakinkan diri saya kalau Tuhan memang tak inginkan kamu dan saya menjadi kita.

    Saya memang tak pernah menangis setelah berakhirnya kita. Tapi bukan berarti saya tak sedih. Saya tak perlu jelaskan apa yang saya rasakan saat itu. Kamu tentu tau.

    Sampai saat ini, saat ketika saya tak lagi berani untuk bilang rindu, saat di mana jika saya mengirim pesan atau menyapamu akan diartikan sebagai ‘mengganggu’, saya tak pernah menyesali bahwa kita pernah bertemu dan saling rindu.

    Terlepas dari semua kelakuanmu, atau beberapa kebohonganmu, saya tak pungkiri kalau kamu ajarkan saya banyak hal. Tentang hidup, tentang cinta, tentang menghianati dan dihianati, tentang kesetiaan juga tentang harapan.

    Bagi saya, kehilangan, baik itu karena kelalaian ataupun ‘korban pencurian’ hanyalah sebuah proses dalam belajar untuk mengikhlaskan.



    juga ada di sini

  3. Ditemani Garis yang Tak Rapi

    Rabu, 19 Desember 2012


    Di suatu ketika menjelang dini hari
    Saat cahaya tak ada lagi
    Aku duduk di sini, di antara dua sisi
    Ditemani garis yang tak rapi

    Pada pagi yang belum bermentari
    Saat mereka hanyut dalam mimpi
    Aku masih di sini, sendiri dan menepi
    Ditemani hati yang tak pasti

    Waktu berlalu
    Tanpa sedikitpun pernah ragu
    Menyisakan rasa
    Yang terbelenggu sejak dahulu
    yang tak terkikis, 
    yang tak tertulis,

    aku masih di sini, sendiri dan menepi
    ditemani garis yang tak rapi
    ditemani hati yang tak pasti

  4. Desember

    Selasa, 11 Desember 2012



    Apa yang harus ditakutkan dari menjalani hidup di tempat yang lain?

    Kalau dipaksa menuliskan daftar ketakutan-ketakutan itu, aku pastikan aku tak bisa menulis satupun. Pada dasarnya aku bukan penakut. Secara empiris, aku terbukti kuat melewati hidup yang seringkali tidak mulus. Tapi memutuskan untuk pergi dari sini, seperti mati dan tak mungkin hidup lagi.

    Belum ada jawaban dari beberapa pertanyaan yang aku bingung apa, apalagi keputusan. Tak ada yang bisa diputuskan. 

    Ini bukan soal perbandingan angka-angka yang diterima tiap bulan. Atau soal perbandingan pengalaman di ‘dalam’ dan di ‘luar’. Ada sesuatu yang terus-terusan membuat ragu. Sesuatu yang selalu memaksaku untuk bisu.

    Aku sering dihadapkan pada pilihan-pilihan, pada dilema yang menyesakkan. Tapi aku belum pernah hadapi yang sesulit ini.




  5. Aku hanya bisa tertawa melihatmu yang sedang bercermin.
    Kau merasa jijik, kemudian menangis.
    Lagi-lagi aku cuma tertawa dan mengutuki betapa bodohnya kau.
    Apa yang kau pikirkan ketika kau memutuskan tidur dengan seorang lelaki?
    Cinta?
    Haha
    Bagi mereka, cinta hanya kata-kata indah dan perhatian lebih yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati tubuhmu dan memiliki kelaminmu.
    Kau melakukannya karena cinta.
    Mereka mencintaimu karena ingin melakukannya.
    Kau tahu apa bedanya kau dengan seorang pelacur jalanan?
    Bedanya hanyalah demi apa semua itu dilakukan.
    Kau demi cinta, mereka demi uang.
    Tapi setelah sperma itu keluar, kau atau mereka, akan sama-sama ditinggalkan.
    Seperti seonggok daging yang mulai busuk.
    Pelacur mendapatkan uang.
    Apa kau mendapatkan cinta?


    Cinta tak lagi ada setelah kau ditidurinya..



  6. Sebuah Ungkapan Terima Kasih

    Minggu, 16 September 2012



    KATA PENGANTAR
    Ada kelegaan yang amat sangat ketika akhirnya skripsi ini selesai, setelah sekian lama mengambang ditelan aktivitas dan kebuntuan. Pada akhirnya, limpahan karunia dan kekuatan hati yang diberikan Allah SWT sangat saya rasakan ketika skripsi ini selesai. Saya berhutang budi pada banyak pihak untuk terselesaikannya skripsi ini, dan dalam kesempatan ini saya ingin menyebut mereka sebagai ungkapan terima kasih.
    Pertama, rasa hormat dan terima kasih saya kepada Bang Haris Wijaya, dosen pembimbing yang begitu sabar dan pengertian, juga kepada Ibu Fatma Wardi Lubis yang menggantikan Bang Haris ketika ia harus ke Amerika. Terima kasih untuk segala masukan, nasehat dan perbaikan demi kesempurnaan skripsi ini. Kepada seluruh staf pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi, terima kasih untuk ilmu, pengalaman dan pelajaran yang telah diberikan selama empat tahun saya menjalani perkuliahan.

  7. Dia yang Sedang Menikmati Kebahagiaan

    Sabtu, 15 September 2012





    Bukan, bukan karena telah menjadi sarjana yang membuatnya bahagia. Ia pun bingung mencari alasan kebahagiaannya. Akhir-akhir ini, ia begitu mensyukuri hidupnya yang meskipun sederhana, tapi membuatnya bahagia. Ia sedang kebingungan bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya.

    Ia pun tersenyum menuliskan ini. Sudah lama sekali ia tak merasa begini. Ia sedang sampai pada titik lupa pada semua rasa sakit hati.

    Sekali lagi, ini bukan karena ia telah menjadi sarjana, atau sebentar lagi akan diwisuda, atau sudah terbebas dari pertanyaan “sudah sampai bab berapa?”. Ia bahkan tak begitu puas dengan sidang meja hijauya. “Flat,” katanya. Tak seperti apa yang ia pikir sebelumnya. 

    Ia juga tidak sedang jatuh cinta. Kisah cintanya akhir-akhir ini bahkan berpeluang besar untuk membuatnya tidak bahagia. Tapi saat ini, ia bahagia. 

    Katanya, Tuhan begitu baik padanya meski ia masih sering lupa kalau Tuhan masih ada. Katanya, orang-orang di sekelilingnya begitu baik padanya meski terkadang ia jahat pada mereka. Katanya, keluarganya sangat perhatian padanya meski ia sering malas menanyakan kabar mereka. 

    Ia kembali tersenyum. Bahagia. “Barangkali, saat merasa bahagia seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mati,” pikirnya.



    (Rabu, 5 September 2012 | 18.59)

  8. Tentang Hans

    Sabtu, 08 September 2012


    Kurang dari satu jam yang lalu, ketika ia sedang di atas motor sendiri, kenangan tentang sahabat lamanya terputar ulang. Lalu ia merasa rindu mulai menyerang. Sahabat itu, bernama Hans. Teman seangkatannya di sebuah organisasi pers mahasiswa di kampus kala itu. Aktivitas dan rutinitas di kampus lah yang membuat mereka dekat.

    Ia masih ingat ketika ia kembali dari kampung halaman dan tiba di terminal. Saat itu, ia merasa tidak enak badan. Hans lah yang bisa diandalkannya untuk menjemputnya ke terminal dan mengantar ke kos-kosan.

    Beberapa kali selalu ia repotkan Hans untuk menemaninya liputan ke luar kampus. Hans mengaku senang bila diajak liputan ke luar. Pernah, Hans menemaninya ke Galeri Tondi. Saat itu ada pameran seorang pelukis dari Jogja, ada juga penampilan musik dari Alm. Ben Pasaribu. Hans terlihat sangat bahagia menikmati lukisan dan pertunjukan. Hans tak peduli dengan resiko dimarahi karena terlambat datang rapat. Tiap pulang rapat, ia selalu minta diantar Hans, dan Hans mengantarnya tanpa pernah mengeluh.

    Kedekatan itu mulai renggang sejak Hans keluar dari organisasi karena suatu alasan. Ia sibuk, Hans sibuk. Berasal dari dua fakultas berbeda membuat tak pernah ada kegiatan atau kepentingan yang membuat mereka harus bertemu. Saling berkirim kabar lewat pesan singkat pun tak bertahan lama.
    Saat ini, sudah tiga tahun mereka tak saling memberi kabar. Ia sudah menjalani hidupnya, pun begitu dengan Hans. Tapi malam ini, mendadak ia rindukan Hans, sahabat lamanya. 


  9. Pada Suatu Pagi

    Sabtu, 25 Agustus 2012


    Sudah kuputuskan untuk menolak memberi tahu apapun tentang aku. Karena betapapun jelas aku deskripsikan, kau tak akan bisa paham. Kau tak merasakan, karena kau bukan aku.

    Ada memori yang pernah kita bagi, ada kenangan yang pernah kita ceritakan, ada rasa yang pernah kita utarakan. Tapi kali ini, aku memilih diam. Menyimpan rasa di tempat paling aman. Menahan setiap kata yang bisa saja keluar tanpa sengaja.

    Kalau boleh jujur, aku ingin sekali kau bisa ikut merasa, agar aku punya teman cerita, agar tawa kita segera menggantikan air mata—seperti biasanya. Tapi barangkali aku memang harus menangis sendiri, tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri. Lalu belagak sok berani, sok mandiri, sok bisa hidup sendiri.


    I miss our quality time

  10. Cuplikan Novel #2

    Selasa, 14 Agustus 2012

    “Kenapa kamu pengen banget mati, Bay?”

    “Aku penasaran Mbak, mati itu kayak gimana,” katanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

    “Kamu enggak perlu penasaran kali, Bay. Semua orang kan pasti bakal ngerasain mati.”

    “Tapi aku memang enggak pengen hidup lama, Mbak.”

    “Lha kenapa?”