Aku tidak merindukanmu,
Hanya ingin melihat lengkungan senyum itu,
Ingin mendengar ceritamu,
Ingin duduk diam menemanimu mengerjakan tugas-tugas itu,
Ingin kau marahi karena makananku tak habis lagi,
Ingin memukul kepalamu,
Ingin kau suruh segera pulang, karena kau tak punya teman berbincang
Ingin berjalan seiring di tengah keramaian,
Tidak, aku tidak merindukanmu,
(suatu siang yang hangat, 8 Agustus 2010. 14.48)
-
Aku Tidak Merindukanmu
Sabtu, 30 Oktober 2010
Posted by Wan Ulfa Nur Zuhra at 20.25 | Labels: Sastra | 2 comments | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |
-
Buntu!
Minggu, 17 Oktober 2010
Kata orang,
waktu paling tepat untuk menulis adalah ketika hati sedang gelisah
Dalam kegelisahannya di Pulau Buru, Pram menghasilkan tetralogi yang telah dan masih menyentak dunia.
Pun masih dalam sebuah kegelisahan, Chairil Anwar mampu merangkai puisi-puisi indah.
Saat ini aku gelisah.
Tapi aku tak punya ide untuk ditulis.
Buntu.
Kata orang,
Ketika tak tahu apa yang ingin ditulis, tulislah ketidaktahuan itu
Aku tulis itu
“Aku tidak tahu ingin menulis apa”
Tapi kalimatku berhenti di situ
Tidak mau mengalir seperti apa yang orang-orang janjikan
Aku tidak tahu apa-apa, tidak tahu ingin menulis apa, tidak tahu harus menulis apa jika aku tidak tahu ingin menulis apa
Aku tidak menulis apa-apa.
Buntu!
(suatu malam ketika aku tak tahu harus menulis apa, Medan, 27 Agustus 2010. 23.04 WIB)Posted by Wan Ulfa Nur Zuhra at 05.59 | Labels: Sastra | 0 comments | Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook |