Rss Feed


  1. Perjalanan, seperti apapun rupanya, tentu membahagiakan. Bahkan ketika salah memilih jalan, kehabisan makanan, terlambat pulang, dan terpaksa harus membuat repot banyak orang.
    Minggu malam di penghujung April, kaki saya yang gemetaran karena lelah berjalan terperosok masuk jurang. Pandangan pun mulai gelap. Tangan kiri saya reflek menyambar rimbun dedaunan dengan trekking pole masih tergenggam erat di tangan kanan. Kematian terasa dekat waktu itu.
    Beruntung seorang rekan mendaki bernama Rezza—dan memang hanya ada satu orang rekan mendaki—yang berada sekitar tiga meter di depan langsung berbalik badan dan menarik badan saya yang setengahnya masih mendarat di jalur pendakian. Saya gagal masuk jurang.
    |


  2. (Bukan) Catatan Akhir Tahun

    Selasa, 30 Desember 2014



    Dia memang tidak berencana menulis catatan yang serius semacam kaleidoskop tentang apa yang terjadi setahun ini, melainkan hanya catatan ringan tentang perasaan. Oleh sebab bukan rahasia, dia memutuskan mengunggahnya.
    Dia memintaku untuk menuliskannya. Dia tak keberatan orang-orang membaca apa yang dia pikir dan rasakan. Dia tak peduli orang itu teman, musuh, kenalan, rekan, keluarga, pacar, mantan, mantannya pacar, pacarnya mantan, mantannya mantan, atau entah sesiapa yang tak sengaja singgah. Kepada mereka, dia ingin berkata, silahkan baca kalau sanggup!
    |


  3. 25 di Jakarta

    Senin, 03 November 2014

    Ini foto nemu di Google Images

    Judul ini aku pilih tanpa keistimewaan apa-apa. Sesederhana karena sedang merayakan usia yang ke-25 di Jakarta. Di tulisan ini, aku akan lebih banyak cerita tentang Jakarta, bukan tentang 25.
    Iya, Jakarta. Sebuah kota yang aku tak pernah membayangkan—karena memang bayang-bayangnya saja enggan aku simpan di pikiran—akan menjadi kota tempat aku melewati beberapa tahun ke depan. (Aku sendiri tak tahu pasti akan berapa tahun, bisa 5, 10, atau mungkin selamanya, entahlah).
    Kota yang sumpek, kejam, busuk. Kota yang ketimpangan jelas terpampang dan kunikmati dalam tiap-tiap aku menyusuri jalanan. Sekarang, aku di sini.
    Aku masih ingat, saat pertama kali naik commuter line, melihat orang-orang berdesakan, berlarian, mendorong-dorong, memotong antrian. Aku melihat orang-orang yang egois, sedikit sadis. Aku hanya berjalan pelan, memperhatikan, sedikit menertawakan. Sempat aku menyalahkan manusia-manusia yang seakan kehilangan kemanusiaan.
    Lalu ketika aku naik Transjakarta yang penuh sesak. Merasa marah melihat orang-orang tua yang tak diberi tenpat duduk oleh orang-orang muda yang pura-pura tidur. Padahal jelas tertulis ‘priority seat’ di bangku yang mereka duduki.
    Aku juga sudah dua kali adu debat dengan pencopet yang gagal mencopet barang milikku. Orang-orang di sekitarku tak peduli, seakan itu bukan urusan mereka, sebab bukan mereka yang dicopet. Masa Bodoh.
    Ya, begitulah Jakarta dan segenap hiruk pikuknya. Lantas salah siapa? Salah apa?
    Aku pikir tak tepat jika menyalahkan manusia-manusia yang mendadak menjadi egois dan sadis, sebab busuknya Jakarta adalah kesalahan yang telah diciptakan sejak lama oleh penguasa, dan dilanjutkan secara terstruktur dan sistematis.
    Kota ini dijadikan pusat segala-gala, pemerintahan, perekonomian, bisnis, hiburan, pendidikan. Maka salahkah manusia-manusia dari segala penjuru berkumpul di sini?
    Semua orang dikejar waktu, semua orang kelelahan dengan rute panjang yang harus dilewati untuk sampai ke tempat kerja. Maka saat ini aku mulai berpikir, manusiawi ketika semuanya terlihat terburu-buru, individualis, dan sedikit egois. (Meski tak semuanya begitu, beberapa kali aku juga melihat mbak-mbak dengan ramah memberi kursi di bus pada seorang ibu)
    Ada pepatah sederhana yang bunyinya di mana ada gula, di situ ada semut. Ini semacam di mana ada pasar malam, di situ ada penjual kembang gula (Ah, aku mendadak ingin kembang gula).
    Bagaimana caranya kau bisa mengusir semut—tanpa membunuhnya—jika kau tumpuk gula di lantai dapur? Coba kalau gulanya disebar di halaman belakang rumah, ruang tamu, kamar tidur, ruang TV, pasti semutnya menyebar, mereka tak akan berkumpul di satu titik.
    Mengatasi banjir dan kemacetan di Jakarta, Ahok—atau siapapun gubernurnya kelak—mungkin akan ‘berdara-darah’ sebab manusia yang datang ke kota ini akan terus bertambah. Kebutuhan akan rumah akan terus meningkat. Jalanan akan terus padat. Sampah akan terus berlimpah.
    Aku salah satu contohnya. Aku menambah kepadatan kota ini. Juga teman-temanku yang juga dari Medan. Pagi tadi, teman dari Riau juga akhirnya meninggalkan kota yang ia cintai. Minggu depan, sahabatku juga akan hijrah ke kota ini.
    Kami semacam tak punya pilihan. Aku yang memang ingin menjadi wartawan akan sulit ‘berkembang’ jika bertahan di Medan. Pun teman-temanku, pun para imigran yang lain, mas-mas pengusaha pecel lele, mbak-mbak terapis di spa-spa, atau mahasiswa dari berbagai penjuru negeri.
    Jakarta bukan hanya rusak secara fisik, tetapi juga secara kultural. Orang-orang Betawi, pemilik Negeri Batavia ini semakin tersingkir dari tanahnya sendiri. Aku sendiri pesimis kota ini akan terbebas sepenuhnya dari macet dan banjir. Kita terlalu sibuk membenahi permukaan, hingga lupa pada akar persoalan.

    Kepada para penguasa, jika memang ingin menyelamatkan Jakarta, berhentilah menjadikannya pusat segala-gala!
    |


  4. Kita tidak membutuhkan waktu cukup lama untuk saling mencintai. Aku sudah mencintaimu saat pertama kali kita berbincang, saat aku bahkan belum tahu namamu.

    Iya, saat pada suatu malam kau menghampiri aku yang sedang berbincang dengan seorang bocah keriting[1] di atas atap. Kau yang tiba-tiba datang malah mendominasi pembicaraan. Kita mungkin tak akan berhenti berbicara jika aku tidak mengingatkan bahwa malam sudah larut dan kita semua harus tidur.

    Entah apa yang membuatku merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi aku cepat-cepat menolak rasa itu dan mengingatkan diriku sendiri bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki dan saat itu aku meyakini kami saling mencintai. Meski pada saat yang bersamaan aku merasakan ada sesuatu yang hambar antara aku dan dia, semacam kehilangan rasa atau entah apa namanya, dan itu sudah terjadi sebelum kita bertemu.

    Keesokan harinya aku tidak begitu ambil pusing denganmu. Aku bahkan tidak memperhatikanmu. Saat itu aku sedang berusaha meyakinkan diri bahwa hubunganku dengan kekasihku baik-baik saja. Meyakinkan diri bahwa aku masih mencintainya.

    Kau tentu tahu apa yang kemudian terjadi pada kita, bagaimana pada akhirnya kita menjadi semakin dekat, bagaimana kita terlalu sering memperhatikan satu sama lain, aku pikir tak perlu aku ceritakan lagi.

    Kau tentu masih ingat ketika secara tersirat aku mengatakan padamu bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan orang lain di malam ketika kita menikmati wedang jahe buatan seorang teman. Aku melihat air mukamu berubah. Saat itulah aku menyadari kau memang benar mencintaiku.

    Sampai pada akhirnya, beberapa hari setelah itu aku mengajakmu bicara dan dengan jujur aku utarakan perasaanku. Aku mengakui bahwa aku mencintaimu, tapi aku juga mengatakan bahwa gagasan tentang ‘kita’ harus dikubur dalam-dalam sebab aku tak mau menyakiti kekasihku. Meski aku sendiri tak yakin dengan hubunganku yang menurutku semakin sulit.

    Singkatnya, aku kemudian mengakhiri hubunganku dengan kekasihku. Dan ternyata kau yang juga sedang menjalin hubungan—meski kenyataan ini aku ketahui di kemudian hari—menyudahi hubunganmu.

    Di mata kekasihmu, kau mungkin terlihat jahat, aku pun begitu. Aku bahkan cukup lama berlarut-larut dalam rasa bersalah. Dan kau berulang kali meyakinkan kalau itu tidak perlu. Saat aku berkali-kali merasa jahat, kau juga terus meyakinkan kalau jahat dan baik itu tergantung dari mana dan siapa yang melihatnya. Kau benar, kita tidak mungkin terlihat baik di mata semua orang.

    Kita juga pernah melewati masa-masa sulit. Aku, lebih tepatnya. Hanya saja kesulitan itu berimbas juga padamu. Kau tentu tidak lupa masa-masa ketika untuk waktu yang cukup lama kita menahan keinginan nonton di bioskop. Bahkan kita harus berpikir ulang untuk makan di pecel lele pinggir jalan. Atau ketika kau mengutarakan kalau kau ingin sekali makan bebek goreng tapi kita hanya bisa makan di warteg. Dan ketika untuk beberapa hari kau terpaksa menahan keinginan merokok. Tapi kita tetap tertawa. Kita bahagia.

    Masa sulit itu sudah kita lewati, meskipun bisa jadi masa seperti itu akan datang lagi. Tapi aku yakin kita tidak akan kehilangan kebahagiaan. Kita selalu punya cara untuk tertawa, ada banyak hal yang bisa kita tertawakan, menertawakan diri sendiri misalnya. Atau menertawakan Timeh[2].

    Di depanmu, aku selalu bisa jadi diriku sendiri. Aku tak perlu takut terlihat bodoh atau terlihat jelak. Tak pernah khawatir terlihat cengeng atau kekanak-kanakan. Dan itu juga membahagiakan.

    Akan seperti apa kita nanti, kita tak akan pernah tau. Yang jelas, selama kamu dan aku masih menjadi kita, semoga kita tetap bisa saling membahagiakan.

    Selamat ulang tahun, kamu, kekasihku. Berbahagialah!




    [1] Bukan bocah dalam arti sebenarnya. Usia kami hanya terpaut empat tahun, hanya saja aku sudah menganggapnya adik.
    [2] Sejenis makhluk yang paling sering disalahkan 
    |



  5. Beberapa waktu lalu yang aku lupa entah kapan, kau pernah memarahiku sebab tak menghabiskan makanan. Hanya dengan berdasarkan itu, aku ambil kesimpulan kalau kau adalah orang-orang yang selalu selesaikan apa-apa yang sudah kau mulai. Ya, aku akui, untuk beberapa hal, aku cenderung terlalu cepat mengambil kesimpulan.

    Suatu hari, kau memulai sesuatu yang (kau pikir) seharusnya tak pernah kau mulai. Agar tidak berjalan terlalu jauh dengan sesuatu yang tidak seharusnya itu, kau ‘menyelesaikannya’. Iya, barangkali kau pikir kau sudah menyelesaikannya, padahal kau hanya sedang berlari, menghindar sebisanya, tak melihat sesuatu itu, tak mendengar apapun dari sesuatu itu, juga mengalihkan pikiranmu dari sesuatu itu pada sesuatu yang lain. Kau membuat jarak yang terlalu jauh untuk bisa diretas olehmu juga sesuatu itu.

    Kau berlari sangat jauh dan sesuatu itu sudah berhenti mengejarmu. Tapi kau dan sesuatu itu terus berjalan, ke arah yang kalian tak lagi saling tahu. Meski kau sudah membuang sesuatu itu sejauh mungkin, kau lupa kalau kau belum benar-benar melupakannya.

    Kau bisa saja berhenti memikirkannya saat kau sama sekali tak melihatnya atau mendengar sesuatu dari sesuatu itu, tapi apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba ia muncul di hadapanmu? Apa kau tetap akan berlari saat ia tersenyum, mengulurkan tangan dan kemudian menanyakan kabarmu?

    Kau tahu? Membuat jarak tak akan berhasil menyelesaikan apa-apa yang belum benar-benar selesai. Dan sepertinya, seuatu itu sedang sangat merindukanmu.

    (Malam terakhir di Brisbane)


    |


  6. It was Home

    Rabu, 29 Mei 2013




    Entah apa yang membuat manusia, pada satu titik ingin kembali ke masa lalu. Padahal jika mengingat kembali ke masa kecil, betapa ia ingin cepat menjadi orang dewasa. 

    Enam tahun lalu adalah momentum ketika keinginannya menjadi orang dewasa begitu kuat. Ia ingin hidup mandiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, ia bosan dengan ‘aturan rumah’ yang pada titik itu, menurutnya terlalu mengekang. Harus begini, tak boleh begitu, dengan alasan yang terkadang tak masuk akal. 

    Kini, ia bebas menetukan hidupnya sendiri. Tak ada ibu yang tiap pulang sekolah memeriksa buku-buku hingga ia selalu merobek kertas tiap nilainya jelek. Tak ada Abah yang marah-marah jika ia pulang malam, walaupun karena alasan belajar di rumah seorang kawan. Tak ada adik yang selalu merengek ingin mengekor ke mana ia pergi, tak peduli ia sedang ingin bicara serius dengan pacar. Mereka tak ada. Mereka berada di tempat yang jauh hingga tak punya kuasa dan daya untuk bertindak seperti biasanya.

    Ia sering merasa abahnya, ibunya, adiknya adalah orang-orang paling menyebalkan. Mood-nya sering berubah jadi jelek tiap ada mereka. Ia lalu berpikir, mengingat-ingat masa lalu. Benarkah begitu?

    Kemudian terbayang wajah abah yang mencucikan sepedanya hingga mengkilap. Terbayang dekapan ibu saat ia menggigil kedinginan, dan adik yang rela sisihkan uang jajan untuk belikan dia kado sederhana.

    Lalu ia merindukan mereka. Ia rindu dimarahi, ia rindu menerima sms yang menyuruhnya segera pulang. Ia rindu teriakan ibu yang menyuruhnya segera makan. Ia rindu kamarnya yang dipenuhi poster, yang selalu dipandanginya, terkadang diajak bicara. Seolah Aston Kutcher, Eminem, Daniel Radcliff, hingga Ariel Peterpan peduli dan memperhatikannya yang sedang tak bisa tidur. Ia rindu suara abah yang menyebalkan tiap tahu kalau sudah jam enam tapi ia belum sholat Subuh. Ia rindu adik yang sering teriak di telinganya untuk bangunkan dia dari tidur siang yang indah. Ia merindukan rumah. Rumah yang sekarang hanya menjadi tempatnya singgah. 

    It wasn’t paradise, but it was home.



    |


  7. Kepada Siang

    Minggu, 17 Februari 2013




    Entah apa yang membuatku tiba-tiba ingin menulis sesuatu untuk kau baca. Tapi apapun sesuatu itu, kau baca sajalah! Pun jika kau tak punya waktu untuk membalas, baca sajalah!

    Siang, kau tau kan kalau aku tak pernah menyukaimu? Aku selalu benci jika kau datang, dan aku selalu ingin kau cepat-cepat digantikan malam. Kau ingin tau mengapa? Karena kau hanya memberi terik, rasa lapar, haus, debu, polusi. Kau tak seperti pagi yang menyuguhkan kesegaran, atau malam yang membawa gagasan. 

    Siang, surat ini kutulis saat aku sedang bersama malam. Malam yang tak ada orang dan kelihatan suram. Tapi Siang, saat ini tak sedikitpun kurasakan kelam.  Malam selalu memberiku kebahagiaan, kebebasan, kemerdekaan. Aku bebas lakukan apapun yang kusuka, seperti menulis surat untukmu ini.

    Tak seperti kau, bukan? Kau selalu memaksaku melakukan ini itu. Aku pun hanya bisa menuruti maumu, entah mengapa. Seakan aku bukan manusia merdeka. Tapi ya sudahlah, bukan itu yang sebenarnya ingin aku sampaikan padam malam ini.

    Siang, akhir-akhir ini aku semakin takut pada orang-orang yang kupikir baik. Beberapa dari mereka yang kukira baik, ternyata tidak. Mereka hanya kelihatan baik. Tapi siang, mereka sebenarnya jahat. Mereka tak benar-benar baik padaku. Aku tak paham apa yang sebabkan mereka begitu.

    Aku mengadu padamu, sebab aku ingin tau gagasanmu tentang seperti apa seharusnya aku menghadapi orang-orang palsu. Jika kau ada waktu, balaslah suratku.

    Aku tak ingin jadi palsu, tapi tetap ingin mereka jadi temanku, bagaimana menurutmu? Apakah mungkin bisa begitu?

    Barangkali seperti aku yang tak menyukaimu, lalu aku katakan, namun kita masih tetap bisa berteman.
    |


  8. Tulisan yang mengendap 1

    Selasa, 12 Februari 2013



    Aku pikir, aku tak akan pernah bisa membencimu. Tapi kenyataan yang baru aku sadari kemarin cukup untuk membuatku bahkan malas untuk mengingatmu. Kau tahu? Aku bukanlah orang yang akan mempersoalkan perasaan. Aku cukup paham bagaimana perasaan seseorang bisa berubah begitu saja, aku mengerti betapa cinta tak bisa diterka. Yang aku tak pernah bisa paham adalah, kebohongan yang kau ciptakan begitu lama. 

    Kenyataan kalau kau mencintai orang lain, aku bisa terima. Yang menyakitkan adalah fakta bahwa kau tak pernah katakan itu padaku, hingga aku tahu karena ‘membaca’ sesuatu. Kau bahkan tak pernah tahu kalau aku tahu semua kebohonganmu. Tapi aku akan terus membiarkannya begitu. Setidaknya, dengan begini, aku sudah punya alasan untuk bersyukur akan kepergianmu.

    12 November 2012 | 4:36:58 PM
    |


  9. Thought

    Rabu, 30 Januari 2013



    Akan aku apakan hidup yang barangkali tidak lama?




    Di malam-malam sebelum tidur, saat lampu kamar sudah dimatikan, playlist ‘Go to Bed’ sudah diputar, tapi mata belum terpejam, otak masih berpikir, dan kuping masih mendengar,  aku seringkali menatap langit-langit kamar, lalu berpikir tentang sesuatu.

    Aku. Akan jadi apa aku? Akan aku apakan hidupku? Apa aku mampu jadi sesuatu dengan berbuat sesuatu? Apa sisa hidupku cukup untuk mewujudkan mimpi satu demi satu? Dan apakah mimpiku hanya mimpi-mimpi egois sebagai invidu? 

    Aku menggarisbawahi frase mimpi-mimpi egois sebagai individu. Belakangan, frase itu cukup menghantui. Aku takut, mimpiku hanya mimpi yang individualis. Karena jika sudah begitu, yang akan aku pikirkan hanyalah hidupku, pencapaianku, kebahagiaanku. Di titik ini, aku merasa, manusia tak sepantasnya begitu. Atau barangkali sudah sifat dasar manusia itu begitu?



    |