Rss Feed
  1. Tentang Merawat Harapan

    Senin, 14 November 2011


    “Yang harus kita lakukan hanyalah merawat harapan”

    Itu isi pesan singkatmu waktu itu. Mungkin kau pun sudah lupa pernah menuliskannya untukku.

    Kalimat itu aku tulis di selembar kertas dan aku tempel tepat di samping tempat tidur di kamar kosku dulu. Alasannya sederhana, untuk mengingatkan diri sendiri agar terus merawat harapan. Aku membacanya tiap akan dan bangun tidur.

    Pertama kali mendengar kalimat itu, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana cara merawat harapan? Apakah ia seperti merawat tanaman? Atau merawat hewan peliharaan? Merawat orang sakit barangkali?

    Atau mungkin ia lebih mirip merawat rumah? Kendaraan? Elektronik?

    Harapan adalah sumber masalah, tanpa harapan, tak akan ada masalah—jika masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Apakah merawat harapan berarti merawat sumber masalah?

    Jelas tidak, jika kenyataan sesuai dengan harapan yang dirawat.

    Bagaimana jika kenyataan memaksa kita untuk merawat harapan dalam jangka waktu yang tak tentu? Ketika kita merawat harapan, kita tentu tak ingin terus merawatnya. Kita tentu ingin suatu saat menghadapi kenyataan yang sesuai dengan harapan. Kata harapan dihapus dan diganti dengan kenyataan.

    Merawat harapan mungkin seperti bermimpi dan terus tidur. Kita tak diberi waktu untuk bangun, bangkit, dan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Merawat harapan berarti membiarkannya terus menjadi harapan. Berlapis-lapis harapan. Benarkah begitu?

    Entahlah, aku pun bingung mendefinisikannya. Seperti kita, yang belum dan mungkin tak akan pernah terdefinisi.
    |


  2. 1 comments:

    1. naturaldisaster mengatakan...

      makany tante malas berharap,dek.. jalani aja dan nikmati apa yg bisa kamu miliki sekarang..
      failure doesn't hurt people. hope does.

    Posting Komentar