Rss Feed
  1. Mari membangun kampung halaman sendiri! Begitulah seruan dari Raja Inal Siregar di tahun pertama ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Sebuah konsep yang dulu sempat populer dan kini masih diingat.


    Senin, 5 September 2005, Hotmaria Siregar yang saat itu berusia 37 tahun sedang mengendarai mobilnya menyusuri padatnya jalanan Kota Jakarta untuk menjemput anaknya dari play group. Dari radio di dalam mobilnya, ia dengar berita tentang jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang membawa Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Rizal Nurdin dan mantan Gubernur Sumut. Pesawat itu gagal lepas landas dari Bandara Polonia ketika ingin menuju Jakarta.
     


    |


  2. Bulan Ke Dua

    Senin, 11 Juni 2012



    Bulan ke dua itu, kelegaan dan kehilangan mengatur jadwal untuk bisa datang berdua.
    Masih di bulan ke dua itu, pertemuan dan perpisahan berkunjung di waktu bersamaan.

    Lalu ada perjalanan.
    Dalam perjalanan, apa yang sudah berpisah, bertemu lagi, lalu berpisah lagi, lalu tak akan bertemu lagi.


    |




  3. Saya merasa lucu ketika mendengar seorang teman berkata begini, “Aku tidak berbohong, aku hanya sedang menyembuyikan kebenaran.”

    Apa bedanya?
    Bagi saya, kebenaran yang disembunyikan, yang kalau dikatakan akan mengubah suatu keadaan menjadi tidak seperti yang diinginkan adalah sebuah kebohongan. Ya, mereka yang begitu, tetap saja pemboohong.
    Misal, misal nih yaaa… saya punya pacar yang kebetulan sedang berada jauh dari saya. Lalu pada suatu ketika saya pergi ke toko buku sama laki-laki lain, ya katakanlah dia selingkuhan. Si pacar nanya, saya di mana. Saya bilang lagi di toko buku. Nah, dia enggak nanya lagi saya sama siapa, tapi malah nanya, saya nyari buku apa. Pembicaraan pun berlanjut tentang buku. Dan dia enggak pernah tahu kalau saya ke toko buku sama laki-laki lain.


    |


  4. #LIMA JUNI (Menjadi Tolol)

    Selasa, 05 Juni 2012


    Kadang merasa tolol mengingat hal-hal tolol. Tapi untuk beberapa alasan, menjadi tolol terkadang membahagiakan. 

    Saya mungkin sering menertawakan orang yang melakukan hal tolol karena mencintai seseorang. Misal, rela enggak masuk kuliah karena harus jemput pacar, mau digantung bertahun-tahun karena memang tidak bisa mencintai orang lain, Ikhlas enggak ikut keluarga liburan ke luar negeri karena udah janji nemenin pacar. Melihat orang lain begitu, saya pasti bilang ‘dia tolol’. Tapi sadar atau enggak, ketololan karena mencintai orang lain juga pernah saya lakukan. Ah, tak perlu saya jelaskan bentuk ketololan seperti apa. Yang jelas, ketika kenangan-kenangan tolol itu diingat kembali, saya Cuma bisa membatin, “How fool I was.”


    |





  5. Aku mengenal Harapan dua tahun lalu, ketika aku dan Harapan sama-sama dikhianati kenyataan. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Kepadaku ia ceritakan segala sesuatu. Aku dan Harapan bergantian menjadi telinga. 

    Sejak saat itu, aku putuskan untuk merawat Harapan. Menjaganya bersama semua benda yang aku simpan di rumah. Sesekali Harapan ke luar rumah. Berjalan sendirian atau terkadang berlari bersama teman lamanya. Tapi ia tak pernah lupa pulang. Harapan selalu membukakan pintu untukku. Harapan tak pernah absen membangunkanku dari tidur. Ia juga yang mengantarku ke tempat tidur. 


    |




  6. Bad Mood. Sebuah kondisi jiwa yang pasti dialami setiap orang. Kondisi yang membuat yang mengalaminya malas melakukan apa-apa. Dan menulis dalam keadaan bad mood adalah cobaan terbesar dari semesta.
    Ada sesuatu yang nyaris membuncah, yang harus ditahan agar tidak keluar, agar tak menyakiti orang. Pun sesuatu itu tak boleh dituliskan, masih agar tidak menyakiti orang. Pada akhirnya aku hanya bisa manikmati sakit di diri sendiri.

    Kalau sudah begini, tak akan ada yang bisa ditulis. Hanya tulisan sampah. Ya begini ini. menuliskan ke bad mood-an, menuliskan ketidakmampuan untuk menulis dalam keadaan bad mood, dan menjadikan bad mood sebagai excuse dari ketidakmampuan menulis dalam kondisi apapun.


    |