Rss Feed
  1. Kepada Penghuni Rumah Tanpa Jeda

    Kamis, 26 Januari 2012



    Orang-orang datang dan pergi. Yang datang akan menjadi harapan, dan yang pergi hanya akan menjadi kenangan.


    Aku pernah datang, dan pernah menjadi harapan. Sekarang, aku harus pergi dan nanti hanya menjadi kenangan. Hanya menjadi catatan sejarah. Itu pun kalau aku penting untuk dikenang atau dicatat sebagai sejarah.

    Entah apa yang membuatku begitu betah, begitu mencintai rumah ini. Di rumah ini jelas tak ada kemewahan, jelas tak ada pelayanan khusus. Hanya ada kesederhanaan yang sangat sederhana. Sesederhana penghuni-penghuninya.

    Ketika pertama kali ditabsihkan menjadi penghuni rumah ini, tak pernah terbayang olehku akan menjadi kepala keluarga di sini. Menjadi bapak yang mengurusi 40 lebih anak.

    Seperti layaknya sebuah keluarga, setiap anak punya watak beda-beda, punya karakter yang tak sama. Ada yang penurut, ada yang suka membangkang, ada yang malas, ada yang manja, ada juga yang sangat mandiri sampai-sampai aku merasa tak dibutuhkan, banyak juga yang cengeng, tak sedikit yang bawel, banyak lah. Tak bisa aku deskripsikan satu per satu.

    Aku, sebagai kepala keluarga harus bisa memahami mereka satu per satu. Agar tau bagaimana cara menghadapi mereka. Agar mereka nyaman tinggal di rumah. Awalnya, aku pikir aku bisa. “Ah, memahami memang tak mudah, tapi itu bukan hal yang begitu sulit,” pikirku waktu itu.

    Tapi aku salah. Memahami 40 orang bukan hal mudah. Tak jarang aku salah memahami. Entahlah, entah aku yang tak bisa paham mereka atau mereka yang tak bisa paham maksudku. Apapunlah, harusnya aku bisa membuat mereka betah di rumah. Tapi nyatanya, banyak yang minggat. Banyak yang pergi dan tak mau kembali lagi ke rumah. Beberapa pamit dan sempat mencium tanganku sebelum pergi. Beberapa pergi begitu saja, lalu tak kembali-kembali.

    Aku memang sering marahi mereka. Tapi marahku bukan tanpa alasan. Aku tak mau anak-anakku mengulangi kesalahan, makanya kumarahi. Bukan karena aku benci mereka, buat apa aku buang-buang energy untuk marah? Apa mereka pikir marah itu tidak melelahkan? Marah selalu membuat dadaku sesak. Dan itu adalah kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin kudiamkan kalau anak-anakku melakukan kesalahan.

    Beberapa anak bilang aku tak adil. Ada yang menurut mereka pantas dihukum tapi tak kuhukum. Ada juga yag menurut mereka tak pantas kuhukum, tapi kuberi hukuman. Bagiku, memberi hukuman adalah untuk membuat jera, bukan untuk mencelakai. Beberapa anak yang mendapat hukuman malah berpikir aku tak sayang mereka. Ah, entahlah. Biarkan saja mereka pada pikirannya. Kelak mereka juga akan paham.

    ***

    Hanya menghitung jam, aku akan meninggalkan rumah. Jangan takut. Kalian akan punya bapak baru. Semoga bapak baru lebih baik dari aku. Semoga bapak baru sudah belajar banyak dari kesalahanku. Semoga ia bisa paham kalian satu per satu. Semoga ia bisa adil, seperti yang kalian mau.

    Pesanku buat kalian, jagalah rumah kita. Bantulah bapak baru menjaga saudara-saudara kalian, agar tak ada lagi yang minggat. Ia tak akan sanggup menjaga kalian semua sendirian. Pahamilah saudara kalian satu-satu. Janganlah berkelahi sesama kalian. Kalau kalian marah pada bapak baru, bicarakan dengan baik-baik. Jangan kalian bentak dia atau minggat dari rumah.

    Seperti kalian, bapak baru pun manusia Nak, dan manusia tak mungkin tak lakukan kesalahan. Tapi janganlah kalian lantas memusuhinya. Seperti aku, bapak baru pastilah sayang kalian semua. Bantu bapak baru menjaga rumah kita, mengharumkan nama keluarga kita. Sama-sama lah bekerja Nak! Kerjakan apa yang kalian bisa kerjakan.

    Sebelum aku pergi, aku ingin ucapkan terima kasih. Kalian anak-anak hebat. Meski sering buat aku kesal, tapi kalian bisa dengan cepat buat aku tenang, lalu tertawa. Terima kasih sudah bantu aku mengurus rumah setahun ini.

    Aku pun mau minta maaf Nak, mungkin salahku banyak, mungkin banyak kata-kataku yang menyakiti kalian, tapi sungguh, aku tak pernah benci kalian. Kalaupun aku pernah berkata kasar, itu hanya aku sedang emosi. Maaf untuk semua itu.

    Selamat tinggal. Entah seperti apa rinduku pada kalian nanti.


    |


  2. 0 comments:

    Posting Komentar