Rss Feed
  1. Dia yang Sedang Menikmati Kebahagiaan

    Sabtu, 15 September 2012





    Bukan, bukan karena telah menjadi sarjana yang membuatnya bahagia. Ia pun bingung mencari alasan kebahagiaannya. Akhir-akhir ini, ia begitu mensyukuri hidupnya yang meskipun sederhana, tapi membuatnya bahagia. Ia sedang kebingungan bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya.

    Ia pun tersenyum menuliskan ini. Sudah lama sekali ia tak merasa begini. Ia sedang sampai pada titik lupa pada semua rasa sakit hati.

    Sekali lagi, ini bukan karena ia telah menjadi sarjana, atau sebentar lagi akan diwisuda, atau sudah terbebas dari pertanyaan “sudah sampai bab berapa?”. Ia bahkan tak begitu puas dengan sidang meja hijauya. “Flat,” katanya. Tak seperti apa yang ia pikir sebelumnya. 

    Ia juga tidak sedang jatuh cinta. Kisah cintanya akhir-akhir ini bahkan berpeluang besar untuk membuatnya tidak bahagia. Tapi saat ini, ia bahagia. 

    Katanya, Tuhan begitu baik padanya meski ia masih sering lupa kalau Tuhan masih ada. Katanya, orang-orang di sekelilingnya begitu baik padanya meski terkadang ia jahat pada mereka. Katanya, keluarganya sangat perhatian padanya meski ia sering malas menanyakan kabar mereka. 

    Ia kembali tersenyum. Bahagia. “Barangkali, saat merasa bahagia seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mati,” pikirnya.



    (Rabu, 5 September 2012 | 18.59)
    |


  2. 0 comments:

    Posting Komentar