Rss Feed
  1. It was Home

    Rabu, 29 Mei 2013




    Entah apa yang membuat manusia, pada satu titik ingin kembali ke masa lalu. Padahal jika mengingat kembali ke masa kecil, betapa ia ingin cepat menjadi orang dewasa. 

    Enam tahun lalu adalah momentum ketika keinginannya menjadi orang dewasa begitu kuat. Ia ingin hidup mandiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, ia bosan dengan ‘aturan rumah’ yang pada titik itu, menurutnya terlalu mengekang. Harus begini, tak boleh begitu, dengan alasan yang terkadang tak masuk akal. 

    Kini, ia bebas menetukan hidupnya sendiri. Tak ada ibu yang tiap pulang sekolah memeriksa buku-buku hingga ia selalu merobek kertas tiap nilainya jelek. Tak ada Abah yang marah-marah jika ia pulang malam, walaupun karena alasan belajar di rumah seorang kawan. Tak ada adik yang selalu merengek ingin mengekor ke mana ia pergi, tak peduli ia sedang ingin bicara serius dengan pacar. Mereka tak ada. Mereka berada di tempat yang jauh hingga tak punya kuasa dan daya untuk bertindak seperti biasanya.

    Ia sering merasa abahnya, ibunya, adiknya adalah orang-orang paling menyebalkan. Mood-nya sering berubah jadi jelek tiap ada mereka. Ia lalu berpikir, mengingat-ingat masa lalu. Benarkah begitu?

    Kemudian terbayang wajah abah yang mencucikan sepedanya hingga mengkilap. Terbayang dekapan ibu saat ia menggigil kedinginan, dan adik yang rela sisihkan uang jajan untuk belikan dia kado sederhana.

    Lalu ia merindukan mereka. Ia rindu dimarahi, ia rindu menerima sms yang menyuruhnya segera pulang. Ia rindu teriakan ibu yang menyuruhnya segera makan. Ia rindu kamarnya yang dipenuhi poster, yang selalu dipandanginya, terkadang diajak bicara. Seolah Aston Kutcher, Eminem, Daniel Radcliff, hingga Ariel Peterpan peduli dan memperhatikannya yang sedang tak bisa tidur. Ia rindu suara abah yang menyebalkan tiap tahu kalau sudah jam enam tapi ia belum sholat Subuh. Ia rindu adik yang sering teriak di telinganya untuk bangunkan dia dari tidur siang yang indah. Ia merindukan rumah. Rumah yang sekarang hanya menjadi tempatnya singgah. 

    It wasn’t paradise, but it was home.



    |


  2. 3 comments:

    1. aizeindra yoga mengatakan...

      T.T maaaaak

    2. Fatimah Zahrah mengatakan...

      AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... tumben-tumbenan galau kita beririsan aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkk~

    3. Wan Ulfa Nur Zuhra mengatakan...

      duh, kalian... pulang lah, selagi masih bisa pulang. ;)

    Posting Komentar