Rss Feed
  1. (Bukan) Catatan Akhir Tahun

    Selasa, 30 Desember 2014



    Dia memang tidak berencana menulis catatan yang serius semacam kaleidoskop tentang apa yang terjadi setahun ini, melainkan hanya catatan ringan tentang perasaan. Oleh sebab bukan rahasia, dia memutuskan mengunggahnya.
    Dia memintaku untuk menuliskannya. Dia tak keberatan orang-orang membaca apa yang dia pikir dan rasakan. Dia tak peduli orang itu teman, musuh, kenalan, rekan, keluarga, pacar, mantan, mantannya pacar, pacarnya mantan, mantannya mantan, atau entah sesiapa yang tak sengaja singgah. Kepada mereka, dia ingin berkata, silahkan baca kalau sanggup!

    Baginya, ini akhir tahun yang pilu. Tak jauh beda dengan akhir tahun lalu. Barangkali hal-hal menyedihkan memang lebih suka datang pada akhir tahun. Sore ini, dia sedang menghitung-hitung, berapa persen pertumbuhan atau perlambatan kepiluannya pada akhir tahun ini jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
    Dia juga tengah memprediksi, kira-kira kepiluan tahun depan akan tumbuh atau merosot? Faktor apa saja yang memengaruhi? Apa saja tantangan dan peluang untuk menjadi lebih pilu tahun depan? Dia paham, menghitung besaran kepiluan tak semudah menghitung pertumbuhan laba, atau pendapatan, atau hasil investasi. Memprediksi tantangan dan peluang kepiluan juga tak semudah memprediksi IHSG. Aku pikir dia harus menelpon analis. Analis hati.
    Dia bilang padaku, menulis seperti ini adalah caranya mengusir kepiluan (yang menulis kan aku?). Bersenang-senang dengan berbicara menulis yang entah apa adalah cara dia melupakan bahwa saat ini ada banyak hal yang menyesakkan.
    Tadi dia sempat menonton televisi, tapi siaran langsung tentang ditemukannya puing-puing pesawat AirAsia membuatnya semakin ingin menangis.
    Di perjalanan pulang dari kantor ke kos-kosan, dia juga sempat singgah ke Karet Bivak, menziarahi makam, berhenti di makam Pram, berharap mendapat aura ketenangan dari yang sudah mati, sebab mencari ketenangan dari yang hidup agaknya makin sulit baginya, akhir-akhir ini.
    Duduk di makam, memang menenangkan, terlebih jika udara Jakarta sedang bagus-bagusnya. Hiraukan klakson kendaraan yang berisik. Fokus saja pada suara angin, bau tanah, dan cicit burung, juga wangi rumput usai diterpa gerimis. Ah, dia merasa menjadi seorang introvert hari ini. Ternyata, menjadi introvert cukup menyenangkan, pikirnya. Dia tak perlu orang lain untuk bisa bersenang-senang.
    (saat menuliskan itu aku menoleh kepadanya, “You need me!” kataku. Dia tak menggubris, maka aku lanjut menulis)
    Namun, dalam perjalanan pulang dari makam, dia ragu kalau ia telah bersenang-senang. Dia hanya menganggapnya begitu, tetapi sebenarnya tidak.
    Aku sebenarnya tahu dan ingin sekali menceritakan apa yang menjadi sumber kepiluannya. Sebab aku bisa membaca pikirannya. Tetapi dia menolak. Memaksaku menyimpan rahasia. “Cukup tulis bahwa aku sedang pilu, kau tak perlu tulis apa penyebabnya,” ucapnya sedikit berteriak.
    Sebagai seorang scorpio yang dilahirkan untuk menyimpan rahasia, aku bisa apa?
    Ada satu hal penting yang ingin dia katakan pada seseorang atau (mungkin) beberapa orang yang aku tak boleh sebutkan nama dan identitasnya. Begini katanya:
    “Kita memang tidak luput dari kesalahan. Kau menciptakan kekesalan-kekesalan, yang kau lakukan dengan sadar atau tidak. Aku juga demikian. Kita begitu sering mengatakan ‘maaf’ usai melakukan kesalahan. Lalu apa? Apa kita lantas akan baik-baik saja? Aku pikir tidak. Untuk beberapa hal, maaf tidak cukup ampuh memperbaiki suasana hati yang sudah terlanjur kau buat buruk.”
    Aku melarangnya menulis lebih panjang tentang itu, aku paham dia sedang emosi, aku hanya kuatir, kata-katanya akan menyakitkan.
    Aku kemudian bertanya padanya, “Apa yang kau harapkan dari menulis ini?”
    Jawabannya hanya satu kata, “Entah!” Lalu dia pergi tidur. Aku melihat matanya terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Ah, begitulah dia…
    |


  2. 4 comments:

    1. Black Blank mengatakan...

      kakaaak....

    2. Black Blank mengatakan...

      kakaaak....

    3. Wan Ulfa Nur Zuhra mengatakan...

      Adiiiik.... I miss the way we talk about anything. Right now, I wiss you were here.

    Posting Komentar