Rss Feed
  1. Budayakan Menulis

    Jumat, 04 September 2009

    Tulisan ini berawal dari beberapa artikel yang penulis baca tentang minimnya jumlah produksi buku di Indonesia. Tak jarang, hal tersebut selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah jumlah produksi buku di Indonesia hanya bergantung pada minat baca masyarakat?


    Penulis jadi teringat akan ucapan seorang senior yang menyatakan bahwa orang yang gemar menulis, pastilah sering membaca. Tetapi, orang yang gemar membaca belum tentu bisa menulis.


    Masyarakat yang gemar menulis secara otomatis akan sering membaca dan pasti akan membutuhkan buku lebih banyak. Tak hanya membutuhkan, bahkan menghasilkan. Logikanya, untuk menulis satu buku, paling tidak seorang penulis membutuhkan lima buku referensi, pembanding, atau bahan bacaan.


    Mohammad Diponegoro menyatakan bahwa tugas penting seorang pengarang atau penulis adalah membaca. Kegiatan itu diperlukan untuk membuka diri terhadap cakrawala dan pikiran baru.


    Selama ini masyakat Indonesia dalam bidang perbukuan lebih banyak berperan sebagai konsumen saja. Hanya menjadi pembaca. Padahal, untuk meningkatkan minat baca, masyarakat Indonesia juga harus didorong untuk memiliki keterampilan menulis.


    Menurut catatan terakhir, Indonesia yang penduduknya 250 juta jiwa hanya menerbitkan 8000 buku. Jumlah yang cukup memalukan jika dibandingkan dengan Vietnam yang mampu menerbitkan 15.000 buku dengan jumlah penduduk yang hanya 80 juta jiwa.


    Angka tersebut jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jepang. Setiap tahunnya, Jepang mampu menerbitkan 60.000 judul buku, sementara Inggris jauh lebih besar lagi, mencapai 110.155 judul buku per tahun. Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku, belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan).


    Perbedaan jumlah produksi buku yang sangat jauh tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan budaya orang Indonesia dan Negara lain. Masyarakat di luar negeri sudah memasuki budaya menulis, sedangkan di Indonesia masih sibuk dengan budaya membaca.


    Saat ini, masih sangat sulit mencari penulis di Indonesia. Padahal, seharusnya menulis buku bisa dilakukan oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan dosen. Namun, tak banyak dari kalangan tersebut yang mau menulis. Alasanya cukup sederhana, "tak punya banyak waktu".


    Hambatan lain yang menyebabkan kalangan dosen enggan menulis adalah minimnya imbalan menulis yang diterima penulis. Kegiatan atau kebiasaan menulis tidak menjadi bagian kegiatan dosen di perguruan tinggi. Kalaupun ada, hanya beberapa saja. Sementara di luar negeri, kegiatan menulis sudah menjadi bagian dari kegiatan seorang dosen sehari-hari.


    Karena sedikitnya orang Indonesia yang mau menulis, sampai saat ini penerbit di Indonesia masih banyak melakukan proses jemput bola untuk mendapatkan stok tulisan yang akan diterbitkan menjadi buku. Karena tersedianya sebuah tulisan untuk penerbit sangat penting dalam menjaga kelangsungan produksi buku di perusahaannya.


    Untuk memenuhi kebutuhan produksi, penerbit harus berburu buku-buku terjemahan dengan memasang agen pencari penulis buku atau literary agent di luar negeri. Di Indonesia, profesi literary agent sendiri masih langka.


    Literary agent menghubungkan antara penulis dan penerbit. Atas usahanya, mereka mendapatkan komisi sekitar dua hingga 2,5 persen dari nilai jual tulisan pada penerbit.


    Selama ini, parameter yang digunakan untuk mengukur minat/budaya baca adalah jumlah tiras seluruh surat kabar per kapita penduduk dan jumlah judul buku baru yang diterbitkan. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan UNESCO Statistical Year Book 1993 yang dilansir Tiras 10 Mei 1996 berjudul Indonesiaku Kurang Buku menunjukkan tiga kenyataan. Pertama, 84 persen penduduk kita melek huruf padahal rata-rata Negara berkembang hanya 69 persen.


    Kedua, jumlah tiras seluruh surat kabar hanya 2,8 persen dari jumlah penduduk. Indeks minimal UNESCO sekitar 10 persen sementara di negara industri mencapai 30 persen.


    Ketiga, jumlah buku baru yang diterbitkan 0,0009 persen dari total penduduk yang artinya 9 judul buku baru untuk setiap sejuta penduduk. Rata-rata negara berkembang 55 per satu juta penduduk. Negara maju 513 judul buku per satu juta penduduk (Daniel Dhakidae, 1997;187).


    Dari data statisitik di atas dapat kita temui sebuah kenyataan, melek huruf ternyata tidak selalu mempunyai korelasi yang positif terhadap tingkat perkembangan jumlah buku dan media baca lainnya. Menanggapi kenyataan ini, Ignas Kleden (dalam alfons, 1999; 9) membedakan melek huruf menjadi tiga kategori.

    Pertama, mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca tetapi secara fungsional dan secara budaya sebetulnya buta-huruf. Kedua, mereka yang tergolong membaca dan menulis adalah sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi sangat kurang sekali menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi melalui tulisan.



    Menulis Butuh Latihan


    Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk menjadi penulis, seseorang harus memiliki bakat khusus. Namun, banyak penulis yang tida sepakat akan anggapan tersebut. Menurut William Faulkner, penulis Amerika, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen yang terkait dengan faktor bakat.


    Sedangkan menurut Putu Wijaya, salah satu penulis ternama Indonesia, faktor bakat berpengaruh tak lebih dari 5 persen. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.


    Pada dasarnya, menulis bukanlah hal yang sulit. Setiap orang, terlebih yang pernah mengenyam pendidikan, pastilah pernah bahkan sering menulis. Mungkin awalnya hanya menyalin catatan dari guru atau dosen, menulis catatan harian, selanjutnya akan mengarang, menulis opini, hingga membuat sebuah buku.


    "Menulis itu ibarat ngomong, orang ngomong adalah orang yang tengah mengatur kata-kata., ekspresi, dan melihat efek. Kata-kata disetel sedemikian rupa agar cocok dengan lawan bicara. Ekspresi dikemas begitu rupa supaya orang tahu kita tengah bersusah payah menampakkan keseriusan. Setiap habis kita ngomong. Kita suka melihat apa efeknya. Jika orang melengos, kita merasa gagal. Berbeda dengan lawan bicara yang langsung mengiba-iba meminta kita terus ngomong. Ini artinya, tiap kata yang keluar dari mulut kita, berkenan. Ekspresi kita saat membawakan kata-kata, pas dengan greget yang dia mau." Itulah yang diungkapkan Septiawan Santana K dalam bukunya yang berjudul Menulis Itu Ibarat Ngomong.


    Walaupun menulis itu ibarat ngomong, tetap butuh latihan untuk membuat orang ingin terus membaca tulisan kita. Budaya menulis belum begitu digalakkan di Indonesia. Namun tak ada salahnya jika kita mulai membudayakan menulis mulai dari diri sendiri.

    dimuat di Harian Global (3 Agustus 2009)
    |


  2. 0 comments:

    Posting Komentar