Rss Feed
  1. Karena Aku Wanita

    Jumat, 04 September 2009

    Aku

    Siang itu kamu duduk di depanku. Aku melihat matamu. Aku kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disana. Cahaya yang selama ini membuatku ikut bersinar. Kamu sedang menceritakan sesuatu, tapi aku tak mendengarnya. Karena aku tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kau pilih untuk selalu menemanimu.
    Aku membiarkanmu terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritamu. Aku terlalu sibuk menatap wajahmu. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungmu masih sekecil dulu, bibirmu masih tipis, ada satu jerawat baru di dahimu. Jerawat itu eksotis, aku menyukainya. Tapi ada yang beda dengan matamu, sendu….sayu….layu.
    Mata itu mulai memerah, tapi aku tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mata itu. Sebentar lagi…di hitungan ke lima aku yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatimu, juga hatiku. Aku mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata aku salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganku samapai ke angka satu.
    Aku tak tau apa yang membuatmu menangis, karena aku memang tak ingin tau. Yang ada di benakku saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanmu. Aku membiarkan pundakku basah karena air matamu.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” katamu. Tatapan matamu seakan menanyakan pendapatku. Kalau aku boleh teriak dan berkata jujur, aku pasti dengan cepat menyetujui keputusanmu. Karena itu akan baik buatku. Tapi dengan terpaksa, aku berpura-pura menanyakan alasanmu.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabmu.
    Mendengar itu, terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranku. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinku ingin bertanya apa maksudmu. Tapi kuurungkan niatku untuk menanyakan itu. Aku yakin kau sudah menjelaskannya tadi. Saat aku sibuk menatap wajahmu.
    Kau memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengannya. Dia…yang membuatku selalu cemburu. Jujur…aku sangat bahagia mendengar keputusan itu, tapi aku menderita melihat raut wajahmu.
    Aku memang mencintaimu, sejak dulu… dan hanya kamu. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan aku memilih untuk mencintaimu. Sekarang, kau tak lagi bersamanya. Tapi aku tetap tak berani menyatakan perasaanku. Aku takut kecewa karena melihatmu kecewa.

    X X X
    Aku

    Namanya Della, ia sahabatku. Sejak kecil kami selalu bersama. Dia lemah, penakut, cengeng, dan sangat sensitif. Aku selalu melindunginya, menjaganya, dan selalu ada untuknya. Aku mencitainya sejak dulu…sejak kami masih kelas dua SMP. Sejak aku dihianati pacar pertamaku. Tapi ia tak pernah menyadari itu. Aku sering mengatakan “I Love you” begitu juga dengan nya. Tapi maksudnya berbeda dengan maksudku. Aku mencintainya lebih dari yang dia tau.


    Della

    Siang itu aku duduk di depanmu. Kau melihat mataku. Aku tahu, kau kecewa karena cahaya itu tak lagi ada disini. Cahaya yang selama ini membuatmu ikut bersinar. Aku sedang menceritakan sesuatu, tapi sepertinya kau tak mendengarkanku. Karena kau tahu, semua itu pasti tentang dia. Dia yang kupilih untuk selalu menemaniku.
    Kau membiarkanku terus bercerita, tanpa tahu apa isi ceritaku. Kau terlalu sibuk menatap wajahku. Memperhatikan setiap detilnya. Hidungku masih sekecil dulu, bibirku masih tipis, ada satu jerawat baru di dahiku. Jerawat itu eksotis, kau menyukainya. Tapi ada yang beda dengan mataku, sendu….sayu….layu. Itulah yang kurasakan ada dalam pikiranmu.
    Mataku mulai memerah, tapi kau tetap menatapnya. Perlahan ada genangan air yang akan segera tumpah di mataku. Sebentar lagi…pikirmu, di hitungan ke lima kau yakin air itu akan menjadi air bah yang menghancurkan hatiku, juga hatimu. Kau mencoba hitung mundur. Lima…empat…tiga…ternyata kau salah, genangan air itu jatuh sebelum hitunganmu sampai ke angka satu.
    Kau tak tau apa yang membuatku menangis, karena kau memang tak ingin tau. Yang ada di benakmu saat ini hanyalah bagaimana cara menenangkanku. Kau membiarkan pundakmu basah karena air mataku.
    “Aku ingin mengakhiri semuanya,” kataku. Tatapan mataku seakan menanyakan pendapatmu. Kalau kau boleh teriak dan berkata jujur, kau pasti dengan cepat menyetujui keputusanku. Karena itu akan baik buatmu. Tapi dengan terpaksa, kau berpura-pura menanyakan alasanku.
    “Aku enggak mau terjebak dalam kemunafikan,” jawabku.
    Mendengar itu, aku tahu terlintas nama Soe Hok Gie di pikiranmu. “Lebih baik diasingkan dari pada terjebak dalam kemunafikan.” Sontak, batinmu pasti bertanya apa maksudku. Tapi kauurungkan niatmu untuk menanyakan itu. Kau yakin aku sudah menjelaskannya tadi. Saat kau sibuk menatap wajahku.
    Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Dia…yang membuatmu selalu cemburu. Jujurlah…kau pasti sangat bahagia mendengar keputusan ku, tapi kau menderita melihat raut wajahku.
    Kau memang mencintaiku, sejak dulu… dan hanya aku. Walau sampai saat ini tak ada satu orang pun yang tau. Hidup adalah pilihan…dan kau memilih untuk mencintaiku. Sekarang, aku tak lagi bersamanya. Tapi kau tetap tak berani menyatakan perasaanmu. Kau takut kecewa karena melihatku kecewa.

    X X X

    Aku

    Sejak kau tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku mulai melihat cahaya itu dimatamu. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kurasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Kau menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya kau lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Kau hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutmu. Aku diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawaban yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Kau hanya tersenyum manis mendengar jawabanku. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan aku selalu ada untuk kamu.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali aku merangkulmu, mengacak rambutmu, dan mencubit pipimu.
    Della…seandainya kamu tahu apa yang kurasakan. Seandainya kita bisa bersama. Tapi takdir akan selalu menentang kita. Aku tak siap kehilanganmu, karena kenyataan ini akan menjadi tamparan berat buatmu. Biarlah aku pada rasaku sendiri dan aku cukup bahagia dengan keadaan seperti ini.
    X X X

    Della

    Sejak aku tak lagi bersamanya, kita banyak melewatkan waktu bersama. Liburan ke luar kota, karaokean, atau sekedar makan di luar. Aku yakin kau mulai melihat cahaya itu dimataku. Kau terlihat sangat bahagia, begitu juga aku. Kebahagiaan yang sudah lama hilang. Namun kini kembali kita rasakan.
    Malam itu kita memutuskan untuk dinner di salah satu warung sate di emperan jalan. Aku menginginkan keramaian. Hal yang sangat tidak biasa. Biasanya aku lebih suka makan di tempat yang sepi. Tak peduli makanannya enak atau tidak. Aku hanya tak mau ada orang lain.
    “Kenapa kamu selalu ada buat aku?” pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Kau diam sejenak. “Karena Tuhan menginginkan itu,” jawabmu. Aku tersenyum manis mendengar jawabanmu. Yah… aku harap Tuhan memang benar-benar menginginkan kau selalu ada untukku.
    Kita menghabiskan empat piring sate malam itu. Tak peduli berapa lemak yang kita konsumsi, aku menikmatinya. Kita tertawa begitu lepas, seakan tak pernah ada beban yang menimpa. Sesekali kau merangkulku, mengacak rambutku, dan mencubit pipiku.
    Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak dulu, jauh sebelum kau merasakannya. Tapi aku tak mau melawan takdir, kita pasti akan kalah. Aku pun memutuskan untuk mengikuti takdir. Mencoba untuk mencintai orang lain. Dan aku selalu gagal untuk mencintai mereka. Aku tidak bisa mencintai mereka. Karena aku mencintaimu.
    X X X

    Aku

    Pukul 6 pagi kau kerumahku. Membangunkanku dari tidur yang baru kumulai pukul 5 pagi. Berat rasanya untuk membuka mata yang baru saja terpejam. Berkali-kali kau teriak, mengguncang-guncang badanku hingga memukulku dengan bantal. Aku sadar, tapi aku malas membuka mata. Kau pun menyerah dan memilih ikut merebahkan badan disampingku. Dalam hati aku tersenyum.
    Sejenak aku tak mendengar suara. Namun tiba-tiba kau memelukku dari belakang. Aku diam saja. Menikmati kehangatan itu. Semakin lama pelukanmu semakit erat. Jujur, aku sedikit sesak, tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap lekuk tubuhmu yang menyatu denganku. Aku merasa sangat hangat.
    Perlahan, kau menciumi leherku, pipiku, hingga bibirku. Aku terkejut, tapi tetap diam. Di satu sisi aku bertanya-tanya ada apa denganmu? Tapi di sisi lain, aku menikmati itu. “Aku mencintaimu,” bisikmu di telingaku. Sontak aku membuka mata dan bangkit dari tidurku. Dengan wajah kaget aku masih memandangmu heran. “Maafkan aku, tapi aku memang mencintaimu, aku mencintaimu seperti ibu mencintai ayah,” sambungmu. Aku masih diam. Belum bisa berkata apa-apa.
    “Aku enggak pernah bisa mencintai orang lain, aku cuma mau kamu,” ujarmu dengan air mata yang berlinang. Aku memelukmu, tak mau melihatmu menangis lagi. Jika aku bisa, aku akan selalu ada untuk kamu. Jika aku bisa, aku pasti terus jaga kamu. Jika aku bisa, aku mau jadi suamimu. Aku mau mencintaimu seperti Ibu mencintai Ayah, atau seperti Ayah mencintai Ibu. Tapi sayang…aku enggak bisa, dan tidak akan pernah bisa. Karena aku juga wanita, sama seperti kamu.
    |


  2. 0 comments:

    Posting Komentar