Rss Feed
  1. Tentang Merawat Harapan Part #2

    Selasa, 05 Juni 2012




    Aku mengenal Harapan dua tahun lalu, ketika aku dan Harapan sama-sama dikhianati kenyataan. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Kepadaku ia ceritakan segala sesuatu. Aku dan Harapan bergantian menjadi telinga. 

    Sejak saat itu, aku putuskan untuk merawat Harapan. Menjaganya bersama semua benda yang aku simpan di rumah. Sesekali Harapan ke luar rumah. Berjalan sendirian atau terkadang berlari bersama teman lamanya. Tapi ia tak pernah lupa pulang. Harapan selalu membukakan pintu untukku. Harapan tak pernah absen membangunkanku dari tidur. Ia juga yang mengantarku ke tempat tidur. 


    Ingin sekali aku meninggalkan Harapan, memilih untuk berhenti merawatnya. Membiarkan ia sendiri. Menunggu ia tumbuh besar menjadi kenyataan atau mungkin melihatnya mati ditelan malam. 

    Pernah aku meninggalkan Harapan barang sejenak. Pergi ke pantai untuk melepas penat. Harapan aku tinggal di rumah. 

    Pantai memberiku ketenangan. Tapi tak lama. Ombak besar tiba-tiba datang ketika aku sedang bercengkrama bersama pantai. Kembali aku rindukan Harapan. Aku pulang ke rumah, ingin memeluknya dan berjanji tak akan lagi membiarkannya sendiri. Sampai di rumah, tak lagi kutemukan Harapan. Harapan sudah tak ada.

    Kini, hanya ada aku. Tanpa Harapan.
    |


  2. 0 comments:

    Posting Komentar