Rss Feed
  1. Mari membangun kampung halaman sendiri! Begitulah seruan dari Raja Inal Siregar di tahun pertama ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Sebuah konsep yang dulu sempat populer dan kini masih diingat.


    Senin, 5 September 2005, Hotmaria Siregar yang saat itu berusia 37 tahun sedang mengendarai mobilnya menyusuri padatnya jalanan Kota Jakarta untuk menjemput anaknya dari play group. Dari radio di dalam mobilnya, ia dengar berita tentang jatuhnya pesawat Mandala Airlines yang membawa Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Rizal Nurdin dan mantan Gubernur Sumut. Pesawat itu gagal lepas landas dari Bandara Polonia ketika ingin menuju Jakarta.
     


    Butet—sapaan akrab Hotmaria—terkejut, tapi karena berita itu tak menyebutkan nama si mantan gubernur, ia berharap besar kalau itu bukan ayahnya. “Semoga itu bukan papa,” batinnya. Tapi harapan itu pupus. Mantan Gubernur Sumut yang bersama Tengku Rizal Nurdin itu adalah ayahnya, Raja Inal Siregar. Luka bakar yang hebat memang membuat jasad sulit dikenali. Tapi ikat pinggang yang tercetak inisial RIS dan jam tangan merk rolex membuat jasad Raja Inal dikenali.
     

    Selasa, 6 September 2005. Sejak pagi, rumah duka di Jalan Masdulhak, Medan sudah dipenuhi keluarga, kerabat, teman dan warga yang ingin mengantarkan jasad Raja Inal Siregar ke peristirahatan terakhir. Tangisan semakin menjadi ketika peti jenazah dibawa menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Bukit Barisan, tempat jasad akan dikebumikan. Butet merangkul ibunya, Yuniar Pane yang tak kuasa menahan air mata.
     

    Raja Inal Siregar lahir di Medan pada 5 Maret 1938. Ia anak dari Kario Siregar dan Rodiah Hutasuhut. Tahun 1961, ia menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer. Desa Ampat, Kalimantan Tengah menjadi tempat di mana ia memulai karier militernya. Ia juga pernah bertugas di Purwokerto, Makassar, Aceh dan Siliwangi.
     

    Tahun 1988, ia dipercaya untuk memimpin Sumatera Utara. Di tahun inilah, tepatnya pada 1 Mei 1988 konsep Marsipature Hutana Be ia lontarkan di Tanjung Ibus. Konsep ini ditujukan kepada putra-putri daerah yang merantau dan sudah sukses di perantauan untuk kemudian ingat dan ikut membangun kampung halamannya. Sebuah konsep pembangunan regional yang menjadikan putra daerah sebagai garda terdepan daerah.
     

    Gagasan tersebut sekaligus dimaksudkan sebagai upaya mendorong terwujudnya keseimbangan pembangunan pantai Barat. Saat itu, pantai Barat dianggap masih tertinggal dibandingkan dengan pantai Timur. Fasilitas infrastruktur di pantai Timur relatif lebih maju kala itu.
     

    Raja Inal percaya, perantau memiliki banyak keunggulan dibandingkan kaum kerabatnya yang hanya bermukim di kampung halaman. Kaum perantauan dinilai lebih berpendidikan, kaya, ulet dan banyak pengalaman. Itu sebabnya, mereka harus menjadi motor gerakan Marispature Hutana Be. Potensi perantau yang besar itu harus mereka sumbangkan kepada orang tuanya, kaum kerabatnya dan para penduduk kampungnya tanpa kecuali. Gagasan tersebut mendapat dukungan hampir dari semua tokoh umat beragama, tokoh adat, kalangan pemuda dan yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari media massa juga perguruan tinggi.
     

    Tahun 1996, Raja Inal juga mendirikan SMA Plus Marsipature Hutanabe di Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Sekolah ini didirikannya bersama dengan masyarakat Tapanuli Selatan. SMA ini adalah satu-satunya SMA yang berstatus Plus di Tapanuli selatan. Awalnya pihak yayasan memberikan fasilitas gratis bagi siswa-siswi yang diterima di sekolah ini. Banyak fasilitas yg disediakan seperti asrama, seragam, biaya makan dan lain-lain yang diberikan gratis. Fasilitas gratis yang disediakan tidak mudah untuk didapatkan begitu saja, karena butuh perjuangan lebih untuk diterima di sekolah ini.
     

    Para siswa yang ingin masuk harus diseleksi ketat terlebih dahulu. Proses sleksi dilakukan melalui dua tahapan, pertama adalah seleksi administrasi. Pada sleksi administrasi, siswa yang berperingkat 10 besar selama SMP dari kelas 1 sampai kelas 3 saja yang bisa lolos seleksi administrasi. Tahapan kedua adalah seleksi tes potensi akademik, psikotes, kesemaptaan, kesehatan dan wawancara.
    ***
    Hotmaria Siregar adalah putri sulung Raja Inal, itu sebabnya ia dipanggil Butet. Selain Butet, ia juga meninggalkan dua putri dan satu putra, Riri Rosalina Siregar, Yuriandi Siregar dan si bungsu Siri Yulita Siregar.
     

    Layaknya seorang ayah, Raja Inal juga sangat perhatian pada anak-anaknya. Hal yang paling diingat Butet adalah suatu ketika ia akan melahirkan anak pertamanya di Rumah Sakit Asih, Jakarta, Januari 1998 silam. Dengan sabar, Raja Inal menunggu kelahiran cucu pertamanya. Saat menunggu, ia juga tak segan-segan untuk makan di warung tegal yang tak jauh dari rumah sakit. “Papa memang orang yang sederhana,” kenang Butet.
     

    Dalam mendidik anak, Raja Inal sedikit lebih toleran atas kesalahan-kesalahan yang dibuat anak-anaknya. Sifat ini dianggap Butet bisa mengimbangi ibunya yang sangat tegas dan disiplin. Raja Inal biasanya cenderung lebih memahami. Pernah suatu ketika, ketika Butet dan adiknya Riri memilih menjadi ibu rumah tangga, padahal keduanya sarjana dari UI dan ITB. Raja Inal sempat kecewa. “Kalau cuma jadi ibu rumah tangga, buat apa kuliah di PTN,” ungkap Raja Inal pada Butet waktu itu.
     

    Butet jelaskan keinginannya merawat anaknya sendiri. “Seperti yang mama lakukan pada kami semasa kecil,” katanya. Raja Inal luluh. Ia lalu meminta Butet untuk konsisten merawat anaknya sampai usia anaknya enam tahun.

    *Dimuat di Kover Magazine Edisi Juni 2012
    |


  2. 2 comments:

    1. Sangat terharu ito, membaca kisah yang yterkesan begitu singkat tapi terasa panjang karena kesan yang sudah digariskan bapak RIS di hati seluruh rakyat SUMUT (khususnya kaum Batak).

      Marsipature huta be, adalah semangat putra-putri Batak Rantau - Batak Diaspora dalam cinta yang dalam akan kampung halamannya (rumah ibadahnya baik Mesjid dan Gereja, dll) yang diwujudkan dengan membangun kampung secara materi dan non-materi (motivator dan siap membawa sanak-saudara ke rantau-jauh untuk menggali ilmu dan mencari kehidupan yang mapan dan bermatabat).

      Sangat bangga akan motto, MSHB (Mar Sipature Hutana Be)ini.

      Horas

    2. Terimakasih ito Butet (Hotmaria Siregar), dipanggil ito karena Sinaga dan Siregar adalah bersaudara sebagai anak/keturunan dari Si Raja Lontung.

      Terimakasih Tabula Rasa.
      Maju terus dan berkarya serta berekspresi.

      Salam

    Posting Komentar