Rss Feed
  1. Semasa hidupnya, ia seorang dermawan. Banyak uang ia sumbangkan untuk pembangunan Kota Medan kala itu. Ia pun menghargai perbedaan. Tak pernah ia membeda-bedakan ras, bangsa, suku, agama ataupun asal-usul. Itu sebabnya ia dikenang. Meski sudah lebih dari satu abad setelah kepergiannya. Nama dan kisah hidupnya akan menjadi cerita turun temurun di kota ini.

    Tahun 1875, seorang pemuda dari Desa Moy Hian di Daratan Cina datang ke Tanah Deli. Pemuda 18 tahun itu bernama Tjong A Fie. Ia hanya punya sepuluh perak uang manchu. Uang-uang itu terjahit di ikat pinggangnya. Sebagai pendatang asing yang miskin, ia coba mengadu nasib ke pesisir Timur Sumatera. Menyusul kakaknya, Tjong Yong Hian yang sudah limah tahun merantau di Tanah Deli.


    Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya yang sudah tua, memiliki toko kelontong. Di toko itulah ia bekerja sebelumnya dan terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya. Meski hanya berpendidikan seadanya, ia bisa menguasai kiat-kiat dagang dengan cepat dan membuat maju usaha ayahnya.

    Tapi, Tjong A Fie punya cita-cita lain, ia ingin menjadi manusia terpandang. Tekad inilah yang mendorongnya meninggalkan kampung halamannya, mengadu nasib di perantauan untuk mencari kekayaan dan menjadi apa yang ia cita-citakan.

    Di Tanah Deli pun, ia tak mau menggantungkan hidup pada kakaknya yang sudah menjadi Letnan dan berhasil memupuk kekayaan. Tjong A Fie kemudian bekerja di toko kelontong milik teman kakaknya. Di toko itu, ia kerjakan macam-macam. Ia memegang buku, melayani pelanggan, menagih hutang dan lain-lain. Ia juga mulai belajar Bahasa Melayu, bahasa pergaulan di Tanah Deli kala itu.

    Tjong A Fie bukanlah pemuda yang suka mabuk-mabukan, judi, atau pelacuran. Ia tumbuh menjadi sosok yang tangguh. Beberapa kali ia menengahi percekcokan antara etnis Tionghoa dan etnis lain. Tak jarang juga ia diminta Belanda untuk mengatasi keributan kalangan buruh di perkebunan milik Belanda.

    Karena kemampuannya itu, Tjong A Fie lalu diagkat menjadi Letnan Tionghoa dan pindah ke Medan. Tahun 1911, ia diangkat sebagai Kapitan Cina (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya yang telah meninggal dunia. Kala itu, Major adalah istilah yang diberikan oleh pihak Belanda sebagai penjajah di Kota Medan kepada seorang pemimpin masyarakat atau etnis tertentu.

    Semasa menjadi seorang Major , Tjong A Fie berhasil mendirikan Bank Kesawan. Bank ini adalah cikal-bakal penyimpanan uang di Kota Medan. Ia juga membangun sarana pendidikan, rumah sakit, rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya. Hubungannya dengan Sultan Deli—yang menguasai Tanah Deli kala itu—pun cukup baik. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasehat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.

    Tjong A Fie menguasai bidang ekonomi dan politik. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api. Sultan juga memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau antara lain untuk pembuatan bangsal. Tjong A Fie menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga mengembangkan usahanya di bidang perkebunan teh di Bandar Baroe, di samping perkebunan teh si Boelan.

    Di Sumatera Barat, ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan di Sawah Lunto, Bukit Tinggi. Ia mempekerjakan lebih dari 10.000 orang di perkebunannya. Bahkan, ketika itu pemerintah Belanda memberikan 17 kebun kepadanya untuk dikelola.

    Dalam menjalankan bisnisnya, Tjong A Fie selalu mengamalkan tiga hal; jujur, setia dan bersatu. Ia selau berprinsip "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Ia pun selalu membagikan lima persen keuntungan kepada para pekerjanya.

    Peninggalan Tjong A Fie

    Untuk memudahkan transportasi antar wilayah di Kota Medan pada masa itu, Tjong A Fie dan kakaknya—sebelum meninggal—membangun jembatan di Jalan Zainul Arifin. Jembatan itu sekarang dikenal dengan sebutan jembatan kebajikan. Ia juga mencetuskan ide pembangunan jalur kereta api Medan-Belawan untuk memudahkan akses masyarkat.

    Mesjid Lama di Jalan Bengkok pun dibangun oleh Tjong A Fie. Kala itu, masyarakat Muslim meminta pembangunan mesjid untuk tempat ibadah. Permintaan itu pun disetujui dan dibiayai sepenuhnya oleh Tjong A Fie. Saat ini, Mesjid Lama lebih dikenal dengan nama Mesjid Gang Bengkok. Tjong A Fie juga membantu pembangunan Istana Maimun, yang merupakana istana kesultanan Deli.

    4 Februari 1921, Tjong A Fie menghembuskannafas terakhirnya, disebabkan pendarahan di otak atau yang dalam istilah medis dikenal dengan apopleksia. Ribuan orang datang melayat. Tak hanya dari Medan, tapi juga Aceh, Padang, Jawa, Malaya, Penang dan Singapura. Pemakamannya berlangsung megah.

    Empat bulan sebelum kepergiaanya ia sempat berpesan agar seluruh kekayaannya diberikan kepada Yayasan Toen Moek Tong. Yayasan itu harus didirikan di Medan. Ia menuliskan permintaannya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan pada pemuda berbakat dan berkelakuan baik yang ingin menyelesaikan pendidikan. Bantuan harus diberikan tanpa membedakan agama, ras, suku, ataupun asal usul. ia juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis.

    Begitulah sosok Tjong A Fie. Saat ini, jika ingin melihatnya lebih dekat, kita bisa mengnjungi rumahnya di Jalan Kesawan. Rumah tua yang didirikan pada tahun 1900 itu terpelihara hingga kini. Rumah itu dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute atau dikenal juga dengan nama Tjong A Fie Mansion. Mungkin tak berlebihan bila saya katakan, Tjong A Fie adalah sosok yang 'tak pernah mati'.

    *Dimuat di Kover Magazine edisi Juli
    |


  2. 2 comments:

    1. Lapak Medan mengatakan...

      sangat menairk mengenai tjong a fie

    2. Pin Pin mengatakan...

      Jika boleh saya beri saran, sebaiknya sumber dari beritanya dimuat juga, agar lebih lengkap bagi yang membutuhkan tambahan bacaan. Terima kasih

    Posting Komentar